Menguak Jejak Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia, Kini Hilang Tenggelam
Banyak peninggalan stasiun yang kini sudah jadi satu dengan perkampungan penduduk
Banyak peninggalan stasiun yang kini sudah jadi satu dengan perkampungan penduduk
Menguak Jejak Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia, Kini Hilang Tenggelam
Stasiun Kemidjen merupakan stasiun kereta api tertua di Indonesia. Stasiun yang dibangun perusahaan swasta Belanda, Nederlandsch Indische Maatschappij (NIS) pada tahun 1867 itu juga dikenal dengan nama Stasiun Samarang.
Namun kini keberadaan stasiun itu seperti hilang ditelan bumi. Stasiun itu terdampak banjir rob dan jejak-jejak peninggalannya sama sekali hilang dan tenggelam.
Stasiun Kemidjen dibuka bersamaan dengan dibukanya jalur kereta api Semarang-Tanggung. Saat itu jalur itu penting perannya untuk mengangkut hasil bumi.
“Jadi Stasiun Kemidjen itu stasiun yang pertama kali dibangun pada masa pemerintah Hindia Belanda. Stasiun itu dihubungkan dengan stasiun yang penuh hutan, hal-hal seperti batu, tembakau,” kata Matrozi, Mantan Kepala Stasiun Kemidjen, dilansir dari kanal YouTube IMIX TV.
Di kemudian hari, tak jauh dari bekas Stasiun Kemidjen berdiri Stasiun Semarang Gudang.
Stasiun itu berfungsi sebagai bongkar muat gerbong barang. Namun aktivitas tersebut mengalami penurunan sejak tahun 2006. Stasiun Semarang Gudang akhirnya berhenti beroperasi.
Para karyawan yang sebelumnya bekerja di stasiun tersebut kemudian dipindahkan bertugas di stasiun lain.
“Dulu ada hampir 100 pegawai yang bekerja di sini. Karena waktu itu PT KAI minta kenaikan tarif tapi tidak disetujui Bu Sri, akhirnya aktivitas berhenti,” kata Karjono, mantan pengawas kereta Stasiun Kemidjen.
Kini peninggalan bangunan stasiun seolah hilang tak bersisa. Bagian emplasemen stasiun telah berubah menjadi tempat pembuangan sampah dan juga rawa-rawa yang tergenang rob.
Kini tinggal peninggalan Kantor NIS yang masih berdiri kokoh dengan kondisi tak terurus. Rencananya bangunan itu akan dicanangkan sebagai cagar budaya.
“Desas-desus yang kami dengar, ini mau dibangun. Tapi entah kapan dan saya tidak tahu. Itu yang tahu hanya pejabat-pejabat. Kalau yang saya tahu di sini baik, walaupun saya sudah tidak menjadi karyawan tapi saya ikut mengamati bangunan ini sedikit-sedikit,” ungkap Karjono.
Baik Stasiun Kemidjen maupun Stasiun Semarang Gudang kodisinya tak terurus. Bahkan Stasiun Kemidjen telah hilang tenggelam banjir rob. Selain itu, banyak lahannya yang kini sudah menjadi permukiman warga.
“Karena sudah banyak orang, sekarang jadi jalan kampung. Yang asli itu yang ada bundar bulatnya di dalam. Lebarnya dari lingkungan bundar sampai lingkungan dalam itu hanya lima meter. Yang aslinya itu pokoknya genteng yang merah dari situ sampai sana."
kata Ngatiyem, warga setempat, menjelaskan tentang bekas peninggalan bangunan Stasiun Kemidjen dan Stasiun Semarang Gudang yang masih asli bangunannya.