Dunia Herbal Sudah Diminati Anak Muda
Masyarakat Bali selain melakukan pengobatan ke dokter juga memilih pengobatan tradisional ke tokoh agama atau pedande.
Bali, selain dikenal dengan pemandangan alamnya yang indah, budaya dan tradisi yang unik maupun kuliner khasnya, juga menyimpan kekayaan alam yang bisa diolah untuk menjadi produk kecantikan, kebugaran dan kesehatan tradisional seperti jamu, minyak oles hingga lulur tradisional.
Ketua Dewan Jamu Indonesia Daniel Tjen saat menghadiri perayaan 1st Anniversary Sanga-Sanga di Gianyar Bali pada Selasa 13 Mei 2025 lalu mengatakan, Bali memiliki kearifan lokal di bidang kesehatan tradisional. Menurutnya, masyarakat Bali selain melakukan pengobatan ke dokter juga memilih pengobatan tradisional ke tokoh agama atau pedande.
"Memang itu sesuai dengan filosofi jamu Jampi Usada. Jampi itu asal katanya jampi, mantra, blessing. Jadi dari dulu memang sudah ada nilai-nilai ghoib, supranatural yang ada d seluruh wilayah Indonesia," kata Daniel Tjen.
Perkembangan obat herbal di Indonesia dari sisi bahan baku berbasis alami mengalami kemajuan. Saat ini terdapat 40 ribu jenis tanaman yang potensial dikembangkan menjadi bahan baku obat herbal.
Menurutnya, "Ini potensi yang harus kita tumbuh kembangkan, jika tidak akan dimanfaatkan orang lain," ucapnya.
Dikatakan Daniel Tjen, data belanja obat-obatan per tahun mencapai Rp1 Triliun. 90 persen bahan baku obat di beli dari luar, yang berarti devisa negara keluar sebesar Rp 98 triliun.
Hal yang sama juga disampaikan Founder Top Coach Indonesia Tom MC Ifle. Menurutnya sejak merebaknya pandemi covid 19 masyarakat memilih kesehatan yang tidak berhubungan dengan kimia, melainkan lebih memilih obat alternatif seperti obat herbal.
"Setelah pandemi kebanyakan orang memilih obat alternatif, seperti obat tetes, vitamin, obat herbal sehingga booming gara-gara pandemi untuk meningkatkan daya tahan tubuh, karena banyak pengaruh bahwa obat kimia itu tidak baik," jelas Tom.
Obat Herbal Kekinian
Ia menyoroti, saat ini pasar obat herbal mulai diambil alih oleh generasi muda. Pasalnya saat ini muncul berbagai macam obat herbal kekinian. Seperti jamu kekinian, kunyit asem, hingga minyak oles beraoma terapi.
"Sebagai contoh kutus-kutus atau sanga-sanga memproduksi minyak yang aromanya tidak seperti jamu lagi," ucapnya.
Dikatakan Tom, digitalisasi, internet dan reseller menjadi faktor munculnya generasi muda sebagi pengguna jamu atau obat tradisional pasca pandemi hingga sekarang.
Menyikapi satu tahun perayaan Sanga Sanga yang berhasil melakukan transformasi dari Kutus Kutus, praktisi bisnis yang juga ahli Herbal Prof Rhenald Kasali PhD, menyebut sudah berada di jalur yang tepat untuk menghadapi perlambatan ekonomi global dan tantangan daya beli masyarakat.
Menurut Rhenald, Sanga-Sanga memiliki peluang besar untuk terus tumbuh, terlebih dengan strategi promosi dan distribusi yang menyasar pasar premium dan skema komisi besar untuk para reseller.
“Nama Sanga-Sanga harus terus diperkenalkan agar produk-produknya lebih dikenal luas. Dengan strategi yang tepat, perusahaan bisa tetap tumbuh meski daya beli masyarakat menurun,” ujarnya.
Ia menambahkan, Bali bisa menjadi pusat promosi efektif untuk produk-produk Sanga-Sanga. “Orang Bali bisa menjadi agen pemasaran yang luar biasa. Bali juga dikenal secara global, ini harus dimanfaatkan untuk menjangkau pasar dunia,” katanya.