Dinkes Banjarmasin Perluas Program Cek Kesehatan Gratis, Sasar Skrining Kesehatan Jiwa Siswa SMA
Dinas Kesehatan Banjarmasin memperluas cakupan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dengan fokus pada skrining kesehatan jiwa siswa SMA, mengungkap temuan yang perlu perhatian serius bagi generasi muda.
Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mengambil langkah progresif dengan memperluas cakupan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto. Inisiatif ini kini tidak hanya menyasar masyarakat umum, tetapi juga secara aktif menjangkau lingkungan sekolah.
Perluasan program ini difokuskan pada skrining kesehatan jiwa bagi para siswa, khususnya di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat di wilayah Banjarmasin. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam memastikan kesehatan fisik dan mental generasi muda.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Muhammad Ramadhan, menyatakan bahwa perluasan ini merupakan respons terhadap tantangan kesehatan pelajar yang semakin kompleks. Program CKG bertujuan untuk melakukan mitigasi preventif, deteksi dini, dan edukasi kesehatan sejak usia sekolah.
Perluasan Cakupan Program CKG dan Sistem Jemput Bola
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang merupakan bagian dari komitmen Presiden Prabowo Subianto, terus digalakkan oleh Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin. Jika pada tahun sebelumnya program ini lebih banyak menyasar pemeriksaan kesehatan fisik, kini fokusnya diperkaya dengan skrining kesehatan jiwa.
Muhammad Ramadhan menjelaskan bahwa sistem "jemput bola" tetap menjadi strategi utama dalam pelaksanaan CKG di sekolah-sekolah. Para tenaga kesehatan secara langsung mendatangi institusi pendidikan, mulai dari tingkat SD hingga SMA, untuk melakukan pemeriksaan kesehatan komprehensif.
Perluasan cakupan ini menandai keseriusan pemerintah dalam mengidentifikasi dan menangani masalah kesehatan pelajar secara holistik. Dengan demikian, diharapkan tidak ada lagi kasus kesehatan yang terlewatkan pada usia dini.
Temuan Skrining Kesehatan Jiwa Siswa SMA yang Mengkhawatirkan
Dalam skrining kesehatan jiwa yang dilakukan terhadap 167 siswa SMA sederajat di Banjarmasin, ditemukan beberapa hasil yang cukup mengkhawatirkan. Data menunjukkan bahwa 117 siswa atau sekitar 70 persen tidak menunjukkan gejala gangguan jiwa.
Namun, sebanyak 33 siswa atau 20 persen teridentifikasi menunjukkan gejala ringan gangguan jiwa, dan 17 siswa atau 17 persen menunjukkan gejala berat. Temuan ini menjadi perhatian serius bagi Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin.
Ramadhan menekankan bahwa persoalan kesehatan pelajar tidak lagi hanya sebatas penyakit ringan, tetapi telah berkembang ke arah penyakit tidak menular yang berisiko jangka panjang, termasuk isu kesehatan jiwa. Hasil CKG ini akan menjadi dasar untuk tindak lanjut yang lebih intensif.
Pentingnya Deteksi Dini dan Edukasi Kesehatan Sejak Dini
Program CKG dirancang sebagai upaya mitigasi preventif dan deteksi dini untuk melindungi generasi masa depan Indonesia. Melalui program ini, siswa dapat lebih awal mengetahui kondisi kesehatannya, baik fisik maupun mental, sehingga penanganan dapat segera dilakukan.
Edukasi kesehatan juga menjadi pilar penting dalam CKG, membekali siswa dengan pengetahuan untuk menjaga diri. Ramadhan berharap, dengan deteksi dini dan intervensi yang tepat, anak-anak dapat tumbuh sehat secara fisik dan mental.
Capaian program CKG pada tahun 2025 menunjukkan angka partisipasi yang cukup baik. Untuk jenjang SD mencapai 56,9 persen, SMP 56,2 persen, dan SMA 50,4 persen.
Penyakit Fisik Umum yang Ditemukan pada Pelajar
Selain fokus pada kesehatan jiwa, program CKG juga terus mengidentifikasi berbagai penyakit fisik yang umum diderita oleh pelajar. Dari hasil pemeriksaan, ditemukan sejumlah penyakit terbanyak pada jenjang SD, SMP, dan SMA.
Penyakit-penyakit tersebut meliputi karies gigi, anemia, diabetes melitus (DM) tipe 2, prahipertensi, dan scabies. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin dan edukasi pola hidup sehat.
Data ini menjadi acuan bagi Dinas Kesehatan untuk merancang program intervensi yang lebih tepat sasaran. Tujuannya adalah untuk mengurangi prevalensi penyakit-penyakit ini di kalangan pelajar dan meningkatkan kualitas kesehatan mereka secara keseluruhan.
Sumber: AntaraNews