BPJN Lampung Siapkan Alat Berat Antisipasi 39 Titik Rawan Longsor Jelang Lebaran 2026
Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Lampung mengambil langkah antisipasi longsor di 39 titik rawan pada ruas jalan nasional menjelang Angkutan Lebaran 2026, guna memastikan mobilitas masyarakat tetap lancar.
Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Lampung telah menyiapkan alat berat atau Disaster Relief Unit (DRU) sebagai langkah proaktif untuk mengantisipasi potensi terhambatnya mobilitas masyarakat. Persiapan ini dilakukan secara khusus menjelang Angkutan Lebaran 2026, dengan fokus pada 39 titik rawan longsor yang tersebar di ruas jalan nasional wilayah Lampung.
Kepala BPJN Lampung, M Ali Duhari, menjelaskan bahwa pemetaan telah dilakukan untuk mengidentifikasi ruas-ruas jalan yang berpotensi tinggi mengalami longsor. "Jadi terkait dengan persiapan untuk jalur mudik Lebaran 2026. Kami harus melihat kondisi yang ada di lapangan, untuk ruas-ruas yang rawan longsor ternyata berdasarkan pemetaan ada 39 titik ruas yang masuk jalan nasional," ujar M Ali Duhari di Bandarlampung, Jumat.
Kesiapan ini bertujuan untuk memastikan kelancaran arus lalu lintas pemudik dan mengurangi risiko gangguan akibat bencana alam. Penyiapan alat berat ini merupakan bagian dari strategi komprehensif BPJN Lampung dalam menjaga infrastruktur jalan nasional agar tetap aman dan fungsional selama periode krusial tersebut.
Strategi BPJN Lampung Hadapi Titik Rawan Longsor
BPJN Lampung telah mengidentifikasi secara spesifik lokasi-lokasi rawan longsor di wilayah kerjanya. Titik rawan terbanyak berada di unit kerja atau Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.1, tepatnya di ruas Kota Agung-Bengkunat, dengan total 18 titik. Selain itu, PPK 2.3 yang mencakup sepanjang ruas Lintas Barat juga memiliki jumlah titik rawan longsor yang signifikan, yaitu 16 titik.
Penempatan alat Disaster Relief Unit (DRU) dilakukan di sekitar lokasi-lokasi rawan tersebut. Hal ini memungkinkan respons cepat jika terjadi insiden longsor. "Dan kami sudah menyiapkan alat-alat Disaster Relief Unit di sekitar lokasi. Jadi apabila terjadi longsor, langsung turunkan alat berat tersebut. Kalau longsornya menimbulkan timbunan yang menutup badan jalan, langsung bisa dibersihkan," kata Ali Duhari. Langkah ini sangat penting untuk meminimalkan waktu penutupan jalan dan memastikan arus lalu lintas dapat segera pulih.
Strategi ini mencerminkan komitmen BPJN Lampung dalam menjaga konektivitas dan keselamatan pengguna jalan. Dengan penempatan alat yang strategis, diharapkan setiap kejadian longsor dapat ditangani dengan efisien. Kesiapan ini juga merupakan bagian dari upaya mitigasi risiko bencana yang terintegrasi dengan rencana Angkutan Lebaran.
Rincian Alat Berat dan Koordinasi Lintas Instansi
Alat Disaster Relief Unit (DRU) yang disiapkan oleh BPJN Lampung terdiri dari berbagai jenis alat berat yang esensial untuk penanganan longsor. Unit-unit tersebut meliputi delapan unit dump truck, tujuh unit excavator, tiga unit pick up, dua unit baby roller, satu unit motor grader, dan satu unit tandem roller. Kelengkapan alat ini dirancang untuk dapat mengatasi berbagai skala longsor, mulai dari timbunan kecil hingga yang menutup seluruh badan jalan.
Material dan alat DRU ini disiapkan oleh masing-masing Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di wilayah kerjanya. Meskipun jumlah alat yang disiapkan mungkin terlihat terbatas, BPJN Lampung tidak bekerja sendiri. Mereka telah menjalin koordinasi erat dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk memastikan ketersediaan bantuan tambahan.
Kerja sama dengan instansi lain seperti BBWS menjadi krusial apabila terjadi bencana longsor berskala besar yang membutuhkan suplai alat dan material lebih banyak. Koordinasi ini menunjukkan pendekatan kolaboratif pemerintah dalam menghadapi potensi bencana alam. Sinergi antarlembaga diharapkan dapat memperkuat kapasitas penanganan darurat dan mempercepat proses pemulihan.
Identifikasi Lokasi Rawan Longsor di Lampung
BPJN Lampung telah merinci sejumlah ruas jalan yang menjadi titik rawan bencana longsor. Di ruas Simpang Tanjung Karang-Kilometer 10, terdapat satu titik yang sering mengalami longsor di lereng dan bahu jalan. Ruas Balimbing, Kota Agung Timur, memiliki dua titik rawan longsor karena kondisi jalan yang dikelilingi tebing.
Ruas Kota Agung-Bengkunat merupakan area dengan 18 titik rawan longsor, disebabkan oleh keberadaan tebing dan jurang alami di sisi jalan. Selain itu, ruas Lemong Lintas Barat memiliki tiga titik rawan, ruas Kota Liwa-Simpang Gunung Kemala satu titik, dan Lintas Barat-Karya Penggawa juga satu titik rawan.
Area lain yang perlu diwaspadai adalah ruas Krui-Liwa, Way Krui dengan dua titik rawan longsor, serta ruas Kota Liwa-Simpang Gunung Kemala dengan empat titik rawan. Ruas Krui-Liwa, Balik Bukit, memiliki dua titik rawan longsor, sedangkan ruas Padang Tambak-Batas Kota Liwa satu titik. Terakhir, ruas Bukit Kemuning memiliki dua titik rawan longsor akibat kondisi jalan yang berdekatan dengan lereng. Pemetaan detail ini memungkinkan BPJN Lampung untuk melakukan penanganan yang lebih terfokus dan efektif.
Sumber: AntaraNews