Dampak Gangguan Commuter Line Duri-Tangerang, Perjalanan KRL dan Basoetta Tersendat
Gangguan teknis terjadi pada Commuter Line No.1978A relasi Duri-Tangerang, Selasa (26/5/2026) sore.
Gangguan teknis pada Commuter Line No.1978A relasi Duri-Tangerang, Selasa (26/5/2026) sore, sempat mengganggu operasional perjalanan Commuter Line Tangerang dan Commuter Line Basoetta. Akibat insiden tersebut, sejumlah perjalanan mengalami keterlambatan dan dua perjalanan terpaksa dibatalkan.
Manager Public Relations KAI Commuter, Leza Arlan, menjelaskan rangkaian kereta yang mengalami kendala teknis sempat berhenti di jalur kereta api. Petugas kemudian melakukan evakuasi dengan menggandeng rangkaian tersebut menggunakan kereta lain menuju Stasiun Rawa Buaya untuk pemeriksaan lebih lanjut.
“Seluruh pengguna Commuter Line No.1978A dialihkan ke Commuter Line No.1980A sebagai pemberangkatan berikutnya di Stasiun Bojongindah,” kata Leza saat dihubungi, Selasa (26/5/2026).
Sejumlah Perjalanan Terlambat dan Dibatalkan
Dampak dari gangguan tersebut cukup terasa pada operasional perjalanan. KAI Commuter mencatat sebanyak tiga perjalanan Commuter Line Tangerang dan empat perjalanan Commuter Line Basoetta mengalami keterlambatan.
Selain itu, dua perjalanan Commuter Line Tangerang juga harus dibatalkan akibat gangguan yang terjadi.
Untuk menjaga keselamatan dan menghindari penumpukan penumpang, KAI Commuter menerapkan penyekatan pengguna di hall lantai 2 Stasiun Duri, khususnya di area menuju peron.
Operasional Kembali Normal
Leza mengatakan operasional perjalanan baru kembali normal pada pukul 19.39 WIB setelah proses penanganan dan pemeriksaan selesai dilakukan.
KAI Commuter juga menyampaikan permohonan maaf kepada para pengguna atas keterlambatan dan ketidaknyamanan selama gangguan berlangsung.
Bagi pengguna Commuter Line Basoetta yang memilih membatalkan perjalanan akibat tingginya keterlambatan, KAI Commuter memberikan pengembalian biaya tiket secara penuh melalui petugas layanan di stasiun Basoetta.
Saat ini KAI Commuter masih melakukan normalisasi perjalanan serta penguraian antrean kereta untuk meminimalkan dampak keterlambatan di lintas tersebut.