Dilempar Sandal dan Botol, Bupati Pati Dievakuasi Pakai Kendaraan Taktis
Akhirnya, Bupati Pati Sudewo hadir di tengah-tengah para demonstran.
Aksi unjuk rasa menuntut pelengseran Bupati Pati, Sudewo, pada Rabu (13/8), berakhir ricuh. Kericuhan pecah saat Sudewo akhirnya keluar menemui massa dengan syarat tidak ada kontak fisik.
Namun, tak lama setelah ia tampil, sejumlah demonstran melemparkan berbagai benda ke arahnya hingga aparat harus mengevakuasi menggunakan kendaraan taktis.
Sebelumnya, situasi memanas ketika pengunjuk rasa melempari petugas pengamanan. Polisi terpaksa membubarkan massa dengan gas air mata karena kerumunan sulit dikendalikan.
Beberapa demonstran menyerang aparat, menyebabkan sejumlah polisi luka. Sementara itu, warga yang terkena gas air mata berlarian sambil mengusap mata yang perih.
Kepala Polresta Pati, Kombes Pol Jaka Wahyudi, bersama Dandim 0718/Pati Letkol Arm Timotius Berlian Yogi Ananto, sempat hadir di tengah massa untuk mengimbau agar aspirasi disampaikan secara tertib.
“Polri dan TNI akan mengawal penyampaian aspirasi kalian ke dewan. Mohon kegiatan ini kondusif dan tidak anarkis,” ujar Jaka dikutip dari Liputan6, Rabu (13/8).
Letkol Timotius menegaskan komitmen TNI–Polri menjaga keamanan jalannya aksi. Ia juga mengingatkan agar massa waspada terhadap potensi penyusupan.
“Kami akan mengawal kalian semua, tapi jangan sampai ada yang disusupi,” tegasnya.
Para demonstran tetap bertahan di lokasi
Setelah pukul 11.23 WIB, massa aksi di Kabupaten Pati mulai membubarkan diri secara beriringan usai aparat melakukan pembubaran paksa. Namun, hingga 12.30 WIB, unjuk rasa belum sepenuhnya usai. Sejumlah kelompok masih bertahan di titik-titik yang luput dari tembakan gas air mata.
Aksi ini dipicu kebijakan Pemerintah Kabupaten Pati yang menaikkan tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) hingga 250 persen. Meski tidak berlaku untuk semua objek pajak—sebagian hanya naik 50 persen—kebijakan tersebut tetap memicu gelombang penolakan.
Situasi kian memanas setelah pernyataan Bupati Pati, Sudewo, yang dinilai meremehkan keresahan warga dengan mempersilakan aksi unjuk rasa berpeserta 5.000 bahkan 50.000 orang.
Sebagai bentuk protes, warga menggelar aksi donasi air mineral kemasan yang ditumpuk di sepanjang trotoar depan Pendopo Kabupaten Pati, menjadi simbol perlawanan sekaligus dukungan logistik bagi peserta demo.