BBPJN Jateng-DIY Petakan 46 Titik Rawan Macet Mudik Lebaran 2026, Siagakan Personel dan Alat Berat

Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta telah memetakan 46 titik rawan macet mudik Lebaran 2026 di jalur Pantura hingga selatan, serta menyiagakan personel dan peralatan darurat untuk kelancaran arus lalu.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
BBPJN Jateng-DIY Petakan 46 Titik Rawan Macet Mudik Lebaran 2026, Siagakan Personel dan Alat Berat
Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta telah memetakan 46 titik rawan macet mudik Lebaran 2026 di jalur Pantura hingga selatan, serta menyiagakan personel dan peralatan darurat untuk kelancaran arus lalu. (AntaraNews)

Semarang – Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (Jateng-DIY) telah merampungkan pemetaan terhadap setidaknya 46 titik rawan kemacetan menjelang arus mudik dan balik Lebaran 2026. Pemetaan ini dilakukan untuk memastikan kelancaran perjalanan para pemudik yang akan melintasi wilayah tersebut.

Kepala BBPJN Jateng-DIY, Moch Iqbal Tamher, mengungkapkan bahwa titik-titik rawan kemacetan ini tersebar merata di berbagai koridor utama. Meliputi jalur pantura yang padat, jalur tengah, hingga jalur selatan yang memiliki karakteristik berbeda.

Mayoritas titik rawan macet tersebut diidentifikasi berada di kawasan padat seperti pasar, perlintasan sebidang kereta api, simpang padat, serta akses keluar-masuk tol. Kesiapan dini ini diharapkan dapat meminimalkan potensi hambatan selama periode mudik Lebaran.

BBPJN Jateng-DIY telah secara cermat memetakan 46 titik rawan kemacetan yang berpotensi menghambat arus mudik dan balik Lebaran 2026. Fokus utama pemetaan ini adalah pada lokasi-lokasi yang secara historis sering mengalami penumpukan kendaraan. Titik-titik ini mencakup area dengan aktivitas ekonomi tinggi dan persimpangan yang kompleks.

Jalur pantura menjadi perhatian khusus karena merupakan koridor paling krusial yang menampung kendaraan jarak jauh dari arah barat ke timur. Jalur ini juga menjadi lintasan utama bagi kendaraan logistik dan bus antarkota. Pengelolaan lalu lintas di jalur ini sangat penting untuk distribusi dan mobilitas nasional.

Moch Iqbal Tamher menegaskan, “Seluruh titik sudah kami petakan. Personel dan peralatan kami siapkan agar potensi hambatan arus mudik bisa diminimalkan.” Pernyataan ini menunjukkan komitmen BBPJN dalam menghadapi tantangan arus mudik.

Selain kemacetan, BBPJN Jateng-DIY juga mengidentifikasi 23 titik rawan bencana yang memerlukan perhatian ekstra selama musim mudik Lebaran. Titik-titik ini terbagi menjadi 14 titik rawan banjir dan 9 titik rawan longsor. Potensi bencana alam ini dapat mengganggu kelancaran perjalanan secara signifikan.

Titik rawan banjir tersebar di beberapa ruas jalan vital, antara lain:

  • Jalan Kaligawe Semarang
  • Ruas Sayung di perbatasan Kota Semarang - Demak
  • Jalan Walisongo
  • Ruas Kendal di jalur Pantura
  • Ruas Pemuda Brebes
  • Prupuk - Batas Kabupaten Tegal/Banyumas
  • Sidareja - Simpang 3 Jeruklegi
  • Sampang - Buntu
  • Klampok - Banjarnegara
  • Lingkar Selatan Klaten
  • Palur - Sragen

Ruas-ruas ini umumnya berada di dataran rendah atau wilayah dengan riwayat genangan akibat hujan intensitas tinggi maupun rob. Sementara itu, titik rawan longsor banyak terdapat di jalur selatan dan wilayah perbukitan, seperti batas Jawa Barat - Karangpucung–Wangon, Ajibarang - Wangon, Wangon - batas Banyumas/Cilacap, Patikraja - Rawalo, hingga batas Kota Banjarnegara - Wonosobo. Karakteristik tanah labil dan kontur perbukitan menjadi faktor utama potensi longsor di wilayah tersebut, terutama saat curah hujan tinggi.

Untuk mengantisipasi ketidaklancaran akibat kemacetan dan bencana, BBPJN Jateng-DIY telah menyiagakan empat Unit Pelaksanaan Peralatan (UPP) Disaster Relief Unit (DRU). Unit-unit ini ditempatkan secara strategis di Pekalongan, Karangjati, Buntu, dan Yogyakarta. Penempatan ini memastikan respons cepat terhadap insiden.

Kesiapan peralatan tanggap darurat juga menjadi prioritas utama. “Kami juga siapkan unit peralatan tanggap darurat di empat titik. Jadi kalau terjadi gangguan besar seperti banjir atau longsor, alat sudah siap digerakkan,” jelas Moch Iqbal Tamher. Ini menunjukkan keseriusan dalam penanganan darurat.

Peralatan yang tersedia sangat beragam, mencakup excavator, wheel loader, motor grader, dump truck kecil dan tronton, cold milling machine, asphalt finisher, hingga truck trailer. Selain itu, BBPJN juga menyiapkan material tanggap darurat seperti rangka jembatan darurat bentang 30 meter, kawat bronjong, sand bag, sheet pile, serta tambalan cepat mantap. Semua ini disiapkan untuk memastikan infrastruktur jalan tetap berfungsi optimal.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi