Dinas SDA DKI Jakarta Rancang Waduk Jakarta Curah Hujan Ekstrem, Siap Hadapi Banjir Ibu Kota
Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta kini merancang infrastruktur waduk Jakarta curah hujan ekstrem, termasuk Embung Kebagusan, untuk menanggulangi banjir dengan kapasitas tampung air di atas 200 mm per hari. Langkah ini menjadi bagian penting dari strategi.
Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta mengambil langkah proaktif dalam mitigasi banjir dengan merancang ulang desain waduk dan embung di ibu kota. Inisiatif ini berfokus pada kemampuan menampung air saat terjadi curah hujan ekstrem, bahkan melebihi 150 mm per hari.
Kepala Dinas SDA DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum, menjelaskan bahwa infrastruktur baru kini didesain untuk menghadapi intensitas curah hujan di atas 200 mm per hari. Salah satu proyek percontohan adalah Embung Kebagusan yang berlokasi di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang dirancang untuk menampung curah hujan 221 mm per hari.
Upaya ini bertujuan untuk secara signifikan mereduksi debit banjir pada sistem aliran sungai utama, seperti Kali Mampang dan Krukut, sebelum mencapai area rawan genangan. Dengan demikian, diharapkan dapat menekan dampak banjir yang kerap melanda beberapa wilayah di Jakarta.
Inovasi Desain Waduk Jakarta untuk Curah Hujan Ekstrem
Perancangan waduk Jakarta curah hujan ekstrem menjadi prioritas utama Dinas SDA DKI Jakarta dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Desain infrastruktur ini kini berfokus pada daya tampung yang jauh lebih besar dari sebelumnya, mampu mengakomodasi volume air dari hujan ekstrem.
Ika Agustin Ningrum menegaskan bahwa standar desain baru ini memungkinkan waduk untuk menahan curah hujan di atas 200 mm per hari. Hal ini merupakan peningkatan signifikan untuk memastikan sistem drainase kota dapat berfungsi optimal di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.
Embung Kebagusan, yang terletak di Jalan Baung, Kelurahan Kebagusan, Kecamatan Pasar Minggu, menjadi contoh nyata dari inovasi ini. Dengan luas sekitar dua hektare, embung ini didesain khusus untuk menampung intensitas curah hujan hingga 221 mm per hari, menunjukkan komitmen Pemprov DKI Jakarta.
Peran Embung Kebagusan dalam Mitigasi Banjir Ibu Kota
Embung Kebagusan memiliki peran krusial dalam strategi mitigasi banjir di Jakarta, khususnya pada sistem aliran saluran penghubung Joe. Embung ini dirancang untuk mereduksi debit banjir secara signifikan, mengurangi tekanan pada sistem Kali Mampang-Krukut.
Sebelum adanya Embung Kebagusan, debit air pada sistem aliran Kali Mampang dan Krukut mencapai sekitar 30,07 meter kubik per detik. Namun, setelah embung ini beroperasi, debit air dapat berkurang hingga 29,38 meter per detik, menunjukkan efektivitasnya.
Pengurangan debit sebesar 2,3 persen ini sangat berarti untuk mencegah luapan air di hilir. Konsepnya adalah menangkap aliran air di hulu sebelum bertemu Kali Krukut dan Kali Mampang, sehingga terjadi penurunan volume air yang mengalir ke bawah.
Dengan demikian, wilayah Pegangsaan Dua, yang sering menjadi langganan banjir akibat luapan Saluran Penghubung Joe, diharapkan dapat terbebas dari genangan. Keberadaan embung ini memberikan solusi konkret untuk masalah banjir di area tersebut.
Strategi Pengendalian Banjir Terpadu DKI Jakarta
Pembangunan Embung Kebagusan merupakan bagian integral dari strategi pengendalian banjir terpadu yang dicanangkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Embung ini adalah satu dari tujuh embung dan waduk baru yang sedang dibangun di seluruh wilayah ibu kota.
Saat ini, Jakarta telah memiliki total 50 embung, dan dengan penambahan tujuh proyek baru ini, jumlahnya akan terus bertambah. Dinas SDA DKI Jakarta juga mengidentifikasi potensi 93 lokasi lain yang cocok untuk pembangunan embung atau waduk di masa mendatang.
Ika Agustin Ningrum menjelaskan bahwa pembangunan embung dan waduk ini merupakan upaya untuk menambah daerah resapan air dan menampung air sementara saat banjir. Ini melengkapi strategi lain seperti pembangunan polder dan peningkatan kapasitas sungai.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkomitmen untuk terus melanjutkan pembangunan infrastruktur penampungan air dalam bentuk ruang terbuka biru. Hal ini menjadi bagian penting dari rencana jangka panjang untuk menciptakan sistem pengendalian banjir yang lebih tangguh dan berkelanjutan di Jakarta.
Sumber: AntaraNews