Menapaki Usia 75 Tahun, Sido Muncul Perkuat Komitmen Mutu dan Keamanan Produk
Menapaki usia 75 tahun, Sido Muncul menegaskan komitmen menjaga mutu dan keamanan produk lewat riset ilmiah demi kepercayaan konsumen.
Kepercayaan konsumen tidak pernah dibangun dalam semalam. Bagi PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) yang akan memasuki usia ke- 75 tahun pada November mendatang kepercayaan itu lahir dari perjalanan panjang, keputusan yang konsisten, dan keberanian untuk berpijak pada sains jauh sebelum isu keamanan produk herbal ramai diperbincangkan.
Perjalanan Sido Muncul bermula dari usaha jamu rumahan yang dirintis oleh Ibu Rahkmat Sulistio di Yogyakarta pada tahun 1930. Saat itu, jamu dibuat dalam bentuk racikan tradisional yang kemudian berkembang menjadi jamu godokan pada tahun 1940, mengikuti kebutuhan masyarakat pada masanya.
Perkembangan usaha tersebut berlanjut hingga akhirnya Sido Muncul resmi didirikan pada tahun 1951, dan tumbuh menjadi salah satu produsen jamu dan obat herbal di Indonesia.Tonggak inovasi penting terjadi pada tahun 1992, ketika Sido Muncul menghadirkan Tolak Angin dalam bentuk cair siap minum yang dikemas dalam sachet.
Inovasi ini menjadikan jamu lebih praktis, higienis, dan mudah dibawa ke mana saja, sehingga dapat dikonsumsi oleh masyarakat dengan mobilitas tinggi.Seiring dengan perkembangan tersebut, Sido Muncul terus menjaga mutu dan keamanan produknya melalui pendekatan ilmiah.
Sido Muncul bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) serta Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, untuk melakukan berbagai penelitian dan pengujian ilmiah terhadap produk Tolak Angin.
Perjalanan itu kembali ditegaskan lewat paparan hasil uji toksisitas Tolak Angin, sebuah langkah ilmiah yang menjadi fondasi kepercayaan hingga hari ini. Direktur PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat membuka kisah tersebut dengan menegaskan bahwa sejak awal, produk herbal harus siap diuji secara ilmiah.
“Kami sejak awal menyadari bahwa produk herbal harus siap secara ilmiah. Karena itu, jauh sebelum isu-isu seperti sekarang muncul, kami sudah menyiapkan dasar-dasar ilmiah yang kuat,” ujar Irwan saat Press Conference Paparan Uji Khasiat dan Toksisitas Tolak Angin di Kantor Sido Muncul, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Ia mengingatkan bahwa uji toksisitas Tolak Angin bukanlah respons sesaat terhadap isu, melainkan proses panjang yang dimulai sejak tahun 2000, ketika Tolak Angin bertransformasi dari jamu serbuk rebusan menjadi cair siap minum.
“Sebagai perusahaan publik, kami tidak bisa menggantungkan hidup hanya pada opini atau berita yang beredar. Karena itu, sejak awal kami memilih jalan yang jelas, yaitu uji toksisitas dan uji khasiat melalui uji klinik fase satu dan dua,” tegasnya.
Menurut Irwan, langkah ini merupakan terobosan besar untuk produk jamu pada masanya, bahkan bisa dikatakan sebagai satu-satunya di Indonesia. Prinsipnya sederhana: apa pun pemberitaan yang muncul, Sido Muncul harus berpijak pada data yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Irwan pun menegaskan bahwa kepercayaan tidak bisa dibeli.
“Kepercayaan tidak bisa dibeli, tetapi dibangun melalui partisipasi banyak pihak,” ujarnya.
Selama lebih dari dua dekade, uji toksisitas dan uji khasiat menjadi fondasi Tolak Angin dalam menempuh perjalanan panjang ini. Sebuah perjalanan yang tidak hanya menjawab keraguan, tetapi juga membuktikan bahwa warisan herbal Indonesia dapat berdiri sejajar melalui sains dan terus dipercaya hingga kini.
Diperkuat Bukti Ilmiah: Aman dan Mendukung Daya Tahan Tubuh
Kepercayaan konsumen terhadap Tolak Angin tidak hanya dibangun dari pengalaman turun-temurun, tetapi juga diperkuat oleh serangkaian riset ilmiah yang dilakukan melalui kerja sama Sido Muncul dengan institusi akademik terkemuka.
Penjelasan ilmiah mengenai uji toksisitas subkronis disampaikan oleh Dr. apt. Ipang Djunarko, S.Si., M.Sc dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. Ia menjelaskan bahwa uji ini dilakukan untuk memastikan keamanan penggunaan jangka menengah hingga panjang.
“Uji toksisitas subkronis dilakukan karena berkaitan dengan penggunaan jangka menengah hingga panjang, yaitu selama kurang lebih tiga bulan. Pada penelitian ini, hewan uji diberikan perlakuan selama 90 hari,” jelas Dr. Ipang.
Dalam penelitian tersebut, hewan uji diberikan berbagai tingkat dosis hingga setara 9 saset per hari, sesuai ketentuan regulator. Hasilnya, tidak ditemukan kematian, perubahan klinis, maupun kerusakan organ vital.
“Secara umum, hasil ini menunjukkan bahwa Tolak Angin Cair aman digunakan, selama dikonsumsi sesuai dengan aturan dan dosis yang dianjurkan,” ujarnya.
Hasil ini diperkuat oleh Ibu apt. Phebe Hendra, Ph.D, dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang menegaskan bahwa selama 90 hari perlakuan, tidak ditemukan perubahan bermakna pada berat badan, sistem hematologi, maupun struktur organ penting.
“Jika masa uji 90 hari ini dikonversikan ke penggunaan pada manusia, maka setara dengan penggunaan hingga sekitar 101 bulan,” jelas Phebe.
Sementara itu, Dr. dr. Neni Susilaningsih, M.Si dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro menjelaskan sisi uji khasiat.
Penelitian penting dilakukan bersama Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang, yang mengkaji pengaruh Tolak Angin cair terhadap sistem imun manusia. Penelitian ini melibatkan 109 pria dan wanita sehat berusia 15–45 tahun, yang dibagi ke dalam kelompok perlakuan dan kelompok plasebo.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi Tolak Angin cair selama tujuh hari mampu meningkatkan jumlah limfosit T perifer secara bermakna, dari rata-rata 62,98% menjadi 73,49%, dengan tingkat signifikansi statistik yang kuat. Limfosit T sendiri diketahui memiliki peran sentral dalam sistem pertahanan tubuh, terutama dalam melawan infeksi.
Tak hanya itu, penelitian juga menemukan peningkatan rasio IFN-γ terhadap IL-4, yang menandakan dorongan pada respons imun tipe 1—respons yang berperan penting dalam melawan infeksi virus dan bakteri. Pada saat yang sama, konsumsi Tolak Angin tidak mempengaruhi fungsi organ vital, termasuk ginjal dan hati, yang ditunjukkan dari parameter kreatinin, ureum, SGOT, dan SGPT yang tetap berada dalam batas normal.
Hasil ini mempertegas bahwa Tolak Angin tidak sekadar memberikan rasa nyaman secara subjektif, tetapi juga mendukung daya tahan tubuh secara biologis dan terukur. Berdasarkan hasil tersebut, penelitian menyimpulkan bahwa Tolak Angin cair aman dikonsumsi sesuai aturan pakai, bahkan dalam penggunaan berulang, sekaligus menegaskan posisinya sebagai produk herbal yang tidak hanya dipercaya secara tradisi, tetapi juga teruji secara ilmiah.
Hasil tersebut menunjukkan peningkatan respons imun, sekaligus menempatkan Tolak Angin naik level dari jamu menjadi obat herbal terstandar.
Tata Kelola Ilmiah dan Dukungan Terhadap Kemandirian Farmasi Nasional
Komitmen terhadap pendekatan ilmiah juga ditegaskan dari sisi tata kelola perusahaan. DR. Dr. Mohammad Adib Khumaidi, Sp.OT selaku Komisaris Independen PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk, menyatakan bahwa setiap produk Sido Muncul yang beredar saat ini merupakan hasil dari proses akademis dan profesional yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Apa yang ada di dalam satu sachet produk Sido Muncul hari ini sejatinya merupakan bukti nyata dari sebuah proses ilmiah,” ujar Dr. Adib.
Ia menambahkan bahwa penelitian yang dilakukan oleh Dr. Ipang, apt. Phebe, dan Dr. Neni adalah bentuk pertanggungjawaban publik, sekaligus penegasan bahwa produk-produk Sido Muncul dikembangkan dengan pendekatan ilmiah yang serius.
Meski sebagian produk masih berada dalam kategori herbal dan belum seluruhnya masuk tingkat fitofarmaka, Dr. Adib menekankan bahwa aspek terpenting adalah adanya pembuktian ilmiah yang mencakup keamanan, uji toksisitas, dan uji khasiat.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Sido Muncul berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan institusi pendidikan kedokteran dan kesehatan, sejalan dengan amanat Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023 yang mendorong pengembangan obat bahan alam. Menurutnya, Sido Muncul telah siap mendukung pemerintah dalam mendorong kemandirian industri farmasi nasional berbasis kekayaan alam Indonesia.
Kepercayaan dari Figur Publik: Etika, Data, dan Nasionalisme
Di luar laboratorium dan angka-angka ilmiah, perjalanan Tolak Angin juga hidup dalam kesaksian para figur publik yang menyaksikan langsung bagaimana produk ini tumbuh bersama masyarakat Indonesia. Dua di antaranya adalah Andy F. Noya dan Prof. Rhenald Kasali yang sekaligus merupakan Brand Ambassador produk Tolak Angin yang memandang Tolak Angin bukan sekadar produk herbal, tetapi bagian dari narasi kebangsaan.
Bagi Andy, Tolak Angin adalah representasi kejujuran dan konsistensi. Andy menegaskan bahwa kepercayaan publik tidak mungkin dibangun hanya lewat promosi, tetapi melalui ketekunan menjaga mutu dari waktu ke waktu. Ia menyoroti bagaimana Sido Muncul berani membuka diri terhadap pengujian ilmiah, termasuk uji toksisitas, sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada masyarakat.
Andy juga memandang Tolak Angin sebagai produk yang lahir dari kedekatan dengan realitas hidup masyarakat Indonesia. Ia menuturkan bahwa sejak lama Tolak Angin hadir dalam keseharian rakyat, dari perjalanan jauh, liputan ke daerah-daerah terpencil, hingga aktivitas padat yang menuntut stamina. Dalam pandangannya, keberanian Sido Muncul menguji produknya secara ilmiah justru memperkuat nilai yang sejak awal dirasakan masyarakat: aman, jujur, dan berpihak pada kepentingan publik.
Lebih jauh, Andy melihat langkah uji toksisitas ini sebagai simbol perubahan besar dalam industri jamu nasional. Ia menyebut bahwa apa yang dilakukan Sido Muncul bukan hanya menjaga nama baik perusahaan, tetapi juga mengangkat martabat jamu Indonesia di mata generasi muda, yang kini semakin kritis dan menuntut pembuktian ilmiah.
Hal senada disampaikan Prof. Rhenald Kasali,Ph.D namun dengan sudut pandang strategis dan kebangsaan yang lebih luas. Rhenald menekankan bahwa Tolak Angin adalah contoh nyata nasionalisme modern, di mana produk lokal tidak berlindung di balik romantisme tradisi, melainkan berani masuk ke arena global dengan standar ilmiah yang ketat.
Rhenald memandang uji toksisitas Tolak Angin sebagai langkah visioner. Menurutnya, ketika sebuah produk herbal lokal bersedia diuji secara terbuka dan ilmiah, itu menunjukkan kesiapan untuk bersaing bukan hanya di pasar domestik, tetapi juga internasional. Ia menekankan bahwa keberanian ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat industri kesehatan berbasis kearifan lokal namun berstandar global.
Dalam pandangan Rhenald, peran Sido Muncul juga tidak bisa dilepaskan dari kontribusinya terhadap negara. Ia menyoroti bagaimana perusahaan ini konsisten mendukung agenda nasional, mulai dari kesehatan masyarakat, penguatan UMKM berbasis bahan alam, hingga edukasi publik tentang pentingnya produk yang aman dan teruji. Bagi Rhenald, Tolak Angin adalah contoh bahwa nasionalisme tidak selalu diwujudkan lewat slogan, tetapi melalui konsistensi, tanggung jawab, dan keberanian diuji.
Baik Andy F. Noya maupun Prof. Rhenald Kasali sepakat bahwa perjalanan Tolak Angin hari ini adalah hasil dari proses panjang yang tidak instan. Keputusan untuk menjalani uji toksisitas bukan sekadar kebutuhan regulasi, melainkan komitmen etis untuk menjaga kepercayaan masyarakat Indonesia, kepercayaan yang dibangun dari generasi ke generasi, dan kini diperkuat oleh sains.
Sementara itu, Direktur Marketing PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Maria Reviani Hidayat, menekankan pentingnya edukasi produk herbal kepada konsumen di tengah derasnya arus informasi.
“Sekarang semua orang bisa menjadi jurnalis dan informasi datang sangat cepat. Karena itu, kami ingin memastikan konsumen mendapatkan informasi yang benar dan berkualitas,” ujar Maria.
Menurutnya, konsumen yang semakin cerdas akan mampu memilah informasi dan memilih produk yang aman serta berkualitas.
"Saya yakin konsumen juga semakin pintar, orang pintar kan minum Tolak Angin. Jadi yang pintar tentu saja bisa memilah informasi yang benar dan tidak, lalu dia bisa memilih produk yang baik juga, ujarnya.
Di usia yang akan mencapai 75 tahun pada 2026 ini, Tolak Angin hadir dengan beberapa varian yaitu Tolak Angin Cair, Tolak Angin Serbuk, Tolak Angin Tablet, Tolak Angin Flu, Tolak Angin Anak, Tolak Angin Kapsul, dan Tolak Angin Batuk.