Sudin SDA Jakut Optimalkan Daya Tampung Air Lewat Pengerukan Waduk dan Kali Hadapi Hujan Ekstrem
Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Utara gencar melakukan pengerukan waduk dan kali demi mengoptimalkan daya tampung air. Langkah ini diambil untuk menghadapi potensi hujan ekstrem dan banjir yang mengancam wilayah Jakarta Utara.
Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Utara telah mengambil langkah proaktif dengan melakukan pengerukan terhadap 15 waduk dan kali di wilayahnya. Upaya ini bertujuan untuk mengoptimalkan kapasitas tampungan air, khususnya saat terjadi hujan ekstrem yang berpotensi menyebabkan banjir di kawasan tersebut. Kepala Suku Dinas SDA Jakarta Utara, Heria Suwandi, menegaskan bahwa tindakan ini merupakan bagian dari strategi mitigasi bencana.
Pengerukan ini tidak hanya sekadar membersihkan, tetapi juga melibatkan pelebaran beberapa badan kali, seperti Kali Cakung Lama di Cilincing. Kali yang semula memiliki lebar dua meter kini diperlebar hingga mencapai 10 sampai 15 meter di beberapa segmen. Proses pengerukan Kali Cakung Lama sendiri sudah dimulai sejak tahun 2025 dan masih terus berlanjut hingga saat ini, menunjukkan komitmen jangka panjang dalam penanganan banjir.
Langkah strategis ini juga melibatkan kolaborasi erat dengan unsur kelurahan dan kecamatan setempat. Sosialisasi serta pendekatan kepada masyarakat yang tinggal di bantaran kali menjadi kunci keberhasilan, mendorong kesadaran warga untuk membongkar bangunan yang menjorok ke kali. Kesadaran masyarakat ini sangat penting dalam memastikan aliran air tidak terhambat dan upaya pengerukan berjalan efektif.
Upaya Mitigasi Banjir dan Pelebaran Kali di Jakarta Utara
Pengerukan dan pelebaran kali merupakan salah satu upaya utama Suku Dinas SDA Jakarta Utara dalam menghadapi ancaman banjir. Heria Suwandi mencontohkan Kali Cakung Lama di Cilincing yang telah dikeruk dan dilebarkan secara signifikan. Pelebaran ini sangat krusial mengingat banyak badan kali yang mengalami penyempitan akibat perubahan tata ruang yang terakumulasi selama puluhan tahun, menyebabkan aliran air tersumbat dan memicu banjir.
Selain Kali Cakung Lama, penyempitan badan kali juga teridentifikasi di beberapa lokasi lain, seperti Kali Lagoa Tirem, Inlet IV A, dan Inlet IV B yang mengalir ke Waduk Danau Cincin. Kondisi serupa juga terjadi di Waduk Pluit, Kali Angke, Kali Adem, serta banyak titik lainnya di Jakarta Utara. Penyempitan ini menyulitkan proses pengerukan dan mengurangi daya tampung air secara drastis.
Upaya pengerukan ini tidak berhenti di satu titik, melainkan akan terus dilakukan hingga ke hilir Kali Cakung Lama. Partisipasi aktif masyarakat dalam membongkar bangunan yang menjorok ke kali menunjukkan adanya kesadaran kolektif terhadap pentingnya menjaga fungsi sungai. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat menjadi fondasi kuat dalam menciptakan lingkungan yang lebih tangguh terhadap bencana hidrometeorologi.
Kesiapsiagaan Hadapi Hujan Ekstrem dan Peringatan BMKG
Menjelang potensi hujan lebat hingga ekstrem serta ancaman banjir rob, Suku Dinas SDA Jakarta Utara meningkatkan kesiapsiagaan secara menyeluruh. Sebanyak 72 stasiun pompa dan 22 unit pompa mobile telah disiagakan di berbagai titik rawan genangan sebagai langkah mitigasi. Kesiapan infrastruktur ini diharapkan mampu meminimalisir dampak genangan air di permukiman warga.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi hujan lebat hingga sangat lebat di DKI Jakarta. Peringatan ini berlaku mulai tanggal 16 Februari hingga 19 Februari 2026. Berdasarkan informasi resmi BMKG melalui akun Instagram @infobmkg, pada Senin (16/2), potensi hujan sedang hingga lebat dengan tingkat waspada diprediksi terjadi di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu.
Dampak dari potensi hujan ini meliputi genangan, luapan sungai, dan longsor yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat. Lebih lanjut, BMKG juga mengeluarkan peringatan siaga untuk potensi hujan lebat hingga sangat lebat di Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, hingga Kabupaten dan Kota Bogor. Pada level siaga ini, potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan longsor dapat berdampak signifikan terhadap masyarakat, layanan publik, dan infrastruktur.
Sumber: AntaraNews