ASDP Respons Cepat Atasi Kepadatan Arus Kendaraan di Ketapang Gilimanuk
ASDP Indonesia Ferry bergerak cepat merespons peningkatan arus kendaraan di lintasan Ketapang Gilimanuk, khususnya truk logistik, dengan langkah taktis dan kolaboratif untuk menjaga kelancaran penyeberangan.
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengambil langkah sigap menanggapi lonjakan arus kendaraan di penyeberangan Ketapang (Banyuwangi) menuju Gilimanuk (Bali). Peningkatan ini didominasi oleh truk logistik yang membutuhkan penanganan khusus.
Perusahaan pelat merah ini menerapkan strategi terintegrasi dan kolaborasi lintas sektor guna memastikan kelancaran operasional. Tujuannya adalah untuk mengurai antrean panjang yang terjadi di area pelabuhan.
Sekretaris PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Windy Andale, menegaskan komitmen perusahaan dalam mengatasi ketidaknyamanan pengguna jasa. Upaya ini dilakukan bersama seluruh pemangku kepentingan terkait.
Optimalisasi Penataan Dermaga untuk Efisiensi
ASDP melakukan percepatan layanan di pelabuhan melalui pengaturan pola muatan yang lebih terstruktur. Ini bertujuan untuk mengurangi konflik antar jenis kendaraan saat proses bongkar muat.
Dermaga 1, 2, dan 3 kini difokuskan khusus untuk kendaraan penumpang, seperti roda dua, roda empat pribadi, dan bus. Penataan ini diharapkan mempercepat proses keberangkatan kendaraan kecil.
Sementara itu, Dermaga 4 dan LCM (Landing Craft Machine) dimaksimalkan penggunaannya untuk kendaraan logistik berat. Skema ini terbukti efektif dalam mengurangi mixing conflict di area pelabuhan.
Dengan pola ini, proses bongkar muat kapal menjadi lebih homogen, cepat, dan efisien. Ini sangat krusial untuk menjaga kelancaran arus barang dan jasa.
Penguatan Operasional dan Kesiapan Armada ASDP Ketapang Gilimanuk
General Manajer PT ASDP Cabang Ketapang, Arief Eko, menjelaskan bahwa optimalisasi operasional juga mencakup penguatan ritme layanan kapal. Kesiapan fasilitas pendukung juga menjadi prioritas utama.
ASDP memastikan seluruh dermaga dan armada kapal beroperasi secara maksimal dengan pola layanan yang lebih terarah. Hal ini untuk mendukung kelancaran penyeberangan Ketapang Gilimanuk.
Fokus utama manajemen adalah mempercepat waktu penyelesaian bongkar muat kapal di setiap dermaga. Percepatan ini diharapkan dapat secara signifikan mengurangi antrean kendaraan yang menumpuk.
Langkah-langkah ini diambil untuk memastikan bahwa setiap kapal dapat berlayar sesuai jadwal. Dengan demikian, kapasitas angkut dapat dimaksimalkan dan antrean dapat terurai lebih cepat.
Pengendalian Volume Kendaraan dengan Buffer Zone
Pengendalian volume kendaraan juga diperkuat melalui optimalisasi penggunaan buffer zone di sekitar pelabuhan. Ini adalah strategi penting untuk mencegah penumpukan langsung di area utama.
Area Pusri difungsikan khusus sebagai buffer zone yang mampu menampung hingga 150 unit truk sumbu tiga. Lokasi ini menjadi titik tunggu awal bagi kendaraan logistik.
Selain itu, buffer zone Bulusan memiliki kapasitas yang lebih besar, mampu menampung sekitar 600 unit truk campuran. Kedua area ini berperan vital dalam manajemen antrean.
Arief Eko menambahkan bahwa langkah ini sangat efektif menjaga agar kepadatan kendaraan tidak langsung terakumulasi di dalam kawasan pelabuhan. Ini membantu menjaga ketertiban dan kelancaran.
Saat ini, hingga Jumat (3/4), antrean kendaraan dari arah utara (Situbondo-Banyuwangi) terpantau mencapai sekitar 7 kilometer. Antrean ini membentang dari pintu masuk pelabuhan ASDP Ketapang.
Dominasi antrean tersebut adalah kendaraan logistik, menunjukkan tingginya volume pengiriman barang. Meskipun demikian, arus kendaraan dari tollgate menuju dermaga tetap bergerak.
Waktu tempuh rata-rata dari tollgate hingga dermaga berkisar antara 20 hingga 35 menit. Ini menunjukkan adanya pergerakan meskipun terjadi kepadatan di jalur masuk pelabuhan.
Sumber: AntaraNews