Jepang dan Taiwan Bagikan Kiat Sukses Tekan Kasus Skrining Kanker Kolorektal
Ahli dari Jepang dan Taiwan membagikan strategi sukses menekan kasus skrining kanker kolorektal di The 3rd Gastrointestinal Oncology Summit 2026. Temukan pendekatan inovatif dan tantangan Indonesia.
Ahli kesehatan dari Jepang dan Taiwan berbagi pengalaman serta strategi sukses mereka dalam menekan angka kasus kanker kolorektal. Diskusi ini berlangsung dalam ajang The 3rd Gastrointestinal Oncology Summit 2026 di Jakarta pada Sabtu lalu. Para pakar menyoroti pentingnya skrining dini dan sistem terintegrasi untuk hasil optimal.
Prof. Takahisa Matsuda dari Jepang dan Prof. Han-Mo Chiu dari Taiwan mempresentasikan metode yang telah terbukti efektif di negara masing-masing. Pendekatan ini mencakup penggunaan Fecal Immunochemical Test (FIT) dan kolonoskopi lanjutan. Mereka juga membahas tantangan implementasi yang relevan bagi Indonesia.
Indonesia, dengan populasi besar dan wilayah luas, menghadapi kendala serupa dalam penanganan kanker kolorektal. Rekomendasi dari pertemuan ini diharapkan dapat menjadi panduan. Ini termasuk implementasi bertahap program FIT dan peningkatan kapasitas kolonoskopi di fasilitas kesehatan.
Strategi Skrining Kanker Kolorektal dari Jepang dan Taiwan
Jepang telah berhasil menerapkan skrining tahunan menggunakan Fecal Immunochemical Test (FIT) sejak usia 40 tahun. Metode ini dianggap sebagai langkah awal yang paling realistis dan berbasis bukti terkait penanganan kanker kolorektal. Keunggulan FIT meliputi biaya rendah, sifat non-invasif, dan skalabilitas yang tinggi.
Prof. Takahisa Matsuda memaparkan bahwa FIT terbukti menurunkan mortalitas. Namun, tantangan utama di Jepang adalah kepatuhan pasien untuk menjalani kolonoskopi diagnostik lanjutan. Sekitar 30 persen individu dengan hasil FIT positif tidak melanjutkan ke kolonoskopi lanjutan.
Berbeda dengan Jepang, Taiwan mengadopsi program skrining terstruktur dengan FIT dua tahunan sejak tahun 2004. Program ini berhasil menurunkan mortalitas kanker kolorektal sebesar 35 persen. Selain itu, insiden kanker stadium lanjut pada peserta skrining juga berkurang 29 persen.
Prof. Han-Mo Chiu menekankan bahwa keberhasilan program Taiwan didukung oleh koordinasi sistemik yang terintegrasi. Ini mencakup sistem call-recall, standardisasi laporan patologi, dan pengawasan kualitas kolonoskopi yang ketat. Sejak 2025, Taiwan bahkan menurunkan usia inisiasi skrining menjadi 45 tahun karena peningkatan insiden early-onset CRC.
Tantangan dan Rekomendasi untuk Penanganan Kanker Kolorektal di Indonesia
Kepala Human Cancer Research Centre (HCRC) Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. DR Dr Murdani Abdullah, menyoroti keterbatasan kapasitas kolonoskopi di Indonesia. Dengan populasi 281 juta jiwa dan wilayah yang sangat luas, akses terhadap prosedur ini masih sangat terbatas.
Prof. Murdani mengusulkan strategi bertahap untuk mengatasi keterbatasan ini. Pendekatan yang disarankan meliputi proyek percontohan FIT di fasilitas kesehatan primer. Kolonoskopi dapat terkonsentrasi di rumah sakit tingkat kabupaten/kota, didukung penguatan sistem rujukan digital.
The 3rd Gastrointestinal Oncology Summit 2026 menghasilkan beberapa rekomendasi penting. Ini termasuk implementasi bertahap program FIT terstruktur, dimulai dari wilayah percontohan. Peningkatan kapasitas dan mutu kolonoskopi juga menjadi prioritas utama.
Rekomendasi lain mencakup integrasi data dan registri nasional untuk pemantauan yang lebih baik. Edukasi massal dan inovasi digital diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Selain itu, stratifikasi risiko melalui sistem scoring seperti model 8-point dari Jepang dapat memprioritaskan pasien berisiko tinggi untuk kolonoskopi.
Sumber: AntaraNews