Tahukah Anda? Dokter Kulit Ungkap Dampak Sering Mandi Bisa Rusak Lapisan Pelindung Kulit
Dokter spesialis kulit Arini Widodo mengungkapkan bahwa dampak sering mandi, terutama dengan cara yang salah, justru dapat merusak lapisan pelindung kulit alami. Ketahui kiat mandi yang tepat agar kulit tetap sehat!
Dokter spesialis kulit dr. Arini Widodo, SpKK dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) baru-baru ini memberikan peringatan penting mengenai kebiasaan mandi. Ia menjelaskan bahwa terlalu sering mandi, apalagi dengan metode yang tidak tepat, berpotensi merusak lapisan pelindung alami kulit manusia. Pernyataan ini disampaikan kepada ANTARA di Jakarta, menyoroti pentingnya menjaga kesehatan kulit.
Peringatan ini muncul seiring dengan kondisi cuaca di berbagai wilayah Indonesia yang cenderung panas terik. Kondisi tersebut seringkali memicu keinginan kuat untuk mandi lebih sering karena tubuh terasa lengket akibat keringat berlebih. Namun, dr. Arini menekankan bahwa kulit memiliki skin barrier dan lapisan minyak alami (sebum) yang esensial untuk menjaga kelembapan serta melindunginya dari iritasi eksternal.
Untuk itu, penting bagi masyarakat untuk memahami cara mandi yang benar agar tidak justru menimbulkan masalah kulit. Berdasarkan panduan dari American Academy of Dermatology (AAD), terdapat beberapa rekomendasi krusial mengenai frekuensi, durasi, dan jenis produk yang sebaiknya digunakan saat mandi. Kiat-kiat ini bertujuan untuk menjaga integritas lapisan pelindung kulit.
Mengenal Lapisan Pelindung Kulit dan Bahaya Mandi Berlebihan
Kulit manusia dilengkapi dengan sistem pertahanan alami yang kompleks, dikenal sebagai lapisan pelindung kulit atau skin barrier. Lapisan ini bekerja sama dengan minyak alami kulit, atau sebum, untuk membentuk perisai yang menjaga kelembapan dan melindungi tubuh dari berbagai faktor lingkungan yang merugikan. Fungsi utama dari skin barrier adalah mencegah kehilangan air dari dalam kulit dan menghalau masuknya iritan serta mikroorganisme berbahaya.
Namun, kebiasaan mandi yang berlebihan atau tidak tepat dapat mengganggu keseimbangan alami ini. Penggunaan air yang terlalu panas atau sabun dengan formula keras secara terus-menerus dapat mengikis lapisan sebum dan merusak integritas skin barrier. Akibatnya, kulit menjadi lebih rentan terhadap kekeringan, iritasi, kemerahan, bahkan kondisi kulit seperti eksim.
Dokter Arini Widodo secara tegas menyatakan, "Terlalu sering mandi, apalagi dengan cara yang salah, dapat merusaknya." Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa niat baik untuk membersihkan diri justru bisa berbalik merugikan kesehatan kulit jika tidak dilakukan dengan bijak. Memahami cara kerja lapisan pelindung kulit adalah langkah awal untuk mengadopsi praktik mandi yang lebih sehat.
Kiat Mandi Sehat Menurut American Academy of Dermatology (AAD)
Untuk menjaga kesehatan dan kelembapan kulit, American Academy of Dermatology (AAD) telah mengeluarkan panduan mandi yang sehat, yang juga didukung oleh dr. Arini Widodo. Kiat-kiat ini berfokus pada frekuensi, durasi, suhu air, dan pemilihan produk pembersih. Menerapkan rekomendasi ini dapat membantu mencegah kerusakan pada lapisan pelindung kulit.
Pertama, terkait frekuensi dan durasi, disarankan untuk membatasi mandi. "Mandi dua kali sehari sudah ideal, dengan durasi maksimal 5-10 menit setiap kalinya," jelas dr. Arini. Durasi yang lebih singkat ini membantu mencegah pengikisan minyak alami kulit. Kedua, gunakan air hangat, bukan air panas, karena air yang terlalu panas dapat menghilangkan minyak alami kulit secara berlebihan, menyebabkan kulit menjadi kering dan iritasi.
Ketiga, pemilihan pembersih sangat penting. Hindari sabun biasa yang cenderung keras dan dapat mengganggu pH kulit. Sebaliknya, gunakan pembersih badan (body cleanser) yang lembut, bebas sabun (soap-free), memiliki pH seimbang (pH-balanced), dan mengandung bahan pelembap seperti ceramides, glycerin, atau niacinamide. Pembersih jenis ini efektif membersihkan tanpa mengikis lapisan pelindung kulit. Terakhir, segera aplikasikan pelembap setelah mandi. "Dalam waktu 3-5 menit setelah mengeringkan badan dengan handuk (dengan cara ditepuk-tepuk), segera aplikasikan pelembap untuk 'mengunci' kelembapan," tambah dr. Arini.
Menjaga Keseimbangan Kebersihan di Cuaca Ekstrem
Di tengah kondisi cuaca ekstrem yang seringkali memicu produksi keringat berlebih, menjaga kebersihan tubuh menjadi tantangan tersendiri. Keinginan untuk mandi lebih dari dua kali sehari mungkin muncul, namun penting untuk tetap memperhatikan kesehatan kulit. Dokter Arini Widodo menyarankan pendekatan yang seimbang agar kulit tidak mengalami kerusakan.
Jika merasa perlu membasuh diri lebih dari dua kali karena keringat, pertimbangkan untuk hanya menggunakan air tanpa pembersih pada mandi tambahan tersebut. Fokuskan penggunaan pembersih atau cleanser hanya pada area lipatan tubuh yang cenderung lebih berkeringat dan lembap. Pendekatan ini membantu menjaga kebersihan tanpa mengganggu lapisan pelindung kulit secara berlebihan.
Dr. Arini menegaskan bahwa kunci perawatan kulit di cuaca ekstrem adalah keseimbangan. "Intinya, di cuaca ekstrem seperti sekarang, kunci perawatan kulit adalah keseimbangan antara menjaga kebersihan dengan cara yang tepat, mempertahankan kelembapan alami kulit, serta proteksi ketat dari sinar UV," tutupnya. Ini berarti tidak hanya fokus pada kebersihan, tetapi juga pada hidrasi dan perlindungan kulit dari faktor eksternal.
Sumber: AntaraNews