Ekonomi Warga Terpukul, Deretan Toko di Palestina Rata Tanah Akibat Proyek Jalan Israel
Pernyataan Israel mengenai isu ini tidak sejalan dengan pendapat otoritas Palestina.
Buldoser Israel telah menghancurkan banyak toko milik warga Palestina di pinggiran sebuah kota di tenggara Yerusalem pada minggu ini.
Penggusuran ini dilakukan untuk menyediakan lahan bagi proyek jalan yang berkaitan dengan permukiman Israel di Tepi Barat yang sedang diduduki.
Meskipun Israel mengklaim bahwa pembongkaran tersebut bertujuan untuk membuka lahan pembangunan jalan baru yang akan digunakan oleh warga Palestina, pejabat Palestina menyatakan bahwa jalan tersebut sebenarnya merupakan jalur pengalihan.
Jalur yang dirancang agar kendaraan warga Palestina tidak lagi melewati jalan utama baru yang sedang dibangun Israel untuk menghubungkan permukiman-permukiman Israel di sekitarnya dengan Yerusalem.
Proyek ini merupakan bagian dari kawasan strategis di Tepi Barat yang dikenal sebagai E1, yang mana Israel mengembangkannya dengan tujuan untuk mencegah terbentuknya negara Palestina.
"Toko-toko yang dihancurkan adalah lokasi tempat Israel berencana membangun jalan baru yang akan mengalihkan seluruh lalu lintas Palestina ke jalan tersebut sehingga mereka dapat menutup seluruh wilayah E1 bagi warga Palestina," ungkap Hagit Ofran, direktur kelompok antipermukiman Peace Now, seperti yang dilansir oleh Associated Press.
Pada Selasa (12/5/2026), pembongkaran dilaksanakan di Kota al-Eizariya, hanya beberapa hari setelah sejumlah pemilik toko menerima pemberitahuan untuk mengosongkan tempat usaha mereka yang dibangun tanpa izin.
Bahkan meskipun para pengacara telah mengajukan banding hingga ke Mahkamah Agung Israel, proses pembongkaran tetap dilanjutkan.
Otoritas Israel berpendapat bahwa bangunan-bangunan tersebut, yang mencakup tempat pencucian mobil, toko besi tua, dan kios sayuran, dibangun secara ilegal.
Mereka menegaskan bahwa para pemilik telah diperingatkan selama bertahun-tahun mengenai kemungkinan penertiban.
COGAT, badan militer Israel yang bertanggung jawab atas urusan sipil di Tepi Barat, menyatakan bahwa bangunan-bangunan itu menghalangi pembangunan jalan yang direncanakan untuk menghubungkan kota-kota Palestina.
Kehilangan Akses dan Penghasilan
Israel mengklaim bahwa sistem jalan baru yang mereka rencanakan bertujuan untuk mengurangi kemacetan dan meningkatkan kualitas hidup warga Palestina di daerah tersebut.
Namun, kelompok hak asasi manusia dan Otoritas Palestina yang didukung oleh komunitas internasional menegaskan bahwa pembongkaran yang dilakukan berkaitan dengan upaya Israel untuk mengubah sistem transportasi dan menciptakan jaringan jalan yang terpisah bagi pemegang identitas Israel dan Palestina.
Mereka berpendapat bahwa jalan terowongan dan jalur pengalihan yang direncanakan Israel akan mengalihkan lalu lintas Palestina dari jalan utama yang menghubungkan pemukiman di Tepi Barat dengan Yerusalem, sehingga secara praktis memutus akses pengendara Palestina dari sebagian besar wilayah tersebut.
Beberapa toko yang dihancurkan memang menghalangi trotoar dan akses jalan menuju kota.
Meskipun demikian, warga Palestina mengungkapkan bahwa mendapatkan izin pembangunan yang layak dari otoritas Israel hampir tidak mungkin, sedangkan pemukiman Israel terus berkembang dengan pesat.
Mohammad Abu Ghalieh, seorang pemilik toko berusia 48 tahun, mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam karena harus memulai segalanya dari nol setelah pembongkaran tersebut.
"Empat puluh delapan tahun saya bekerja siang dan malam untuk membangun sesuatu bagi anak-anak dan keluarga saya, lalu dalam satu hari satu malam semuanya hilang," ungkapnya.
Daoud al-Jahalin, kepala dewan desa setempat, menambahkan bahwa lebih dari 200 keluarga akan kehilangan sumber pendapatan mereka akibat tindakan ini.
Proyek E1 menjadi sangat kontroversial karena membentang dari pinggiran Yerusalem hingga jauh ke dalam wilayah Tepi Barat yang diduduki, memisahkan kota Ramallah dan Bethlehem, serta menghambat pergerakan warga Palestina dari utara ke selatan.
Baik para pemimpin Israel maupun pengkritik permukiman sepakat bahwa rencana E1 akan menyulitkan upaya pembentukan negara Palestina yang berkelanjutan di Tepi Barat. Israel berencana untuk membangun sekitar 3.500 unit apartemen di dekat permukiman Maale Adumim yang sudah ada.
Perlu dicatat bahwa Israel merebut Tepi Barat dalam perang Timur Tengah tahun 1967, dan komunitas internasional secara luas menganggap pembangunan permukiman Israel di wilayah pendudukan tersebut ilegal dan menjadi penghalang bagi perdamaian.