Perempuan Terdidik Susah Dapat Kerja
Serapan tenaga kerja perempuan tidak berbanding lurus dengan jumlah lulusan perempuan yang tinggi.
Di depan rumah sederhana berkelir biru yang mulai memudar, Fifi sibuk dengan ponselnya. Hampir saban hari mengecek notifikasi. Dia berharap ada email balasan atau pesan singkat membawa kabar baik dari HRD.
Fifi juga bolak balik membuka platform pencari kerja. Mulai dari LinkedIn, Jobstreet, hingga Kalibrr. Rasa kecewa, bosan dan kesal seringkali menggelayut di pikiran dan hati Fifi.
Tidak terhitung berapa banyak lamaran yang sudah dia kirim. Sayangnya, lamaran kerja yang dikirim jarang sekali dibalas perusahaan.
Fifi adalah lulusan sarjana komunikasi tahun 2020. Sudah hampir lima tahun dia menganggur. Fifi lantas menyadari dunia kerja nyatanya lebih kejam dari bayangan.
"Susah banget nyari kerja dengan gelar sarjana. Ditambah sekarang bersaing sama yang udah ada pengalaman, yang fresh graduate dan juga terbatas umur," ungkap Fifi kepada merdeka.com, Jumat (25/4).
Persaingan itu bukan hanya datang dari rekan seangkatan, tetapi mereka yang terkena PHK dan mencoba bangkit kembali, atau para profesional yang sedang mencari arah baru lewat switch career.
"Rata-rata company itu kalau fresh graduate terkadang nyarinya lihat kampus juga. Jeleknya Indonesia tuh di situ, kalau kampusnya enggak terkenal atau biasa-biasa aja menurut mereka enggak dilirik gitu loh," resahnya.
Dia pernah magang sebagai content writer di Detik, menjadi SEO writer intern di Insert, dan mengerjakan sejumlah proyek lepas di bidang digital marketing serta media sosial. Sederet pengalaman itu nyatanya tidak cukup membuat Fifi mudah dapat kerja.
Di balik semua keterbatasan, Fifi masih menyimpan keyakinan. Dia yakin dengan kemampuan dan semangatnya. Fifi punya spesialisasi di copywriting dan media sosial. Di situlah ia merasa hidup dan punya asa.
"Pengen ngembangin diri di dunia copywriter dan social media karena passion di situ," kata Fifi.
Bukan hanya untuk diri sendiri, Fifi menyimpan misi yang lebih besar, membantu ibunya yang seorang single mom dan membiayai adik-adiknya yang masih kuliah.
"Iya ada, karena pengen bantu nyokap yang single mom dan adik-adik gue juga masih pada kuliah. Pengen nabung juga buat masa depan sendiri," ujarnya lirih.
Tingkat Pengangguran Perempuan
Dilihat berdasarkan tingkat pengangguran terbuka (TPT), tren antara perempuan dan laki-laki sebenarnya hampir setara. Data BPS periode 2021-2024 mencatat, TPT perempuan mencapai 6,11 persen pada Agustus 2021, turun menjadi 5,75 persen pada Agustus 2022, lalu 5,15 persen pada Agustus 2023, dan 4,92 persen pada Agustus 2024.
Adapun, TPT laki-laki tercatat 6,74 persen pada Agustus 2021, turun menjadi 5,93 persen pada Agustus 2022, turun lagi menjadi 5,42 persen pada Agustus 2023, dan menjadi 4,90 persen pada Agustus 2024.
"Jika dirinci penurunan pengangguran terbuka dari Agustus 2023 ini terjadi baik dari penduduk laki-laki maupun perempuan dan terjadi di kota atau desa," papar Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (5/11) lalu.
Perempuan Pendidikan Tinggi Tak Jamin Mudah Dapat Kerja
Bagi perempuan era modern, menempuh pendidikan sampai jenjang tertinggi merupakan hal umrah. Data BPS menunjukkan, jumlah mahasiswa perempuan satu persen lebih banyak dibandingkan laki-laki. Mahasiswa perempuan tahun 2023 sebesar 51 persen dan laki-laki 49 persen.
Selanjutnya, data Sakernas 2023 menunjukkan perempuan dengan Pendidikan tinggi (diploma dan universitas) di Indonesia menunjukkan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) yang cukup tinggi di hampir seluruh provinsi.
Sebagian besar mencatatkan TPAK di atas 75 persen, bahkan mencapai lebih dari 80 persen di wilayah seperti Gorontalo (82,9%), Nusa Tenggara Timur (85,3%), dan Kepulauan Bangka Belitung (83,9%). Ini menunjukkan bahwa secara umum, perempuan lulusan perguruan tinggi memiliki keinginan dan kapasitas untuk berpartisipasi aktif dalam pasar kerja.
Akan tetapi, serapan tenaga kerja perempuan tidak berbanding lurus dengan jumlah lulusan perempuan yang tinggi. Jika dilihat dari tingkat pengangguran terbuka (TPT) untuk kelompok perempuan berpendidikan tinggi, masih banyak provinsi dengan angka TPT di atas 6 persen.
Sumatera Barat (7,27%), Nusa Tenggara Timur (7,6%), Sulawesi Utara (10,76%), dan Aceh (7,11%) adalah beberapa contoh wilayah dengan kombinasi TPAK tinggi, namun TPT yang juga tinggi. Hal ini menunjukkan adanya mismatch antara kualifikasi pendidikan dengan peluang kerja yang tersedia di pasar kerja lokal.
Peningkatan partisipasi perempuan di pasar kerja perlu diimbangi dengan perhatian terhadap kualitas pekerjaan yang mereka peroleh. Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah proporsi perempuan yang bekerja di segmen white collar yakni pekerjaan manajerial, profesional, dan asisten profesional.
Ada banyak faktor untuk menjelaskan mengapa proporsi perempuan di pekerjaan white collar masih rendah. Selain struktur ekonomi yang berbeda-beda di tiap daerah, ada pula faktor lain yang tak kalah penting yakni hambatan promosi karier, bias gender di sektor formal, serta minimnya representasi perempuan dalam posisi pengambilan keputusan.
Pengamat ketenagakerjaan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Tadjuddin Noer Effendi, menilai hambatan struktural terhadap perempuan di dunia kerja saat ini hampir tidak ada. Menurutnya, kesempatan antara laki-laki dan perempuan di pasar kerja sudah relatif setara.
“Kalau sekarang saya pikir tidak ada yang menghambat pasar pekerjaan perempuan. Semuanya menurut hemat saya hampir sama dengan laki-laki. Mereka bekerja di mana saja bisa sekarang," kata Tadjuddin kepada merdeka.com.
Bias Gender
Sebuah hasil survei memaparkan, 45 persen perempuan Indonesia mengaku pernah mengalami perlakuan tidak menyenangkan di kantor. Survei bertajuk Women's Equality in the Workplace dilakukan Populix pada Maret 2024.
Kesimpulannya, perempuan masih sering menerima bias gender di tempat kerja. Bias ini tidak hanya perlakuan, tapi juga menyangkut gaji hingga komposisi menjadi pimpinan atau jabatan tinggi di tempat kerja.
Dari hasil survei itu, 48 persen perempuan mengaku mendapat gaji yang tidak setara dengan laki-laki di tempat mereka bekerja. Sementara komposisi kepemimpinan di perusahaan juga masih lebih banyak dipegang laki-laki. Sebesar 53 persen laki-laki masih mendominasi di perusahaan sebagai pimpinan. Dan hanya 43 persen perempuan yang bisa menjabat sebagai pimpinan di tempat mereka bekerja.
Tak hanya gaji dan jabatan yang tidak seimbang, perempuan mengaku kerap mendapat perlakukan verbal. Dari seluruh responden, 48 persen dari mereka mengaku pernah menerima perlakukan verbal tidak menyenangkan. Baik dilakukan oleh lawan jenis maupun sesama perempuan.
Tertulis dalam survei, meskipun pendekatan untuk menghadapi situasi ini beragam, sebagian besar responden yang mengalaminya percaya bahwa hal ini berdampak negatif secara signifikan terhadap produktivitas kerja.