Eks Mendikbud Bicara soal Bullying di SMPN 1 Grobogan : Lemahnya Pendidikan Karakter di Sekolah
Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak sekolah di Indonesia belum menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi peserta didik.
Kasus perundungan (bullying) di lingkungan sekolah yang terus bermunculan di berbagai daerah mendapat sorotan tajam dari mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendi. Ia menilai, kondisi ini menunjukkan bahwa banyak sekolah di Indonesia belum menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi peserta didik.
"Sebagai mantan Mendikbud tentu saya sangat prihatin dengan kasus perundungan (bullying) yang masih terjadi di sekolah-sekolah kita. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi anak-anak sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan maksimal. Bukan menjadi tempat yang menakutkan," ujar Muhadjir Effendi, Senin (20/10).
Bullying Cerminan Lemahnya Pendidikan Karakter di Sekolah
Muhadjir menilai bahwa maraknya kasus perundungan bukan sekadar masalah pelanggaran disiplin, melainkan tanda lemahnya pembentukan karakter dan budaya di lingkungan pendidikan. Ia menekankan perlunya penerapan pendidikan karakter yang nyata dan konsisten, baik di sekolah maupun di rumah.
"Bullying bukan cuma soal pelanggaran disiplin, tetapi juga soal karakter dan budaya sekolah. Karena itu, pendidikan karakter harus diterapkan secara nyata di rumah maupun di sekolah," ujarnya.
Menurutnya, pendidikan karakter tidak cukup hanya menjadi slogan, melainkan harus menjadi sistem yang hidup dalam keseharian siswa dan guru. Ia menilai bahwa sekolah memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai empati, saling menghargai, dan anti-kekerasan.
Peran Kepala Sekolah Jadi Kunci Pencegahan Bullying
Lebih lanjut, Muhadjir menyoroti pentingnya peran kepala sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif. Ia menekankan bahwa kepala sekolah harus berperan sebagai school manager yang mampu menyinergikan peran guru, orang tua, dan masyarakat untuk membentuk karakter siswa secara holistik.
"Kepala sekolah sebagai school manager harus mampu mengorkestrasi peran guru, orang tua siswa, dan pemuka masyarakat dalam suatu kerja sama dalam membentuk karakter siswa. Kalau iklim sekolahnya baik, komunikasi yang intens dan saling berempati satu sama lain, maka praktik bullying bisa dicegah sejak awal," tegas Muhadjir.
Ia menambahkan, kepala sekolah yang aktif membangun komunikasi dan kepedulian di lingkungan sekolah dapat menciptakan atmosfer belajar yang lebih sehat dan menghargai perbedaan.
Sistem Pendidikan yang Keras Jadi Akar Masalah
Sementara itu, pengamat pendidikan Budi Trikorayanto menilai budaya bullying di sekolah juga dipicu oleh sistem pendidikan yang masih mengandalkan pendekatan keras dan hukuman fisik dalam membentuk kedisiplinan siswa.
"Kalau menurut saya terkait dengan sistem pendidikannya ya yang agak sedikit mengutamakan kekerasan juga. Misalnya sekolah yang bagus sekolah yang disiplin, kalau telat dihukum, pakai poin," kata Budi saat dihubungi Liputan6.com, Minggu (16/2).
Ia menjelaskan, pendekatan pendidikan seperti itu justru menanamkan budaya kekerasan dan tidak menumbuhkan kasih sayang dalam proses belajar.
"Iya, jadi kita mulai sistem pendidikannya. Kita ini mulai dari sistem pabrik ya dengan standar, dengan seragam," ujarnya.
Menurut Budi, setiap anak memiliki potensi dan kemampuan berbeda, namun sistem pendidikan yang terlalu seragam justru mengabaikan keberagaman tersebut.
"Belajarnya sama, seragam semua. Padahal setiap anak itu kan minat dan bakatnya beda," tegasnya.
Lembaga Pendidikan Pertahankan Budaya Kekerasan
Budi juga menyoroti lembaga pendidikan kedinasan yang masih mempertahankan budaya kekerasan dengan dalih membentuk mental kuat. Padahal, menurutnya, anak yang mengalami kekerasan justru berpotensi menjadi pelaku kekerasan di masa depan.
"Anak yang mengalami kekerasan bukan tahan terhadap kekerasan, tapi menjadi pelaku dari kekerasan itu sendiri. Anak itu mencontoh ya. Kalau anak dengan kasih sayang akan menghadapi kekerasan dengan kasih sayang," ungkapnya.
Fenomena bullying yang terus meningkat ini menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan Indonesia. Para ahli menegaskan perlunya pembenahan sistem pendidikan yang lebih humanis, menumbuhkan karakter empatik, serta menjadikan sekolah sebagai ruang aman bagi setiap anak untuk belajar dan berkembang tanpa rasa takut.
Sebelumnya, kasus perundungan juga terjadi di SMPN 1 Geyer, kepolisian telah menetapkan dua orang sebagai tersangka dalam kasus perundungan yang melibatkan Angga Bagas Perwira (12), seorang siswa dari SMPN 1 Geyer, yang terletak di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Karena kedua tersangka masih di bawah umur, mereka tidak ditahan.
Menurut informasi dari Liputan6.com, kronologi kematian ABP (12) yang merupakan murid kelas VII di SMPN 1 Geyer dimulai ketika korban dan teman-temannya melaksanakan kerja bakti di sekolah pada hari Sabtu (11/10) sekitar pukul 07.00 Wib.
Saat itu, para murid laki-laki bekerja di luar kelas, sedangkan murid perempuan berada di dalam kelas. Selama kerja bakti, korban diejek oleh salah satu temannya yang diduga sebagai pelaku, yang menyatakan bahwa korban mirip dengan murid perempuan lainnya. Pelaku kemudian memaksa korban untuk masuk ke dalam kelas dan bergabung dengan murid-murid perempuan.
Ejekan tersebut memicu terjadinya perkelahian antara korban dan pelaku, namun masalah tersebut dapat dilerai dan dianggap selesai. Namun, sekitar pukul 11.30 Wib, setelah jam istirahat, korban kembali terlibat dalam perkelahian dengan siswa lainnya.
Dalam perkelahian kedua ini, korban diduga didorong dan dipukul hingga jatuh, yang menyebabkan kepala korban terbentur ke lantai. Setelah terjatuh, korban mengalami kejang-kejang dan segera dibawa ke ruang UKS.
Namun, setibanya di UKS, korban sudah tidak bernapas. Dalam keadaan panik, beberapa guru di SMPN 1 Geyer membawa korban ke Puskesmas Geyer, tetapi setelah dilakukan pemeriksaan oleh tim medis, korban dinyatakan telah meninggal dunia.
Reporter Magang: Adinda Washiilah Mo'o