Kemenkes Soroti Pentingnya Intervensi Menyeluruh Kesehatan Lansia
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyoroti urgensi intervensi menyeluruh kesehatan lansia, didukung temuan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan studi Health, Aging, and Retirement in Thailand (HART). Pendekatan multisektoral sangat dibutuhkan untuk menjaga kual
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menekankan pentingnya intervensi kesehatan yang menyeluruh, berkelanjutan, dan multisektoral untuk menjaga kesehatan lansia. Hal ini didasarkan pada temuan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta studi Health, Aging, and Retirement in Thailand (HART).
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa Indonesia dan Thailand menghadapi tantangan serupa dalam penuaan penduduk. Populasi lanjut usia bertambah pesat di tengah perubahan sosial dan ekonomi, sementara gaya hidup modern meningkatkan risiko penyakit tidak menular.
Indonesia telah membangun infrastruktur skrining yang luas melalui program CKG, yang memanfaatkan akses digital dan layanan primer. Program ini dirancang untuk menjangkau seluruh siklus hidup, termasuk lansia, sehingga memberikan peluang nyata untuk menerapkan intervensi pencegahan yang lebih terintegrasi.
Tantangan Penuaan Penduduk dan Capaian Skrining CKG
Indonesia, seperti halnya Thailand, sedang menghadapi era penuaan penduduk yang signifikan. Peningkatan jumlah lansia membawa serta tantangan kesehatan yang kompleks, terutama terkait dengan prevalensi penyakit tidak menular yang dipicu oleh pola hidup modern. Oleh karena itu, skrining kesehatan menjadi krusial untuk deteksi dini dan pencegahan.
Program CKG Kemenkes telah menunjukkan capaian yang besar dalam menjangkau populasi lansia. Imran Pambudi mengungkapkan bahwa CKG telah dilakukan pada sekitar 6 juta lansia, atau sekitar 35,5 persen dari target 16,9 juta lansia. Angka ini menunjukkan jangkauan yang luas, namun masih perlu diperluas untuk mencapai cakupan penuh.
Meskipun demikian, hasil skrining CKG juga mengidentifikasi tantangan klinis yang nyata pada kelompok lansia. Data ini menjadi dasar penting bagi Kemenkes untuk merancang strategi intervensi yang lebih efektif dan tepat sasaran di masa mendatang.
Mengungkap Beban Masalah Fungsional dan Kognitif Lansia
Temuan geriatri dari skrining CKG mengungkapkan beban masalah fungsional dan kognitif yang signifikan pada lansia. Dari 1.579.475 pemeriksaan Skrining Lansia Sederhana (SKILAS) mobilitas, ditemukan 1.020.936 kasus gangguan mobilitas. Sementara itu, dari 992.277 pemeriksaan SKILAS kognitif, 339.559 orang menunjukkan gangguan kognitif.
Selain gangguan mobilitas dan kognitif, pemeriksaan malnutrisi, depresi, serta penilaian aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL) juga mengidentifikasi ribuan lansia yang memerlukan tindak lanjut klinis dan sosial. Data ini mengindikasikan perlunya perhatian serius terhadap berbagai aspek kesehatan lansia.
Studi longitudinal nasional Health, Aging, and Retirement in Thailand (HART) yang dipimpin oleh Dr. Shahmir H. Ali turut memperkuat temuan ini. Studi tersebut menunjukkan peningkatan beban penyakit kardiovaskular antara tahun 2015 dan 2022. Analisis terhadap lebih dari delapan ribu orang dewasa berusia 45 tahun ke atas menunjukkan bahwa risiko penyakit jantung tidak hanya ditentukan oleh satu kebiasaan buruk, melainkan akumulasi beberapa perilaku tidak sehat yang saling berinteraksi.
Strategi Intervensi Komprehensif Pasca-Skrining
Imran Pambudi menyatakan bahwa menggabungkan pelajaran dari studi HART dan data CKG memberikan gambaran jelas mengenai arah intervensi yang diperlukan. Karena risiko kardiovaskular dan masalah fungsional pada lansia sering muncul dari kombinasi faktor seperti aktivitas fisik rendah, pola makan buruk, gangguan tidur, stres, dan kondisi kronis, program pencegahan harus dirancang sebagai paket terpadu.
Platform CKG sudah ideal untuk deteksi awal dan rujukan, namun pengalaman HART menunjukkan bahwa diagnosis atau skrining saja jarang memicu perubahan perilaku berkelanjutan. Oleh karena itu, setelah skrining, diperlukan jalur tindak lanjut yang sistematis. Ini mencakup konseling gaya hidup berkelanjutan, intervensi nutrisi bagi yang berisiko malnutrisi, layanan kesehatan mental, serta program berhenti merokok dan manajemen stres yang terintegrasi dengan layanan primer.
Selain itu, kapasitas puskesmas dan mitra layanan harus diperkuat agar dapat memberikan intervensi perilaku yang efektif dan memantau hasilnya. Pelatihan tenaga kesehatan dalam pendekatan geriatri, penggunaan modul SKILAS, serta keterampilan konseling perilaku akan meningkatkan kualitas tindak lanjut. Kemenkes juga menekankan pentingnya inklusi digital dan jalur pendaftaran multi-channel, seperti aplikasi SATUSEHAT, chatbot WhatsApp, dan pendaftaran bantuan di puskesmas, agar skrining dan tindak lanjut dapat diakses oleh lansia yang kurang melek teknologi.
Pemanfaatan Data dan Pendekatan Multisektoral untuk Lansia Sehat
Data yang dikumpulkan oleh CKG harus dimanfaatkan secara strategis untuk menargetkan intervensi. Provinsi atau komunitas dengan prevalensi gangguan mobilitas atau kognitif tinggi dapat diprioritaskan untuk program rehabilitasi, pelatihan pengasuh, dan modifikasi lingkungan yang lebih aman bagi lansia.
Menambahkan modul biomarker atau perangkat pengukur pada sebagian sampel, serta menghubungkan data skrining dengan rekam medis dan registri nasional, akan memungkinkan evaluasi dampak intervensi jangka panjang. Langkah ini juga direkomendasikan oleh tim HART untuk memperdalam bukti dan mendukung kebijakan berbasis data.
Pendekatan multisektoral juga diperlukan untuk mengatasi determinan sosial kesehatan lansia. Intervensi yang efektif tidak hanya berasal dari layanan kesehatan, tetapi juga mencakup perencanaan kota yang menyediakan ruang publik aman untuk aktivitas fisik. Program pangan lokal yang mendukung pola makan sehat, serta dukungan sosial dan ekonomi untuk keluarga pengasuh, akan memperbesar peluang lansia tetap sehat dan mandiri.
Imran Pambudi menegaskan bahwa perubahan kecil yang dilakukan bersama, seperti meningkatkan aktivitas fisik, tidur lebih teratur, mengelola stres, berhenti merokok, dan memperbaiki pola makan, akan lebih ampuh bila didukung oleh sistem skrining yang menjangkau luas dan layanan tindak lanjut yang nyata.
Sumber: AntaraNews