Sejarah Boven Digoel di Ujung Papua, Dulunya Jadi 'Pembuangan' Para Tokoh Besar Indonesia

Saat menjadi kamp pembuangan, Boven Digoel merupakan perpaduan kawasan rawa dan hutan yang iklimnya cukup panas.

Shani Rasyid
Oleh Shani Rasyid - Reporter
Sejarah Boven Digoel di Ujung Papua, Dulunya Jadi 'Pembuangan' Para Tokoh Besar Indonesia
Sejarah Boven Digoel di Ujung Papua, Dulunya Jadi 'Pembuangan' Para Tokoh Besar Indonesia (Merdeka.com)

Boven Digoel merupakan sebuah wilayah kabupaten di Provinsi Papua Selatan. Wilayah kabupaten ini baru terbentuk pada tahun 2002 sebagai pemekaran dari Kabupaten Merauke, bersamaan pula dengan terbentuknya kabupaten lain di selatan Papua yaitu Kabupaten Asmat dan Kabupaten Mappi.

Walaupun terhitung kabupaten baru hasil pemekaran Kabupaten Merauke, namun Boven Digoel merupakan salah satu tempat bersejarah di Indonesia. Dulunya tempat itu menjadi lokasi pembuangan para tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia. Tokoh-tokoh seperti Sutan Sjahrir, Mohammad Hatta, Sayuti Melik, hingga Marco Kartodikromo pernah dibuang di tempat itu.

Lalu seperti apa sejarahnya dulu Boven Digoel sebagai tempat pembuangan para tokoh bangsa? Dan bagaimana kondisinya saat ini? berikut selengkapnya:

Kamp Boven Digoel
Kamp Boven Digoel YouTube/Kominfo Newsroom

Pemerintah Hindia Belanda memutuskan Boven Digoel sebagai tempat pembuangan para tawanan dan pemberontak negara sejak 18 November 1926.

Saat itu, tempat itu merupakan perpaduan kawasan rawa dan hutan yang iklimnya cukup panas. Satu-satunya akses menuju kamp itu hanyalah Sungai Digoel yang bisa dilalui dengan kapal motor. Di sepanjang sungai itu menjadi tempat bermukimnya berbagai suku di Papua.

Rombongan tawanan pertama yang tiba di Boven Digoel berjumlah 1.300 orang. Saat itu mereka ditempatkan di Tanah Merah, sekarang menjadi ibu kota Kabupaten Boven Digoel. Pada tahun-tahun itu, ratusan orang meninggal karena kelaparan dan sakit.

Penderitaan selama di Boven Digoel membuat mereka mencoba melarikan diri ke Australia. Tapi hanya sedikit dari mereka yang berhasil. Sebagian dari mereka terpaksa kembali dan yang lainnya mati tenggelam.

Kamp Boven Digoel
Kamp Boven Digoel YouTube/Kominfo Newsroom

Sementara itu, Mohammad Hatta lebih banyak menghabiskan waktu di Boven Digoel dengan banyak membaca buku. Buku-buku itu dibawa oleh orang Kaya-kaya yang merupakan penduduk asli Boven Digoel dengan bayaran sebesar 5 sen untuk setiap peti buku. Mereka mengangkut peti-peti itu dari kapal yang mengangkut Hatta menuju lokasi kamp tempat kediamannya selama di Boven Digoel.

Setiap dua kali seminggu Hatta akan mengajarkan tentang ilmu ekonomi dan ilmu filsafat kepada sesama tahanan di Boven Digoel. Ia menambah penghasilannya dengan menulis di surat kabar Pemandangan.

Sementara itu Sjahrir memilih masuk dalam kategori tahanan naturalis. Di sana ia mendapatkan sebuah rumah dari seng. Ia mengisi waktu di sana dengan bermain sepak bola dan berenang di sungai. Setelah 10 bulan di Boven Digoel, Sjahrir terkena penyakit Malaria dan merasakan penderitaan yang hebat. Setahun di Boven Digoel, Hatta dan Sjahrir dipindahkan ke kamp tahanan di Banda Neira, Maluku.

Kamp Boven Digoel
Kamp Boven Digoel YouTube/Kominfo Newsroom

Di Boven Digoel, kamp tahanan itu kini menjadi salah satu bangunan bersejarah. Dikutip dari kanal YouTube Kominfo Newsroom, bangunan penjara itu rata-rata dapat menampung sebanyak 50 orang narapidana dengan tempat tidur bersama seperti balai besar. Selain itu penjara tersebut memiliki ruang bawah tanah yang dipergunakan untuk menyimpan bahan makanan dan narapidana yang tidak patuh.

Adrianus Moromon, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Boven Digoel, mengatakan pihaknya berencana akan membangun sarana pendukung seperti museum dan galeri budaya di situs kamp tahanan itu.

Rekomendasi