Respons Mendikdasmen soal Marak Kasus Perundungan di Sekolah 'Kita Selesaikan Bersama-sama

Abdul Mu'ti mengatakan kasus Bullying atau perundungan di lingkungan sekolah harus diselesaikan bersama-sama.

Ihwan Fajar
Oleh Ihwan Fajar - Reporter
Respons Mendikdasmen soal Marak Kasus Perundungan di Sekolah 'Kita Selesaikan Bersama-sama
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti. (Ihwan Fajar)

Publik kembali menyoroti maraknya aksi bully yang dilakukan senior kepada junior di kalangan pelajar.

Korban terbaru adalah seorang siswa berusia 16 tahun di SMA Negeri 6 Garut, Jawa Barat, ditemukan gantung diri pada hari pertama sekolah, Senin, 14 Juli 2025. Siswa dengan inisial PN diduga korban perundungan atau bullying di sekolah.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan kasus Bullying atau perundungan di lingkungan sekolah harus diselesaikan bersama-sama.

"Ini (perundungan) memang masih menjadi masalah yang harus kita selesaikan bersama-sama," ujarnya kepada wartawan usai menghadiri Munas Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia di Claro Hotel Makassar, Jumat (25/7).

Meski demikian, Abdul Mu'ti tak setuju jika disebut marak kasus perundungan di lingkungan sekolah.

"Tetapi saya kira kok tidak marak ya? Ada lah begitu, tidak marak. Kalau marak itu kan kesannya meningkat," kata dia.

Abdul Mu'ti menegaskan selama setengah tahun ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sudah berusaha untuk menekan terjadinya perundungan di lingkup sekolah. Salah satu program untuk menekan perundungan di lingkup sekolah yakni Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

"Kami setengah tahun ini berusaha semaksimal mungkin, bagaimana menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan ramah. Itu pula yang kami tekankan dalam MPLS 2025 ini yang memiliki prinsip ramah," tuturnya.

Melalui MPLS, sekolah harus bisa menjadi rumah yang aman bagi anak-anak. Selain itu, di sekolah pula harus ditumbuhkan saling menerima dan menghormati.

"Kami ingin agar empat pusat pendidikan ini berjalan saling memperkuat. Empat pusat pendidikan anak itu yakni sekolah, keluarga, masyarakat, dan teman.

"Kami berharap karakter anak-anak kita ini semakin baik, kekerasan bisa semakin kita kurangi, bahkan bisa kita hapuskan. Sehingga sekali lagi, sekolah, rumah, dan masyarakat itu mendapatkan ketenangan, kenyamanan, karena tidak ada kekerasan," katanya.

Rekomendasi