Mencicipi Ayam Mbah Tumbu, Kuliner Legendaris Gunungkidul Sudah Ada sejak 1963
Dalam sehari, puluhan ekor ayam kampung bisa habis untuk memenuhi permintaan pembeli.
Dalam sehari, puluhan ekor ayam kampung bisa habis untuk memenuhi permintaan pembeli.
Mencicipi Ayam Mbah Tumbu, Kuliner Legendaris Gunungkidul Sudah Ada sejak 1963
Ada kuliner ayam goreng yang rasanya begitu lezat di Gunungkidul. Namanya Ayam Goreng Mbah Tumbu. Kuliner ini terbilang legendaris karena sudah ada sejak tahun 1963.
Warung Ayam Goreng Mbah Tumbu terletak di Ngebrak Barat, Kecamatan Semanu, Gunungkidul.
Dalam sehari, puluhan ekor ayam kampung bisa habis untuk memenuhi permintaan pembeli.
Cara memasaknya juga masih tradisional, yaitu menggunakan kayu bakar.
Dilansir dari Javanese culinary, sebelum digoreng ayam sudah terlebih dahulu dimasak menggunakan bumbu bacem. Setelah itu ayam baru digoreng. Tak lupa ayam goreng itu disajikan bersama makanan lain seperti tempe dan tahu bacem, serta kuah opor.
Anggit Suyatno, cucu Mbah Tumbu, mengatakan bahwa saat ini warung makan ayam goreng itu dikelola oleh generasi kedua.
Anggit bercerita, dulu neneknya berjualan ayam goreng itu dari pagi sampai sore di rumah. Saat sore hari, ia akan membawa ayam goreng yang sudah dimasak untuk dijual ke pasar.
Anggit mengatakan satu porsi ayam kampung Mbah Tumbu dihargai rata-rata Rp40 ribu. Tapi harga itu menyesuaikan ukuran potongan ayamnya.
“Kalau dada itu Rp29-30 ribu, kalau paha atas Rp28 ribu, kepala sama paha bawah Rp13 ribu, ati ampela Rp8 ribu,” kata Anggit dikutip dari kanal YouTube Javanese culinary.
Anggit mengatakan, warungnya setiap hari menyediakan ayam bersih sebanyak 30 ekor. Semuanya ayam kampung asli dan merupakan ayam jantan.
“Ayamnya masih perjaka. Jadi ukurannya sedang tapi tidak terlalu kecil,” ujar Anggit.