Kisah Presiden Soekarno Menyatakan Cinta pada Siti Oetari di Jembatan Peneleh Surabaya, Sederhana tapi Romantis
Kota Surabaya menjadi tempat pertama kali belajar agama, menikah, dan bekerja.
Kota Surabaya menjadi tempat pertama kali belajar agama, menikah, dan bekerja.
Kisah Presiden Soekarno Menyatakan Cinta pada Siti Oetari di Jembatan Peneleh Surabaya, Sederhana tapi Romantis
Kisah cinta Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno dengan istri pertamanya, Siti Oetari, tak terlalu mendapat sorotan. Masih ada banyak fakta yang belum terungkap ke publik terkait hubungan asmara tersebut.
Kasih Sayang Soekarno
Kota Surabaya jadi saksi di mana Soekarno pertama kali bekerja untuk menghasilkan uang. Pekerjaan pertamanya yakni sebagai petugas kereta api di Stasiun Semut.
Putra Sang Fajar itu bekerja di Stasiun Semut selama tujuh bulan lamanya. Uang yang ia dapatkan dari pekerjaan tersebut diserahkan kepada HOS Tjokroaminoto, pemilik rumah indekos tempat ia tinggal sekaligus guru kehidupannya.
Jembatan Peneleh
Tidak banyak orang tahu bagaimana kisah cinta Soekarno dan Siti Oetari bermula. Mengutip Instagram @disperkim.surabaya, ternyata Bung Karno menyatakan cinta kepada istri pertamanya, Siti Oetari, di Jembatan Peneleh Kota Surabaya.
Kisah ini berawal dari adik HOS Tjokroaminoto yang menyarankan
Soekarno muda menikah dengan putri sulung Pak Tjokro, Siti
Oetari. Tujuannya untuk meringankan beban berat HOS Tjokroaminoto. Pasalnya, saat itu istri HOS Tjokro, Suharsikin tengah sakit parah.
Bung Karno pun menerima saran untuk menikahi Siti Oetari karena ia juga iba melihat gurunya terpuruk dalam kesedihan. Ia pun menyatakan cintanya kepada Oetari di atas Jembatan Peneleh.
Sederhana
Pernyataan cinta Bung Karno diterima Oetari. Pernikahan keduanya lantas digelar secara sederhana dan intim di
ruang tamu rumah milik HOS Tjokroaminoto yang beralamat di Kelurahan Peneleh Kecamatan Genteng Kota Surabaya.
"Setelah menikah dan cuti kuliahnya habis, dia (Bung
Karno) kemudian memboyong istrinya ke Bandung
untuk melanjutkan lagi kuliahnya," ujar Kuncar, penikmat Sejarah Surabaya, dikutip dari Disperkim Surabaya.
Rumah Tangga
"Aku berutang budi pada Pak Tjokro dan aku mencintai Oetari, walau hanya sedikit. Bagaimana pun, bila aku perlu menikahi Oetari guna meringankan beban orang yang aku puja, itu akan kulakukan," ujar Soekarno pada Cindy Adam, penulis buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
Saat pernikahan mereka berusia sekitar dua tahun, Soekarno pulang ke Surabaya untuk menyatakan keinginannya menceraikan Oetari.
Selama pernikahan, Soekarno dan Oetari tidak pernah melakukan hubungan seksual. Praktis, Oetari diceraikan dalam kondisi masih perawan.