Tahukah Anda? Pelajaran Budi Pekerti, Solusi Ampuh Cegah Perundungan di Sekolah yang Kian Marak
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyerukan penggalakan kembali Pelajaran Budi Pekerti di sekolah sebagai langkah krusial menghentikan perundungan yang terus memakan korban dan menimbulkan dampak serius.
Kasus perundungan di lingkungan sekolah menjadi perhatian serius, mendorong berbagai pihak untuk mencari solusi efektif. Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menyoroti urgensi penggalakan kembali pelajaran budi pekerti sebagai langkah fundamental. Beliau menegaskan bahwa edukasi karakter ini krusial untuk mencegah tindakan perundungan yang kerap terjadi di lembaga pendidikan.
Perundungan, yang telah berlangsung sejak lama dan bukan fenomena baru, memerlukan penanganan serius dan sistematis. Lestari Moerdijat menekankan bahwa tanpa intervensi yang tepat, kasus-kasus perundungan akan terus memakan korban. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan edukasi, pengawasan, dan dukungan psikologis bagi siswa.
Pernyataan ini muncul di tengah keprihatinan publik atas insiden perundungan yang berujung tragis, seperti yang menimpa Timothy Anugerah Saputra. Mahasiswa Universitas Udayana tersebut diduga mengakhiri hidupnya setelah mengalami tekanan psikologis berat akibat perundungan. Kejadian ini memicu gelombang simpati dan kemarahan, menunjukkan betapa mendesaknya masalah perundungan di lingkungan pendidikan.
Pentingnya Pelajaran Budi Pekerti dalam Mencegah Perundungan
Lestari Moerdijat secara tegas menyatakan bahwa pelajaran budi pekerti harus digalakkan kembali di sekolah untuk menghentikan perundungan. Menurutnya, edukasi kepada anak-anak agar tidak melakukan tindakan perundungan dan penguatan nilai-nilai luhur adalah kunci. "Dalam berbagai diskusi yang saya usulkan, yang pasti edukasi kepada anak-anak untuk tidak melakukan tindakan tersebut dan pelajaran budi pekerti seperti zaman saya kecil dulu harus digalakkan kembali," kata Lestari Moerdijat.
Beliau menambahkan bahwa masalah perundungan di bangku sekolah bukanlah hal baru, melainkan sudah terjadi sejak lama. Oleh karena itu, penanganannya tidak bisa ditunda dan harus dilakukan secara serius. Penguatan karakter melalui budi pekerti diharapkan mampu menanamkan empati dan rasa hormat antar sesama siswa.
Pelajaran budi pekerti dapat membentuk karakter siswa menjadi pribadi yang lebih berintegritas dan bertanggung jawab. Dengan pemahaman yang kuat tentang etika dan moral, diharapkan siswa dapat lebih menghargai perbedaan. Ini juga akan mengurangi potensi terjadinya konflik dan tindakan kekerasan di lingkungan sekolah.
Mengenali dan Melindungi Korban Perundungan
Tindak perundungan sering kali menyasar anak-anak yang dianggap lemah di sekolah, sebuah pola yang Lestari Moerdijat amati secara konsisten. "Karena kalau kita pelajari, tipikal anak yang dibully itu hampir semua sama mulai dari SD, SMP, SMA," ujarnya. Kondisi ini menuntut peran aktif tenaga pendidik dalam mencegah dan memberikan penguatan kepada kelompok rentan tersebut.
Pemerintah dan pihak sekolah diharapkan memberikan perhatian khusus kepada anak-anak yang berisiko menjadi sasaran perundungan. Memberikan ruang aman untuk mengadu atau mencari bantuan adalah langkah krusial. Kurangnya wadah untuk berekspresi sering kali membuat korban menjadi bulan-bulanan tanpa ada jalan keluar.
Intervensi tidak hanya ditujukan kepada pelaku perundungan, tetapi juga kepada korban. Perlu ada metode yang memberikan penguatan agar korban berani melawan atau keluar dari situasi perundungan. "Saya rasa harus ada intervensi, intervensi bukan hanya kepada anak didik saja, tetapi ada satu metode yang memberikan penguatan kepada para korban sendiri untuk berani melawan atau keluar dari perundungan tersebut," jelas Lestari Moerdijat.
Kasus Tragis dan Reaksi Publik
Urgensi penanganan perundungan semakin nyata dengan kasus yang menimpa Timothy Anugerah Saputra (22). Mahasiswa semester VII Program Studi Sosiologi Universitas Udayana (Unud) Bali ini ditemukan meninggal dunia, diduga akibat bunuh diri pada Rabu (15/10). Timothy disebut mengalami tekanan psikologis berat akibat perundungan dari rekan-rekannya.
Peristiwa ini memicu gelombang simpati dan kemarahan publik yang meluas, terutama setelah beredar tangkapan layar percakapan grup WhatsApp. Percakapan tersebut menunjukkan bahwa korban sering dijadikan bahan ejekan oleh teman-temannya. Kasus ini menjadi pengingat akan dampak fatal dari perundungan yang tidak tertangani.
Ironisnya, usai kejadian tragis tersebut, sejumlah mahasiswa Unud justru melecehkan kematian Timothy di media sosial. Tindakan ini memantik kecaman luas di dunia maya, menunjukkan masih adanya kesenjangan pemahaman tentang empati dan dampak perundungan. Oleh karena itu, penggalakan pelajaran budi pekerti menjadi semakin relevan untuk membangun kesadaran kolektif.
Sumber: AntaraNews