Data Pemda Berbicara, SD Kepek di Gunungkidul Rusak Parah Tak Masuk Program Prioritas
Sekolah Dasar Negeri 1 Kepek yang terletak di Saptosari, Gunungkidul mengalami kerusakan parah, sehingga siswa harus belajar di musala sebagai alternatif.
Di tengah upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas pendidikan, SD Negeri 1 Kepek di Saptosari, Gunungkidul, justru menghadapi kondisi yang berlawanan. Sejumlah siswa terpaksa belajar di musala dan ruang darurat akibat keterbatasan ruang kelas yang mengalami kerusakan. Dinas Pendidikan Gunungkidul melalui akun Instagram resminya, disdik-gk, menegaskan komitmennya dalam pembangunan sektor pendidikan.
"Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan melalui Program BOCAH PINTER, yang berfokus pada peningkatan sarana prasarana serta tenaga pendidik dan kependidikan," tulis akun tersebut.
Dalam unggahan tersebut, juga dijelaskan bahwa pemerintah telah melakukan pengecekan langsung ke berbagai sekolah, termasuk SD Negeri 1 Kepek.
"Salah satu langkah nyata dilakukan melalui pengecekan langsung kondisi sekolah, termasuk di SDN Kepek 1 Saptosari," lanjutnya.
Namun, hasil pendataan menunjukkan bahwa sekolah tersebut belum menjadi prioritas perbaikan. "Berdasarkan data Dapodik, tingkat kerusakan sekolah tersebut sebesar 21,43 persen sehingga belum masuk dalam prioritas program revitalisasi tahun 2026," tulisnya. Hal ini menjadi perhatian, mengingat kondisi nyata di lapangan.
Kerusakan bangunan di SD Negeri 1 Kepek telah dirasakan sejak sekitar satu tahun lalu dan terus memburuk. Dari total 12 ruang kelas, lima di antaranya kini dalam kondisi rusak berat. Ruang perpustakaan bahkan telah ambruk sejak setahun lalu, sementara tiga ruang kelas lainnya sudah tidak digunakan selama lebih dari tiga tahun karena atap bocor dan bangunan yang lapuk.
Selain itu, ruang kelas 6 mengalami kerusakan pada Februari 2026 setelah genting ambrol saat hujan deras. Beruntung, seluruh kejadian ambruk tidak menimbulkan korban jiwa karena terjadi di luar jam belajar.
Belajar di musala menjadi pilihan yang terpaksa
Kondisi tersebut memaksa pihak sekolah untuk melakukan penyesuaian darurat. Siswa kelas 6 dipindahkan ke ruang lain, sedangkan siswa kelas 2 harus belajar di musala dengan beralaskan karpet. Ruang kelas 1 yang sebelumnya terpisah kini digabung dengan perpustakaan dan tidak lagi memiliki plafon.
Meskipun dalam situasi yang sulit, sebanyak 148 siswa bersama 14 guru dan tenaga kependidikan tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar di tengah keterbatasan yang ada.
Situasi ini menciptakan anomali antara data administratif dan kondisi faktual yang terjadi. Di satu sisi, tingkat kerusakan dinilai belum memenuhi syarat untuk mendapatkan prioritas. Namun, di sisi lain, aktivitas belajar mengajar sudah berlangsung dalam kondisi yang sangat tidak layak dan berpotensi membahayakan. Meskipun demikian, pemerintah daerah tetap berkomitmen untuk melakukan penanganan.
"Pemkab Gunungkidul memastikan penanganan tetap dilakukan melalui skema anggaran perubahan tahun 2026, sebagai bentuk respons cepat terhadap kebutuhan riil di lapangan," tulis akun tersebut.
Dinas Pendidikan juga mencatat bahwa dari total 463 sekolah dasar di Gunungkidul, sebanyak 358 sekolah masuk dalam daftar longlist kerusakan, dengan 105 sekolah menjadi prioritas penanganan berdasarkan tingkat urgensi.