Pengerukan Sungai Jakarta Digenjot, Antisipasi Banjir Akibat Cuaca Ekstrem
Dinas SDA DKI Jakarta gencar melakukan pengerukan sungai dan waduk di 71 titik untuk meningkatkan daya tampung air, antisipasi banjir akibat cuaca ekstrem yang diprediksi melanda Jakarta.
Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta secara masif melakukan pengerukan infrastruktur pengendali banjir di ibu kota. Langkah ini diambil guna meningkatkan daya tampung air dan meminimalkan risiko genangan atau banjir. Kegiatan ini merupakan respons terhadap prediksi cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi.
Pengerukan telah dimulai sejak 2 Januari 2026 di 71 titik berbeda di lima kota administrasi Jakarta. Upaya ini bertujuan mengoptimalkan fungsi drainase di seluruh wilayah DKI Jakarta. Dengan demikian, aliran air dapat berjalan lancar tanpa hambatan.
Sekretaris Dinas SDA DKI Jakarta, Nugraharyadi, menjelaskan bahwa hingga 19 Januari 2026, volume material yang berhasil dikeruk mencapai 25.746 meter kubik. Pengerukan ini menjadi bagian penting dari strategi mitigasi banjir. Ini dilakukan untuk menghadapi potensi curah hujan sangat lebat hingga ekstrem.
Pengerukan Intensif di Berbagai Titik Vital
Pengerukan infrastruktur pengendali banjir oleh Dinas SDA DKI Jakarta difokuskan pada kali, sungai, waduk, situ, dan embung. Lokasi-lokasi ini dipilih karena perannya yang krusial dalam sistem drainase kota. Tujuannya adalah memastikan semua saluran air berfungsi optimal.
Sejak awal Januari 2026, sebanyak 71 titik telah menjadi sasaran operasi pengerukan ini. Titik-titik tersebut tersebar di seluruh wilayah administrasi DKI Jakarta. Data per 19 Januari 2026 menunjukkan volume pengerukan mencapai puluhan ribu meter kubik material.
Material yang dikeruk meliputi lumpur, sedimen, dan sampah yang menyumbat aliran air. Pengangkatan material ini secara signifikan meningkatkan kapasitas penampungan dan aliran air. Hal ini diharapkan dapat mengurangi dampak genangan saat hujan deras.
Armada Modern dan Ribuan Personel Siap Siaga
Dinas SDA DKI Jakarta didukung penuh dengan peralatan modern untuk menunjang kegiatan pengerukan. Sebanyak 260 unit ekskavator dioperasikan untuk proses pengerukan. Alat berat ini memastikan efisiensi dan kecepatan kerja di lapangan.
Selain ekskavator, 457 unit truk pengangkut material (dump truck) juga disiagakan. Kendaraan berat ini berperan vital dalam memindahkan material hasil pengerukan. Logistik yang memadai sangat penting untuk kelancaran operasi.
Tidak hanya alat berat, sekitar 3.880 personel pasukan biru juga diterjunkan ke lapangan. Mereka bertugas menangani berbagai aspek penanganan banjir. Kehadiran mereka sangat membantu dalam respons cepat terhadap situasi darurat.
Kesiapan Pompa dan Peringatan Dini Cuaca
Untuk memitigasi banjir akibat curah hujan sangat lebat hingga ekstrem, pompa air dioperasikan secara maksimal. Pompa permanen (stasioner) dan pompa bergerak (mobile) ditempatkan di lokasi-lokasi terdampak. Kesiapan ini menjadi kunci dalam penanganan genangan.
Saat ini, terdapat 668 unit pompa permanen di 243 lokasi strategis di Jakarta. Selain itu, 536 unit pompa bergerak juga disiagakan di lima wilayah administrasi. Pompa bergerak berfungsi menjangkau area yang tidak terlayani oleh pompa permanen.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta telah mengeluarkan peringatan dini potensi hujan lebat hingga sangat lebat. Prediksi ini berlaku untuk periode 22-24 Januari 2026. Kondisi cuaca tersebut berpotensi menimbulkan dampak hidrometeorologi seperti genangan dan banjir.
Sumber: AntaraNews