Pemprov DKI Jakarta Tambah Embung Kebagusan, Reduksi Debit Banjir di Selatan Jakarta
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta serius tangani banjir dengan menambah Embung Kebagusan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang dirancang untuk mereduksi debit banjir signifikan pada sistem Kali Mampang-Krukut.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus berupaya mengatasi permasalahan banjir yang kerap melanda ibu kota. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah dengan menambah jumlah embung, termasuk pembangunan Embung Kebagusan di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Embung ini diharapkan dapat secara efektif mereduksi debit banjir pada sistem aliran saluran penghubung Joe, yang terkait dengan Kali Mampang-Krukut.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, meninjau langsung lokasi pembangunan Embung Kebagusan di Jalan Baung, Kelurahan Kebagusan, Kecamatan Pasar Minggu, pada Jumat lalu. Peninjauan ini menekankan komitmen Pemprov DKI dalam menyediakan infrastruktur pengendali banjir yang lebih baik. Lokasi embung berada di belakang apartemen Kebagusan City, menjadikannya bagian integral dari tata kelola air di wilayah tersebut.
Pembangunan embung ini menjadi bagian dari program jangka panjang Pemprov DKI Jakarta untuk mitigasi banjir. Dengan adanya Embung Kebagusan, diharapkan wilayah-wilayah langganan banjir di Jakarta Selatan dapat terbebas dari genangan. Proyek ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam melindungi warganya dari dampak buruk bencana banjir.
Detail dan Kapasitas Reduksi Embung Kebagusan
Embung Kebagusan memiliki luas sekitar dua hektare dengan kedalaman mencapai 3-4 meter. Meskipun dikategorikan tidak terlalu besar, embung ini dirancang khusus untuk mereduksi debit banjir pada sistem aliran saluran penghubung Joe, yang merupakan bagian dari sistem Kali Mampang-Krukut. Kapasitas reduksi yang dihasilkan embung ini dinilai sangat berarti dalam upaya pengendalian banjir.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menjelaskan bahwa Embung Kebagusan diperkirakan dapat mereduksi debit banjir sekitar 2,3 persen. Jika debit air pada sistem aliran saluran penghubung Joe semula mencapai 30,07 meter kubik per detik, maka dengan adanya embung ini, debit air dapat berkurang menjadi 29,38 meter kubik per detik. "Memang kecil, tetapi bisa mereduksi, itu sebuah hal yang luar biasa," ujar Rano.
Pengurangan debit air, meskipun persentasenya terlihat kecil, memiliki dampak signifikan dalam mencegah luapan air dan genangan di area sekitarnya. Setiap upaya reduksi sangat penting untuk menjaga stabilitas sistem drainase kota. Kontribusi Embung Kebagusan ini akan melengkapi upaya-upaya lain yang telah dan akan terus dilakukan oleh pemerintah daerah.
Peran Strategis Embung dalam Pengendalian Banjir Jakarta
Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum, mengungkapkan bahwa Embung Kebagusan adalah satu dari tujuh embung yang sedang dalam tahap pembangunan di Jakarta. Saat ini, sudah ada sekitar 50 embung dan waduk yang berfungsi di ibu kota, menunjukkan skala upaya Pemprov DKI dalam mengelola sumber daya air.
Pembangunan Embung Kebagusan secara spesifik ditujukan untuk menangani genangan air atau banjir di wilayah Pegangsaan Dua, yang dikenal sebagai lokasi langganan banjir akibat luapan saluran penghubung Joe. Embung ini juga akan berkontribusi dalam mengatasi banjir di Kelurahan Kebagusan. Selain itu, embung ini berfungsi sebagai infrastruktur pengendali banjir yang vital di wilayah Pasar Minggu dan kawasan Jakarta Selatan secara keseluruhan.
Ika Agustin Ningrum menargetkan pembangunan Embung Kebagusan akan rampung pada akhir tahun 2026. Penyelesaian proyek ini diharapkan dapat segera memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Jakarta Selatan. Keberadaan embung-embung baru ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas penampungan air dan mengurangi risiko banjir secara signifikan di berbagai titik rawan.
Sumber: AntaraNews