DKI Jakarta Pastikan Pengendali Banjir Berfungsi Optimal Antisipasi Cuaca Ekstrem
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan seluruh infrastruktur pengendali banjir berfungsi optimal, termasuk pompa dan polder, guna mengantisipasi cuaca ekstrem dan potensi banjir di ibu kota.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengambil langkah proaktif dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu banjir. Seluruh infrastruktur pengendali banjir di ibu kota dipastikan berfungsi optimal. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko bencana alam.
Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum, menegaskan komitmen pihaknya. Ia menyatakan bahwa perangkat pengendalian banjir akan bekerja maksimal. Kesiapan ini mencakup fase sebelum, saat, dan setelah hujan intensitas tinggi melanda.
Kesiapan ini melibatkan penyediaan berbagai fasilitas penting. Mulai dari pompa stasioner, pompa mobile, hingga pintu air telah disiagakan. Tujuannya adalah untuk memastikan penanganan banjir berjalan efektif dan cepat.
Kesiapan Pompa dan Pintu Air untuk Penanganan Genangan
Dinas SDA DKI Jakarta telah melakukan inventarisasi dan pemeliharaan menyeluruh terhadap sistem pompa dan pintu air. Langkah ini krusial untuk memastikan tidak ada kendala operasional saat dibutuhkan. Kesiapan infrastruktur menjadi kunci utama dalam meminimalisir dampak genangan.
Data terkini menunjukkan bahwa hingga 13 Maret 2026, terdapat 668 unit pompa stasioner yang tersebar di 243 lokasi strategis di seluruh Jakarta. Pompa-pompa ini berperan vital dalam menyedot air dari area genangan. Keberadaan mereka sangat penting untuk menjaga aliran air tetap lancar.
Selain pompa stasioner, Dinas SDA juga menyiagakan 537 unit pompa mobile. Pompa-pompa bergerak ini didistribusikan di lima wilayah administrasi Jakarta. Fungsinya adalah menjangkau titik-titik genangan yang sulit diakses oleh pompa stasioner, memberikan fleksibilitas penanganan.
Percepatan Pengerukan untuk Optimalkan Kapasitas Drainase
Untuk meningkatkan kapasitas drainase dan mencegah penumpukan sedimen, Dinas SDA DKI Jakarta mempercepat program pengerukan. Kegiatan ini menyasar berbagai infrastruktur pengendali banjir. Sungai, kali, waduk, situ, dan embung menjadi prioritas utama pengerukan.
Upaya pengerukan ini telah menunjukkan hasil signifikan. Hingga 13 Maret 2026, volume pengerukan di lima wilayah kota administrasi Jakarta telah mencapai 123.393 meter kubik. Angka ini menunjukkan progres yang konsisten dalam menjaga kelancaran aliran air.
Sepanjang tahun 2025, total volume pengerukan tercatat mencapai 919.173 meter kubik, sebuah capaian substansial. Untuk mendukung kegiatan masif ini, Dinas SDA mengerahkan armada besar. Sebanyak 260 unit excavator dan 465 unit dump truck dioperasikan secara optimal.
Peran Pasukan Biru dan Imbauan Kewaspadaan Masyarakat
Selain infrastruktur fisik, sumber daya manusia juga menjadi fokus utama dalam kesiapsiagaan banjir. Dinas SDA DKI Jakarta menyiagakan satuan tugas (satgas) yang dikenal sebagai "pasukan biru". Mereka adalah garda terdepan yang siap bergerak cepat saat terjadi banjir.
Pasukan biru memiliki tugas penting dalam mendukung operasional pompa dan memastikan genangan dapat ditangani dengan cepat. Kehadiran mereka di lapangan sangat vital. Mereka juga secara rutin melakukan pemantauan untuk menjaga kondisi tetap terkendali.
Ika Agustin Ningrum turut mengimbau seluruh masyarakat Jakarta untuk tetap waspada terhadap potensi genangan. Kewaspadaan kolektif menjadi kunci dalam menghadapi cuaca ekstrem. Dalam situasi darurat, warga dapat memanfaatkan aplikasi JAKI atau menghubungi layanan 112 untuk bantuan.
Sumber: AntaraNews