Begini Tanggapan Warga Terkait Rencana Pembongkaran Teras Cihampelas Bandung
Kawasan Teras Cihampelas sempat ramai pengunjung pada awal pembukaannya. Namun, kondisi tersebut perlahan menurun, terutama sejak pandemi COVID-19.
Pemerintah Kota Bandung berencana melakukan pembongkaran terhadap sebagian kawasan Teras Cihampelas. Itu menyusul adanya persoalan pada aspek keamanan berdasarkan kajian teknis berupa loading test dan absennya Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) maupun Sertifikat Laik Fungsi (SLF) yang sah.
Meski tak seterkenal dulu, masih ada masyarakat yang berkunjung ke kawasan pedestrian berkonsep skywalk tersebut, baik hanya sekadar untuk makan, maupun menghabiskan waktu bersama keluarga seperti yang dilakukan Cecep asal Garut. Ia mengaku kedatangannya ke Teras Cihampelas, dalam rangka berwisata bersama istri dan anaknya.
"Kalau buat saya secara pribadi enak tempatnya ketika mau menenangkan diri karena kan adem berada di atas jalan. Nyaman juga mungkin karena tidak begitu ramai jadi enak buat santai," kata Cecep kepada dijumpai wartawan di Teras Cihampelas, Rabu (17/12).
Cecep mengaku bukan kali pertama menyambangi Teras Cihampelas. Namun, ia belum sempat mencoba sejumlah fasilitas yang ada di kawasan tersebut seperti lift dan toilet yang kini kondisinya rusak. Meski begitu, ia merasa agak menyayangkan jika dilakukan pembongkaran. Ia berharap tempat ini bisa kembali ramai.
“Kalau bisa diramaikan, karena ini kan buat perekonomian masyarakat. Kalau rame siapa tahu saya juga bisa ikut jualan di sini," tuturnya.
Sementara itu, pengunjung lainnya, Maya dan Mala, dua wanita paruh baya, tak memungkiri kawasan Teras Cihampelas kian kemari kian mengkhawatirkan.
Menurut Mira, sekitar tiga tahun ke belakang kawasan tersebut masih ramai oleh pedagang. Namun kini telah sepi dengan kondisi fasilitas yang mengalami kerusakan.
Ia pun merasa prihatin akan kondisi tersebut. Namun, soal adanya rencana pembongkaran, ia berpendapat rencana itu wajar belaka.
"Karena kalau dari segi perekonomian juga kayanya udah susah yah kurang ramai," ucap dia.
Respons Pedagang
Di sisi lain, masih ada sejumlah pedagang yang masih berupaya bertahan. Salah satunya Deni.
Awalnya, ia berjualan di depan salah satu toko pakaian di Jalan Cihampelas. Deni kemudian direlokasi ke kawasan Teras Cihampelas agar arus lalu lintas di jalan bawah menjadi lebih lancar.
Deni menuturkan, kawasan Teras Cihampelas sempat ramai pengunjung pada awal pembukaannya. Namun, kondisi tersebut perlahan menurun, terutama sejak pandemi COVID-19. Jika sebelumnya jumlah pedagang mencapai puluhan, kini hanya tersisa sekitar 14 lapak yang mayoritas menjual makanan.
“Banyak yang beli paling dari pekerja sekitar misal dari mal atau hotel. Sisanya ada pengunjung beberapa sama pelajar sih yang suka main,” paparnya.
Ia mengaku masih bertahan berjualan karena tidak ada pungutan biaya di kawasan tersebut. Pada awalnya, pedagang dikenakan iuran kebersihan sebesar Rp10 ribu per hari. Namun saat ini, pungutan tersebut sudah ditiadakan seiring dengan minimnya jumlah pengunjung.
Terkait rencana pembongkaran sebagian fasilitas, Deni menilai kondisi kawasan tahap kedua sudah sangat tidak terawat. Di area tersebut tidak lagi ada pedagang yang berjualan, sementara fasilitasnya justru lebih banyak mengalami kerusakan dibandingkan kawasan tahap pertama.
“Kayu-kayu lantai juga rusak karena suka ada yang main skateboard di sana, jadi pada patah,” ungkap Deni.
Rencana Dibongkar
Diberitakan sebelumnya, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan sempat menolak usulan pembongkaran Teras Cihampelas dari Gubernur Jabar Dedi Mulyadi. Namun kini, ia mengungkap rencana pembongkaran sebagian area skywalk ikonik tersebut.
Rencana ini menyusul adanya persoalan pada aspek keamanan berdasarkan kajian teknis berupa loading test dan absennya Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) maupun Sertifikat Laik Fungsi (SLF) yang sah.
"Kalau hasil loading test resmi itu menunjukkan hasil yang kurang dari 100 persen, maka saya punya alasan untuk membongkar. Karena sampai hari ini Teras Cihampelas itu tidak punya PBG dan tidak punya SLF asli," kata Farhan, dikutip Selasa (16/12).
Ia menilai terdapat sejumlah persoalan serius pada keberadaan Teras Cihampelas, yang dibangun dengan anggaran puluhan miliar rupiah dalam dua tahap pada periode 2016–2019. Farhan, yang mengaku sebagai orang awam, menyebut kondisi bangunan tersebut secara visual tampak kurang layak.
Namun begitu, pembongkaran Farhan akui tak bisa begitu saja dieksekusi. Pemkot Bandung akan terlebih dulu melakukan kajian yang nantinya bakal diajukan kepada Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKA) guna persetujuan hukum.
"Kita lagi penelitian dulu. Kalau penelitiannya sah, benar, bisa diakui secara hukum, kita ajukan kepada Badan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, apakah boleh dibongkar atau tidak," kata dia.