Sosok Heldy Djafar, Istri Terakhir Presiden Soekarno Asal Kalimantan Timur
Saat menikah, Heldy istri kesembilan Soekarno berumur 18 tahun, sedangkan Soekarno berumur 65 tahun
Saat menikah, Heldy istri kesembilan Soekarno berumur 18 tahun, sedangkan Soekarno berumur 65 tahun
Sosok Heldy Djafar, Istri Terakhir Presiden Soekarno Asal Kalimantan Timur
Masa Muda
Heldy Djafar lahir pada tanggal 10 Agustus 1947 di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Secara perekonomian, Heldy lahir di keluarga yang cukup kaya. Hal ini dikarenakan ayahnya bernama H Djafar adalah seorang pemborong.
Selain keluarga kaya, Heldy juga sangat agamis, terbukti ia sudah khatam membaca Al-Qur'an sejak kecil. Saat beranjak SMP, tantenya meramalkan bahwa Heldy ketika sudah dewasa akan mendapatkan "orang besar". Tak hanya itu, Heldy juga disarankan untuk di jaga baik-baik selama beranjak dewasa.
Dari situlah, kedua orang tuanya dan juga kakak kandungnya sangat menjaga Heldy bak sebuah berlian.
Pindah ke Jakarta
Setelah menyelesaikan sekolah di bangku SMP, Heldy memutuskan untuk pindah ke Ibukota mengikuti sang kakak, Erham dan tinggal bersama di Jakarta Selatan.
Sang kakak bekerja di sebuah perusahaan bank dan sudah memiliki tiga orang anak. Di Jakarta, Heldy masuk di Sekolah Guru Kepandaian Putri (SGKP) yang terletak di daerah Pasar Baru. Di sini, Heldy diajarkan tentang dunia memasak dan mengurus rumah tangga.
Semasa sekolah di SGKP, Heldy terpilih sebagai murid termahir dalam membaca Al-Qur'an. Dari situ, namanya mulai melejit di lingkungan sekolahnya. Ia juga sempat diundang oleh Universitas Indonesia sebagai Qoriah dalam acara Peringatan Nuzulul Qur'an.
Hari Bertemu Soekarno
Pada tahun 1964, Yus yang merupakan kakak Heldy dipercaya oleh protokol kepresidenan untuk menyiapkan barisan Bhinneka Tunggal Ika ke Istana Negara dalam rangka menyambut tim Piala Thomas. Saat itu, Heldy terpilih menjadi salah satu barisan tersebut sebagai wakil dari Kalimantan.
Saat Presiden Soekarno menaiki anak tangga di Istana Presiden, ia melihat seluruh barisan Bhinneka Tunggal Ika tadi. Saat tiba di barisan Heldy, Soekarno pun menyapanya dengan cara yang khas dan berbeda dengan yang lainnya.
Saat sudah menempati posisi barisan, Heldy yang memilih berdiri di pojok agar tidak dilihat Soekarno pun gagal. Soekarno justru menyuruh ajudannya untuk memanggil Heldy untuk menghadapnya secara langsung.
Kemudian, saat barisan Bhinneka Tunggal Ika diwajibkan untuk menyanyi di depan presiden, Heldy ditunjuk sebagai penyanyi pertama. Ia pun membawakan lagu khas Kalimantan yang berjudul 'Bajiku Batang'. Secara mengejutkan, Bung Karno meminta Heldy untuk menyanyikannya sekali lagi.
Memutuskan Menikah
Sejak saat itu, pertemuan antara Heldy dan Presiden Soekarno sangatlah intens, baik acara formal maupun acara biasa. Akhirnya, Soekarno memutuskan untuk menikahi Heldy pada tahun 1966.
Saat menikah, Heldy masih berumur 18 tahun, sedangkan Soekarno sudah berumur 65 tahun. (Foto: liputan6)
Pernikahan yang Singkat
Setelah menjadi istri sah presiden, kehidupan Heldy berubah 180 derajat. Rumahnya dijaga ketat, saat Heldy pergi kemanapun harus dikawal. Ia pun sempat merasa kagok, namun lama kelamaan ia mulai terbiasa.
Saat umur pernikahannya masih terbilang baru, situasi politik sedang kacau. Hal tersebut memaksa Soekarno tinggal di Cimpedak, Polonia yaitu rumah Yurike Sanger, istri lain dari Soekarno.
Akhir Pernikahan
Heldy yang merasa tidak bisa bertemu dengan Soekarno saat kondisi politik sedang kacau, membuat Heldy untuk mengambil keputusan untuk berpisah dengan Soekarno.
Akhirnya kedua berpisah setelah 2 tahun menikah. Usai bercerai, Heldy menika dengan Gusti Suriansyah Noor, pria keturunan dari Kerajaan Banjar