Mahfud MD: Polri Tak Tepat Bergaya Militeristik karena Tugasnya Mengayomi, Melayani dan Melindungi
Menurutnya, orientasi utama Polri adalah pelayanan kepada masyarakat, bukan pendekatan ala militer.
Anggota Komisi Percepatan Reformasi Polri (KPRP), Mahfud MD, menegaskan bahwa institusi kepolisian tidak tepat mengadopsi gaya militeristik. Menurutnya, orientasi utama Polri adalah pelayanan kepada masyarakat, bukan pendekatan ala militer.
"Polri tidak tepat jika bergaya militeristik karena orientasinya adalah pelayanan masyarakat," ujar Mahfud dalam konferensi pers terkait rekomendasi KPRP di kawasan Dharmaswangsa Jakarta Selatan, Rabu (6/5/2026).
Mahfud menekankan bahwa tidak ada yang salah dengan gaya militer. Namun, ia mengingatkan bahwa istilah militerisme dan militeristik memiliki makna berbeda dan tidak bisa disamakan begitu saja.
“Gaya militer itu salah atau tidak? Tidak. Tapi tidak tepat untuk Polri,” kata Mahfud.
Ia menjelaskan bahwa militer berkaitan erat dengan fungsi pertahanan negara, yang menuntut sistem komando ketat, disiplin tinggi, serta dalam kondisi tertentu bersifat represif.
“Pertahanan itu sifatnya komando yang ketat, harus taat perintah atasan dan dalam situasi tertentu bersifat represif,” jelasnya.
Tugas Polri Berbeda dengan Militer
Lebih lanjut, Mahfud menegaskan bahwa mandat Polri berbeda secara fundamental dengan militer. Kepolisian bertugas mengayomi, melayani, dan melindungi masyarakat, sehingga pendekatan militeristik dinilai tidak relevan.
“Itu tidak cocok untuk Polri yang tugasnya mengayomi, melayani, melindungi, dan sebagainya,” kata Mahfud.
“Seperti saya, tidak boleh memakai baju polisi. Sama, polisi bergaya militer itu tidak cocok saja, bukan karena militernya jelek,” sambungnya.
Dalam kerangka reformasi, KPRP mendorong Polri untuk tampil sebagai institusi yang humanis dan dekat dengan masyarakat. Mahfud menyebut polisi harus menjadi sosok “protagonis” di tengah publik.
“Polisi harus menjadi protagonis, disenangi masyarakat, bersahabat, demokratis, dan transparan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar citra Polri tidak bergeser menjadi sebaliknya.
“Jangan sampai polisi berubah dari protagonis menjadi antagonis, karena sekarang banyak yang mulai dipersepsikan seperti itu,” sambungnya.