Inovasi Dinkes Pangkep Perluas CKG dengan Perahu Sehat Pulau Bahagia
Dinas Kesehatan Pangkep meluncurkan beragam inovasi, termasuk program Perahu Sehat Pulau Bahagia (PSBB), untuk memperluas jangkauan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di wilayah kepulauan yang menantang, memastikan layanan kesehatan lebih merata.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) terus menggencarkan berbagai inovasi guna memperluas cakupan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Salah satu terobosan utamanya adalah Perahu Sehat Pulau Bahagia (PSBB) yang dirancang khusus untuk melayani masyarakat di daerah kepulauan.
Kepala Dinkes Pangkep, Herlina, dalam konferensi pers bersama Kementerian Kesehatan di Jakarta, Jumat, menjelaskan bahwa wilayah Pangkep memiliki topografi yang unik. Daerah ini meliputi 13 kecamatan dengan karakteristik pegunungan, dataran rendah, dan kepulauan yang tersebar luas.
Program PSBB menjadi solusi krusial untuk mengatasi tantangan aksesibilitas kesehatan di pulau-pulau terpencil, di mana transportasi umum menuju puskesmas sangat terbatas. Inisiatif ini bertujuan memastikan setiap warga mendapatkan layanan kesehatan yang layak tanpa terkendala geografis.
Perahu Sehat Pulau Bahagia: Solusi Akses Kesehatan di Kepulauan
Herlina menjelaskan bahwa di Pangkep, terdapat dua kecamatan pegunungan yang dilayani oleh dua puskesmas, tujuh kecamatan dataran rendah dengan 14 puskesmas, dan empat kecamatan kepulauan yang memiliki tujuh puskesmas. Khusus untuk daerah kepulauan, Pangkep memiliki lebih dari 100 pulau, dengan sekitar 80 pulau di antaranya berpenghuni yang menjadi sasaran layanan tujuh puskesmas tersebut.
Awalnya, program PSBB dilaksanakan menggunakan dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), namun hal ini membatasi frekuensi kunjungan puskesmas menjadi hanya satu kali per pulau dalam setahun. Untuk meningkatkan jangkauan, Dinkes Pangkep melakukan pendekatan kepada para kepala desa setempat.
Pendekatan ini membuahkan hasil positif, di mana banyak kepala desa bersedia membantu menyediakan alat transportasi untuk tim puskesmas. Bahkan, dukungan meluas hingga penyediaan makan dan minum bagi petugas saat kunjungan, memungkinkan kunjungan ke daerah kepulauan meningkat menjadi empat kali setahun.
Perubahan signifikan juga terjadi dalam pelaksanaan CKG. Dahulu, tim puskesmas yang terdiri dari dokter, bidan, perawat, tenaga kefarmasian, dan ahli kesehatan lingkungan hanya memeriksa warga yang merasa tidak sehat. Namun, dengan adanya CKG, semua masyarakat diajak untuk melakukan pemeriksaan, tidak hanya yang sakit, sehingga jumlah partisipan jauh lebih banyak.
Sijagai dan Inovasi Lainnya untuk Layanan Kesehatan Merata
Selain PSBB, Dinkes Pangkep juga menjalankan sejumlah inovasi lain untuk memperluas cakupan program CKG, salah satunya dengan menggabungkannya pada program Sijagai. Herlina menuturkan, program Sijagai bermula dari keprihatinan Bupati Pangkep melihat banyak masyarakat sakit yang tetap di rumah karena kendala transportasi kesehatan.
Melalui program Sijagai, masyarakat miskin yang sakit di rumah akan dijemput oleh petugas kesehatan. Pada saat penjemputan anggota keluarga yang sakit, anggota keluarga lainnya juga diberikan skrining kesehatan. Inovasi ini memastikan tidak ada warga yang terlewat dari pelayanan kesehatan esensial.
Inovasi lain yang dilakukan Dinkes Pangkep meliputi penggabungan CKG dengan tes kebugaran bagi aparatur sipil negara (ASN), kunjungan langsung ke rumah-rumah warga, serta pelaksanaan posyandu remaja. Pendekatan multi-sektoral ini bertujuan untuk menjangkau berbagai lapisan masyarakat dengan kebutuhan yang berbeda.
Berdasarkan hasil CKG yang telah dilaksanakan di Kabupaten Pangkep, kondisi kesehatan terbanyak yang ditemukan adalah karies gigi dan hipertensi. Penemuan ini memberikan data penting bagi Dinkes untuk merumuskan program pencegahan dan penanganan yang lebih tepat sasaran di masa mendatang.
Sumber: AntaraNews