Tim BKSDA Lakukan Evakuasi Harimau Agam Setelah Warga Bertemu Satwa Liar di Kebun
Tim gabungan BKSDA Sumbar berhasil melakukan Evakuasi Harimau Agam terhadap satu keluarga di Kabupaten Agam setelah mereka berhadapan langsung dengan harimau sumatra di kebunnya. Bagaimana kronologi kejadian menegangkan ini?
Tim gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat, bersama personel Polri, TNI, Pagari, dan masyarakat, berhasil mengevakuasi satu keluarga di Kabupaten Agam. Evakuasi ini dilakukan menyusul pertemuan tak terduga mereka dengan harimau sumatra di area kebun pribadi pada hari Sabtu (02/5). Kejadian menegangkan ini menimpa warga Taruyan, Nagari Tigo Balai, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam.
Pasangan suami istri Samsuir (74) dan Syafmiati (57), serta keponakan mereka Pendi (40), menjadi fokus utama evakuasi setelah insiden tersebut. Mereka dievakuasi dengan aman dari lokasi kebun menuju pemukiman warga yang berjarak sekitar satu kilometer. Proses penyelamatan berjalan lancar berkat koordinasi solid dari seluruh elemen tim gabungan yang bertugas.
Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumatera Barat, Ade Putra, menegaskan bahwa tim langsung bergerak cepat setelah menerima laporan. Pihaknya juga mengimbau seluruh warga di sekitar lokasi kejadian untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan. Imbauan ini berlaku khususnya saat beraktivitas di area perkebunan atau hutan.
Detik-detik Pertemuan Mencekam dan Respons Cepat Tim Evakuasi
Pasangan Samsuir dan Syafmiati memulai aktivitas di kebun mereka sekitar pukul 08.00 WIB pagi. Sejak awal perjalanan menuju kebun, mereka telah menemukan banyak jejak kaki satwa liar yang mengindikasikan keberadaan hewan besar. Ketegangan memuncak ketika Syafmiati berhadapan langsung dengan harimau sumatra pada jarak yang sangat dekat, sekitar lima meter.
Dalam kondisi terkejut dan gemetar, Syafmiati segera memperingatkan suaminya, Samsuir, untuk menjauh dari satwa buas tersebut. Ia juga mendesak Samsuir agar segera membuka pintu pondok untuk mencari perlindungan. Harimau itu dilaporkan bertahan di lokasi kebun sekitar 15 menit, dengan jarak sekitar 50 meter dari pondok, sebelum akhirnya menghilang ke dalam hutan.
Setelah harimau pergi, Samsuir segera melaporkan kejadian tersebut kepada wali jorong setempat untuk penanganan lebih lanjut. Tidak lama kemudian, keponakan mereka, Pendi, datang melewati kebun tersebut dalam perjalanan menuju kebunnya sendiri. Samsuir dengan cepat memberitahu Pendi mengenai adanya harimau di dekat pondok.
Merespons laporan tersebut, tim gabungan yang melibatkan BKSDA Sumbar, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Patroli Anak Nagari (Pagari) Baringin, Pagari Salareh Aia, perangkat nagari, dan masyarakat setempat segera bertindak. Mereka langsung mengevakuasi keluarga yang masih berada di pondok tersebut ke tempat yang lebih aman di pemukiman warga.
Langkah Konservasi dan Imbauan Kewaspadaan untuk Warga Agam
Menyikapi insiden ini, BKSDA Sumbar melalui Resor Maninjau segera mengambil langkah-langkah penanganan komprehensif. Upaya tersebut mencakup pemantauan intensif terhadap pergerakan satwa, identifikasi lapangan untuk mengumpulkan data, serta patroli rutin di area rawan. Langkah-langkah ini akan terus dilakukan selama beberapa hari ke depan guna memastikan keamanan seluruh masyarakat.
Warga di sekitar Nagari Tigo Balai, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, diimbau keras untuk meningkatkan kewaspadaan. Imbauan ini secara khusus ditujukan bagi mereka yang memiliki aktivitas rutin di kebun atau area yang berdekatan dengan habitat satwa liar. Kehati-hatian ekstra sangat diperlukan untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.
BKSDA menyarankan agar masyarakat menghindari pergi sendirian ke kebun, terutama pada waktu-waktu yang dianggap rawan. Selain itu, aktivitas di kebun sebaiknya dibatasi antara pukul 09.00 WIB hingga 16.00 WIB. Penerapan langkah-langkah pencegahan ini diharapkan dapat meminimalisir risiko terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar, termasuk harimau sumatra, di wilayah tersebut.
Sumber: AntaraNews