BPS Ungkap Penurunan Partisipasi Kerja Perempuan Bali, Bukan Pertanda Buruk?
Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat penurunan partisipasi kerja perempuan Bali pada November 2025, namun fenomena ini tidak selalu berarti negatif dan justru menunjukkan tingginya penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor.
Badan Pusat Statistik (BPS) Bali baru-baru ini merilis data yang menunjukkan adanya penurunan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) pada penduduk perempuan di Bali selama November 2025. Penurunan ini menjadi sorotan utama dalam laporan terbaru Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilakukan oleh lembaga statistik tersebut.
Kepala BPS Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, di Denpasar, menyatakan bahwa meskipun partisipasi angkatan kerja secara keseluruhan menurun, ada dinamika menarik di balik angka-angka tersebut. Ia menjelaskan bahwa penurunan ini didominasi oleh partisipasi perempuan, sementara partisipasi laki-laki justru mengalami peningkatan.
Data ini memicu pertanyaan mengenai faktor-faktor penyebab di balik tren tersebut, mengingat Bali sebagai destinasi pariwisata utama seringkali menjadi barometer ekonomi regional. BPS Bali pun mencoba menganalisis lebih dalam implikasi dari penurunan partisipasi kerja perempuan ini terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat.
Dinamika Angka Partisipasi Kerja Perempuan Bali
Berdasarkan data BPS Bali, terjadi penurunan signifikan pada tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan. Pada Agustus 2025, TPAK perempuan tercatat sebesar 70,84 persen, namun angka ini turun menjadi 68,05 persen pada November 2025.
Penurunan ini berkontribusi pada penurunan TPAK keseluruhan di Bali, dari 77,31 persen pada Agustus menjadi 76,29 persen pada November, dengan total angkatan kerja yang turun sebanyak 30,37 ribu orang.
Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) November 2025 menunjukkan bahwa dari 3,56 juta penduduk usia kerja di Bali, hanya 2,71 juta orang yang berpartisipasi sebagai angkatan kerja.
Interpretasi BPS: Bukan Sekadar Angka Negatif
Meskipun terjadi penurunan partisipasi kerja perempuan Bali, BPS Bali tidak serta merta melihat kondisi ini dari sisi negatif. Agus Gede Hendrayana Hermawan menyampaikan bahwa ada kemungkinan penurunan ini disebabkan oleh faktor-faktor positif.
Sebagai contoh, ia menjelaskan bahwa perempuan mungkin tidak perlu bekerja lagi karena kondisi ekonomi keluarga yang sudah tercukupi, atau karena mereka memilih untuk melanjutkan pendidikan. “Orang yang tidak turun ke lapangan pekerjaan tidak selalu berarti negatif,” ujar Agus Gede.
Oleh karena itu, BPS Bali menekankan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami secara mendalam alasan di balik tren ini, agar kebijakan yang diambil dapat lebih tepat sasaran.
Penyerapan Tenaga Kerja dan Tren Pengangguran
Menariknya, meskipun jumlah perempuan Bali yang menjadi angkatan kerja menurun, BPS Bali mencatat bahwa perempuan yang masih terjun ke lapangan kerja justru memiliki tingkat penyerapan yang tinggi.
Dari 2,71 juta angkatan kerja yang ada, sebanyak 2,67 juta orang sudah bekerja, dan jumlah pengangguran di Bali mengalami penurunan sebesar 1,74 ribu orang pada November 2025.
Penurunan angka pengangguran ini didominasi oleh perempuan, di mana tingkat pengangguran terbuka perempuan berkurang signifikan dari 1,48 persen menjadi 0,87 persen, sementara pengangguran laki-laki justru naik dari 1,51 persen menjadi 1,91 persen.
Sektor Usaha dan Potensi Pasar Kerja
BPS Bali juga mendata lapangan usaha yang tersebar di pulau tersebut, di mana penduduk Bali secara umum dominan bekerja di sektor perdagangan, pertanian, industri pengolahan, dan akomodasi makan minum.
Beberapa lapangan usaha menunjukkan penurunan penyerapan kerja pada November 2025, seperti pertanian dan pendidikan. Namun, sektor akomodasi makan minum justru mengalami peningkatan penyerapan tenaga kerja.
Fenomena ini menandakan bahwa perempuan Bali yang masih aktif dalam angkatan kerja memiliki potensi besar untuk mengisi berbagai lapangan usaha yang tersedia, terutama di sektor-sektor yang sedang berkembang.
Sumber: AntaraNews