Gegap Gempita Teras Cihampelas, Dulu jadi Ikon Wisata Bandung Kini Mati Suri
Dahulu, Teras Cihampelas digadang-gadang sebagai inovasi infrastruktur kota sekaligus magnet wisata
Di atas Jalan Cihampelas Kota Bandung, terbentang jalur pedestrian dengan konsep skywalk. Itulah Teras Cihampelas, yang dulu digadang-gadang sebagai inovasi infrastruktur kota sekaligus magnet wisata. Tapi kini, bak mati suri.
Di sepanjang jalur itu, dinding-dinding dipenuhi coretan cat semprot tak bertuan. Sejumlah fasilitas seperti lift tak berfungsi dan tampak lusuh.
Tak banyak lalu-lalang manusia. Hanya angin menyapu kursi-kursi yang kebanyakan kosong juga kios-kios dan lapak dagang yang tutup.
Kendati begitu, memang masih ada sejumlah pedagang yang berjualan. Mereka menjadi saksi hidup bagaimana tempat ini pernah menjadi magnet bagi wisatawan.
“Yang paling membekas di ingatan saya itu dulu pengunjung ramai sekali, malahan sampai sering ada anak terpisah dari orang tuanya,” kenang Nana (54), salah satu pedagang Teras Cihampelas, saat ditemui Minggu (1/6)
Ia lalu bercerita tentang bagaimana pos informasi yang kini mati dulu tak semata aktif mengumumkan barang hilang, tapi juga anak-anak yang terpisah dari orang tuanya lewat pengeras suara.
Nana sendiri mengaku pernah mengantar seorang bocah lelaki yang mengalami nasib itu ke pos informasi. Sendirian dan menangis, bocah itu kebingungan tak tahu di mana ibunya.
“Ibunya mungkin lagi beli makan atau apa, si anaknya jalan ke mana. Saya tanya, dia bilang cari mamahnya. Akhirnya saya bawa ke pos informasi, diumumkan di speaker. Enggak lama, ibunya datang sambil nangis-nangis, karena katanya udah cari ke mana-mana juga sampai ke bawah skywalk” tutur pedagang mi dan minuman ringan itu.
Masa-Masa Kejayaan Teras Cihampelas
Kisah seperti itu, menurutnya, sering terjadi karena pengunjung memang sangat padat. “Dulu mah ramai orang berjubel. Pedagang juga semangat. Enggak ada yang buka siang. Sebelum jam delapan pagi juga udah pada buka.”
Namun, semua itu tinggal cerita dari masa awal beroperasinya Teras Cihampelas yang diresmikan pada Februari 2017 oleh Ridwan Kamil saat menjabat sebagai Wali Kota Bandung. Masa-masa kejayaan itu, kata Nana, berlangsung hingga sekitar 2 tahun kemudian.
Teras Cihampelas awalnya dibangun untuk menampung para pedagang kaki lima yang semula memenuhi trotoar di Jalan Cihampelas. Disertai sejumlah fasilitas rekreasi termasuk spot foto, hiburan, hingga taman dan ruang ruang terbuka, jembatan ikonik itu pun sukses menggaet banyak pengunjung.
Ketika itu, menurut Nana pengunjung yang datang tak hanya warga sekitar atau luar kota saja, melainkan juga wisatawan dari negeri tetangga seperti Singapura dan Malaysia, bahkan kawasan Jazirah. Oleh karena itu, banyak pedagang yang semangat berdagang sebab usahanya ditaksir pasti cuan.
Namun sekarang, pedagang yang bertahan hanya tersisa sekitar 30 orang. Itupun hanya berjualan saat akhir pekan.
“Sekarang mah sehari lima puluh ribu juga susah. Jadi saya jualan sekarang bukan ngejar laba, tapi minimal balik dulu aja modal,” katanya.
Alasan dia bertahan jualan pun bukan karena optimisme, tapi karena kebutuhan. Ia pun mengaku kangen masa-masa ketika area pedestrian ikonik itu selalu ramai serupa pada malam.
“Soal pas Teras Cihampelas masih ramai, pastilah semua pedagang merasa kangen,” ucap dia sembari tersenyum pahit.
“Kebanyakan yang sekarang masih buka adalah pedagang lama semua. Karena ya, kata saya tadi, kegiatan lain di rumah enggak ada, tapi kebutuhan sehari-hari kan mesti diusahakan terus,” ungkapnya.
Sepi Sejak Covid-19
Menurut Nana, Teras Cihampelas berubah sepi secara drastis setelah pandemi Covid 19. Namun, sebelum masa sulit itu, dia bilang kegiatan jual beli dan lain-lain telah berangsur lesu.
Sejumlah upaya pun pernah dilakukan para pedagang agar geliat di Teras Cihampelas tak padam sepenuhnya. Sayang, hasilnya masih jauh dari harapan, tak mampu menarik kembali antusiasme pengunjung.
“Kita pernah bikin live musik, ada juga komunitas hewan, tapi ya tetap secara keseluruhan sepi,” kata dia.
Kini, konsumen tatap para pedagang hanya mengandalkan karyawan Ciwalk atau pekerja sekitar yang naik ke atas saat istirahat. “Kalau enggak ada mereka, mungkin enggak ada yang beli,” ujarnya.
Ia mengaku sempat mendengar akan ada revitalisasi Teras Cihampelas oleh Pemerintah. Hanya saja, kata Nana dirinya belum melihat pergerakan yang konkret dan berkelanjutan.
“Harapannya ya, kios-kios ini dibenahi dulu. Fasilitasnya dirapikan. Biar pengunjung datang juga nyaman, yang jualan juga senang,” katanya.
Sementara itu, Dina (31), warga Bandung, menyayangkan kondisi teras Cihampelas yang kini baginya terkesan tak terurus. Padahal, lokasinya menurut dia amat strategis.
Dulu, katanya, ia sering mampir ke Teras Cihampelas karena bekerja di area bawah kawasan itu. Kini, ia hanya datang karena ingin kebetulan lewat saat hendak nonton bioskop di Ciwalk bersama jagoan kecilnya, Rauvan (9).
“Sayang, ya. Karena kondisinya sekarang terkesan enggak keurus. Banyak fasilitas yang udah rusak,” ujar Dina.
“Padahal enaknya main ke daerah sini hawanya masih cukup dingin ya khas Bandung, masih deket juga ke mana-mana,” imbuh dia.
Anak-anak muda pun mengungkapkan hal serupa. Rafli dan Fahri, dua remaja kelas 2 SMP yang mengaku sesekali main ke sana, menyayangkan kondisi Teras Cihampelas yang terlihat tak terawat. Namun mereka tampak cukup betah duduk-duduk di sana, sembari bermain gim di ponselnya.
“Masih enaknya karena adem, enak sih buat nongkrong,” ujar Rafli.
“Sayang kondisinya kurang terawat, soalnya ada banyak sampah dan botol pecah,” kata mereka.
Rencana Revitalisasi Teras Cihampelas
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung sejak beberapa pekan ke belakang kembali mencanangkan akan melakukan revitalisasi Teras Cihampelas, guna menggerakkan roda ekonomi di kawasan tersebut.
"Gubernur sempat menyampaikan keinginan untuk menata kembali Teras Cihampelas. Tentu ini menjadi catatan penting agar penataan ke depan lebih fungsional, inklusif, dan sesuai dengan aspirasi warga," ujar Wakil Walikota Bandung, Erwin, saat membuka Workshop Placemaking Teras Cihampelas yang digelar di Gedung Arsitektur ITB beberapa waktu lalu, dikutip dari rilis Pemkot Bandung Minggu (1/6).
Dalam kesempatan tersebut, Erwin juga mengungkap bahwa pihaknya akan melakukan sejumlah evaluasi terkait masalah di Teras Cihampelas. Acara yang digelar bersama Japan Foundation bekerja, Malaysia Placemaking, Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB itu pun ia harapkan dapat jadi momentum penting untuk menggali potensi ruang publik Kota Bandung, khususnya Teras Cihampelas.
“Insya Allah, hasil workshop ini akan kami bawa ke forum-forum pembangunan kota agar tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi diwujudkan dalam kebijakan nyata," tegas Erwin.