Bayang-Bayang Bullying dan Kekerasan Seksual Hantui Siswa di Tengah Peringatan Hardiknas 2025
Bullying dan kekerasan seksual masih menjadi bayang-bayang gelap di lingkungan sekolah.
Di tengah gegap gempita perayaan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), ada kenyataan pahit yang tak bisa diabaikan. Bullying dan kekerasan seksual masih menjadi bayang-bayang gelap di lingkungan sekolah.
Sekolah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak-anak untuk tumbuh dan belajar. Namun faktanya, banyak dari mereka justru menghadapi teror dari teman sebaya hingga pendidik.
Perundungan yang terjadi tak lagi sebatas olokan, tetapi kerap berujung pada kekerasan fisik, mental, hingga hilangnya nyawa. Di sisi lain, kasus kekerasan seksual di sekolah mengejutkan publik karena dilakukan oleh orang-orang yang seharusnya melindungi.
Data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), hingga September 2024, tercatat ada 293 kasus kekerasan di sekolah. Kasus ini didominasi kekerasan seksual, jumlahnya mencapai 42 persen.
Disusul perundungan 31 persen, kekerasan fisik 10 persen, kekerasan psikis 11 persen, dan kebijakan yang mengandung kekerasan 6 persen.
Sementara data Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), sepanjang 2023 tercatat 30 kasus bullying di sekolah, dengan korban terbanyak berasal dari jenjang SMP. Bahkan, dua kasus di antaranya berujung kematian.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat, pada tahun 2023 ada 2.355 pelanggaran perlindungan anak, dengan 87 kasus bullying dan 487 kasus kekerasan seksual.
Bahkan, 3.800 anak dilaporkan mengalami trauma mental. Sebagian besar dari kasus ini terjadi di lingkungan sekolah, baik formal maupun pesantren.
Salah satu kasus yang mencuat terjadi di Jawa Timur, di mana seorang guru di sekolah menengah melakukan kekerasan seksual terhadap beberapa siswinya selama bertahun-tahun. Sementara itu, di Sukabumi, seorang siswa meninggal akibat kekerasan dari teman sebaya.
Kasus-kasus seperti ini tidak hanya menodai dunia pendidikan, tetapi juga menghancurkan masa depan anak-anak yang seharusnya dilindungi.
Ketua Dewan Pakar FSGI, Retno Listyarti menyebut, lemahnya sistem pengawasan internal dan kurangnya pelatihan guru dalam membangun budaya anti-kekerasan menjadi akar dari berulangnya tragedi ini.
"Sekolah belum sepenuhnya menjadi ruang aman. Banyak guru masih abai, dan siswa tidak tahu ke mana harus melapor," katanya.
Tawuran
Tak hanya bullying dan kekerasan seksual, tawuran masih menjadi PR berat bagi dunia pendidikan. Di Jakarta, aparat kembali mengamankan belasan pelajar yang terlibat tawuran antarsekolah, hanya beberapa hari sebelum Hardiknas diperingati.
Di Tangerang, kasus tawuran meningkat 36 persen sepanjang tahun lalu. Media sosial menjadi alat baru untuk merancang pertemuan berujung bentrokan, dan sebagian pelaku bahkan masih duduk di bangku SMP.
Mereka bukannya sibuk mengerjakan PR atau mempersiapkan ujian, tapi justru membawa senjata tajam dan bertaruh nyawa demi 'gengsi' semu.
Hardiknas Momen Reflektif
Retno Listyarti mengatakan, peringatan Hardiknas seharusnya menjadi momen reflektif, bukan hanya seremoni.
"Ini adalah peringatan bahwa pendidikan kita belum sepenuhnya berhasil menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendidik," ujar dia.
Di tengah peringatan Hardiknas, Indonesia masih punya pekerjaan rumah yang berat. Pendidikan yang tidak menjamin keamanan murid adalah pendidikan yang gagal.
Tanpa jaminan rasa aman, proses belajar tak akan pernah utuh, dan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa akan tinggal mimpi.