Innalillahi wa Innailaihi Rojiun, Mahfud MD Berduka
Ibunda tercinta Mahfud MD, Siti Khadijah meninggal dunia di usia 94 tahun pada Jumat pagi.
Kabar duka datang dari Mahfud MD. Ibunda tercinta, Siti Khadijah meninggal dunia di usia 94 tahun. Kabar duka tersebut, diunggah Mahfud di akun instagram pribadinya @mohmahfudmd, Jumat (17/1).
Mahfud mengunggah foto sedang mencium tangan ibundanya yang tengah duduk di sofa dan mengenakan kerudung warna ungu, baju berwarna biru.
Dalam unggahan itu juga, Mahfud menuliskan sebuah kalimat begitu menyentuh. Mahfud terkejut dengan kepergian ibunya.
"Bu, kepergianmu menghadap Sang Khalik ba’da shubuh pada Jumat pagi ini mengagetkan anakmu. Tentu saya menangis, tetapi terus berdoa dan membaca surat Yasin untukmu, surat dalam Qur’an yang engkau hafal dan selalu baca," tulis Mahfud.
Di mata Mahfud, ibunya merupakan sosok wanita yang hebat dalam mengurus keluarga.
"Temuilah ayahku, abah Mahmudin, yang adalah suamimu. Beritahu pada ayah bahwa tugasmu menemani anak-anak dan cucu-cucu sudah selesai. Ayah pasti menyambutmu dengan senyum dan sabar seperti yang biasa ditunjukkannya selama hidupnya kepada kita," ucapnya.
"Namamu Siti Khadijah, semoga nasibmu di akhirat diterima oleh Allah seperti Ibu kaum muslimin Siti Khadidjah yang isteri Nabiyullah Muhammad Sallallahu alaihi wa sallam. Engkau seorang Ibu yang hebat, selalu membimbing dan menyinari rumah kami. Hidupmu sederhana dan selalu jujur," sambung Mahfud.
Kenangan Mahfud
Mahfud sempat mengungkap kenangannya bersama ibunda saat masih hidup. Suatu hari dia sakit, tetapi sang ibu berbohong kepadanya. Hingga perjuangan ibunya untuk membiayai sekolah Mahfud ke kota.
"Tapi engkau Ibu pernah tak jujur kepadaku. Ketika aku sedang sakit, engkau selalu duduk di tepi tempat tidurku sampai tengah malam. Ketika ditanya, “Apa Ibu tidak mengantuk? Tidak capek?” tanyaku. “Tidak nak, saya tidak capek”, jawabmu sambil mengompres dahiku dengan handuk hangat," ucap Mahfud mengenang.
"Ketika aku akan melanjutkan sekolah ke kota engkau jual perhiasanmu, gelang dan kalungmu, untuk biaya sekolah dan kostku. Engkau bilang, ini untuk biaya sekolahmu, rajinlah belajar, jangan lupa salatmu," tambah dia.
Mahfud berjanji tak mau berlama-lama larut dalam kesedihan. Dia hanya berjanji akan terus mengenang dan memdoakan ibunda tercinta.
"Selamat jalan Ibu, kami tak akan terlalu lama menangisi kepergianmu, tetapi kami akan terus mengenangmu dan berdoa untuk kebaikanmu di sana. Salam kepada ayahku, abah Mahmudin yang sudah lama menunggumu di sana," tutup Mahfud.