Aksi Jogja Memanggil Digelar di Bundaran UGM
Boengkoes menjabarkan sudah banyak isu simpang siur di luar yang berpotensi menjadi bahan bakar bagi provokator.
Aksi demonstrasi dari elemen mahasiswa dan masyarakat yang menamakan diri Jogja Memanggil digelar di Bundaran UGM, Senin (1/9). Dalam aksinya ini massa menyuarakan kecaman keras pada arogansi aparat keamanan atas tindakan represif yang menyebabkan kematian korban.
Juru Bicara Jogja Memanggil Boengkoes membeberkan Jogja Memanggil memilih Bundaran UGM sebagai tempat aksi hari ini bukan tanpa alasan. Boengkoes menjabarkan sudah banyak isu simpang siur di luar yang berpotensi menjadi bahan bakar bagi provokator.
"Kenapa lokasinya di Bundaran UGM, yang pertama ada isu yang cukup digoreng. Kami juga antisipasi untuk melakukan aksi di Malioboro karena takutnya ada provokatif. Entah kita enggak tahu itu dari mana," ungkap Boengkoes.
Mempertimbangkan hal itu, Boengkoes menuturkan Jogja Memanggil kemudian sepakat melakukan demonstrasi di Bundaran UGM untuk meminimalisir adanya provokasi dalam aksi tersebut.
"Jangan sampai teman-teman pedagang kaki lima yang mencari nafkah di Malioboro itu, ya, terganggu aktivitas ekonomi untuk mencukupi kehidupan mereka sehari-hari itu, karena ada aksi dan lain sebagainya, kira-kira seperti itu," urai Boengkoes.
Boengkoes mengatakan aksi ini mengecam keras arogansi dan brutalitas aparat keamanan serta mendesak reformasi total Polri dan TNI, disertai ultimatum agar Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turun dari jabatannya jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.
"Aksi ini juga menyoroti kematian demonstran sebagai pemicu kemarahan publik. Tentu kita masih mengingat Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek daring yang meninggal ditabrak kendaraan taktis Brimob di Jakarta pada (28/8) atau Rheza Sendy Pratama mahasiswa Amikom di Yogyakarta yang mati digebuk polisi pada (31/8) di Depan Polda Yogyakarta. Kematian dua diantara banyaknya demonstran ini menjadi simbol luka kolektif bangsa," ujar Boengkoes.
Publik Marah dan Kecewa
Boengkoes menyatakan bahwa publik merasakan marah, kecewa, sekaligus takut. Marah, lanjut Boengkoes karena nyawa manusia diperlakukan begitu murah, kecewa karena reformasi kepolisian yang dijanjikan sejak dua dekade lalu tak kunjung terwujud, dan takut karena siapapun bisa menjadi korban berikutnya.
Dalam aksinya ini ada 17 tuntutan yang disampaikan oleh Jogja Memanggil. Tuntutan itu adalah gagalkan pemangkasan anggaran pendidikan dan wujudkan pendidikan gratis. Usut tuntas brutalitas aparat yang merenggut nyawa rakyat. Bebaskan semua demonstran, pejuang lingkungan, HAM, dan demokrasi
Pecat dan adili Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Lakukan reformasi Polri dan TNI secara total. Tarik militer ke barak, hapus komando teritori, dan cabut UU TNI. Turunkan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan pajaki orang kaya setinggi-tingginya.
Hapus program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hapus segala tunjangan di luar gaji pokok dan jaminan sosial-kesehatan bagi anggota DPR, pejabat pemerintahan, serta perwira TNI-POLRI. Setarakan gaji pejabat negara dengan upah buruh rata-rata. Naikan upah buruh, turunkan kebutuhan pokok rakyat. Gratiskan biaya kesehatan bagi semua rakyat. Gagalkan segala proyek strategis nasional. Lawan segala mafia tanah. Sahkan RUU Perampasan Aset.
Gagalkan upaya menaikkan status kepahlawanan Soeharto. Tangkap, adili, dan penjarakan pejabat dan aparat pelanggar HAM
"Kami memberikan ultimatum, jika salah satu saja tuntutan tidak dilakukan, maka mendesak Prabowo-Gibran turun dari jabatannya, serta melakukan pemilu ulang," tutup Boengkoes.