Dokter Kulit Ingatkan Risiko Thrifting: Waspada Infeksi dan Iritasi Kulit dari Baju Bekas
Meskipun thrifting menawarkan harga terjangkau, dokter kulit mengingatkan akan risiko infeksi dan iritasi kulit serius jika baju bekas tidak dibersihkan. Pahami bahaya di balik tren thrifting ini.
Tren thrifting atau membeli pakaian bekas semakin populer di kalangan masyarakat, menawarkan pilihan busana unik dengan harga terjangkau. Namun, di balik daya tariknya, terdapat potensi risiko kesehatan yang perlu diwaspadai oleh para penggemar thrifting. Dokter spesialis kulit dan kelamin, dr. Fitria Agustina, Sp.KK, FINSDV, FAADV, secara tegas mengingatkan tentang bahaya tersembunyi dari penggunaan baju bekas.
Menurut dr. Fitria, penggunaan baju bekas tanpa proses pembersihan yang memadai dapat meningkatkan risiko gangguan kulit hingga penularan infeksi. Peringatan ini disampaikan untuk mengedukasi masyarakat agar lebih cermat dalam memilih dan mengelola pakaian bekas yang diperoleh. Penting bagi setiap individu untuk memahami langkah-langkah pencegahan yang tepat.
Penyakit kulit dan iritasi menjadi ancaman utama bagi mereka yang langsung mengenakan baju bekas tanpa pencucian menyeluruh. Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya higienitas adalah kunci untuk tetap aman menikmati tren thrifting. Masyarakat diharapkan tidak mengabaikan potensi risiko ini demi kesehatan kulit jangka panjang.
Ancaman Infeksi Kulit dari Pakaian Bekas
Dokter Fitria, yang juga merupakan anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI), menjelaskan bahwa pakaian bekas berpotensi menyimpan berbagai residu berbahaya. Sisa keringat, jamur, bakteri, serta residu bahan kimia dari pemilik sebelumnya masih bisa menempel pada serat kain. Kondisi ini sangat rentan memicu reaksi alergi atau iritasi, terutama bagi individu dengan kulit sensitif.
Keluhan yang sering muncul akibat paparan tersebut meliputi rasa gatal yang tidak kunjung hilang, ruam kemerahan pada kulit, hingga timbulnya infeksi kulit yang lebih serius. Infeksi jamur seperti kurap adalah salah satu penyakit yang paling sering berpotensi menular melalui pakaian bekas, karena jamur dapat bertahan cukup lama di serat kain. Pencegahan dini sangat krusial untuk menghindari kondisi ini.
Selain infeksi jamur, penyakit kudis atau skabies juga menjadi ancaman serius yang dapat menular melalui pakaian yang terkontaminasi tungau. Dokter Fitria menambahkan, “Selain jamur, ada juga skabies dan kutu yang bisa berpindah kalau bajunya dipakai cukup lama. Infeksi bakteri ringan juga bisa terjadi, meski lebih jarang,” Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kehati-hatian dalam mengelola pakaian bekas.
Daya Tahan Mikroorganisme dan Pencegahannya
Mikroorganisme penyebab penyakit kulit memiliki daya tahan yang mengejutkan pada serat kain pakaian. Dokter Fitria menjelaskan bahwa jamur, tungau, dan kutu dapat bertahan hidup selama beberapa hari hingga berminggu-minggu, terutama jika pakaian berada dalam kondisi lembap dan tidak dibersihkan dengan baik. Lingkungan yang lembap menjadi sarang ideal bagi perkembangbiakan patogen ini.
Secara spesifik, jamur dapat bertahan di pakaian selama berhari-hari hingga berminggu-minggu, menunjukkan ketahanannya yang tinggi. Sementara itu, tungau penyebab skabies dapat bertahan sekitar dua sampai tiga hari di kain, dan kutu beserta telurnya juga bisa bertahan selama beberapa hari. Oleh karena itu, tindakan pencucian yang efektif menjadi sangat vital untuk menghilangkan ancaman ini.
Untuk meminimalkan risiko, masyarakat disarankan untuk selalu mencuci bersih pakaian bekas segera setelah pembelian. Penggunaan air panas dan deterjen yang efektif dapat membantu membunuh mikroorganisme yang menempel. Menjemur pakaian di bawah sinar matahari langsung juga dapat menjadi langkah tambahan untuk sterilisasi alami, memastikan pakaian benar-benar bersih dan aman untuk digunakan.
Waspada Gejala dan Peran Pemerintah
Masyarakat diimbau untuk selalu mewaspadai tanda-tanda awal gangguan kulit setelah menggunakan baju thrifting. Gejala seperti gatal menetap, munculnya ruam, bentol kecil, kulit bersisik, atau bercak melingkar harus segera mendapat perhatian. Jika keluhan-keluhan tersebut tidak kunjung membaik atau justru meluas, sangat disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter spesialis kulit. Penanganan medis yang cepat dapat mencegah kondisi menjadi lebih parah.
Isu peredaran pakaian bekas impor juga menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia. Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza sebelumnya menyatakan bahwa impor pakaian bekas ilegal merugikan pasar domestik dan menekan industri tekstil dalam negeri. Hal ini karena produk-produk bekas tersebut dijual jauh lebih murah dibandingkan produk lokal, menciptakan persaingan yang tidak sehat.
Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa, belanja sandang nasional diperkirakan mencapai sekitar Rp10 triliun per bulan. Angka ini menunjukkan potensi pasar yang sangat besar bagi industri tekstil lokal. Oleh karena itu, regulasi yang ketat terhadap impor pakaian bekas menjadi penting tidak hanya untuk melindungi kesehatan masyarakat tetapi juga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
Sumber: AntaraNews