Ratusan Warga Gunungkidul Antusias Ikuti Layanan Periksa Mata Gratis, Tingkatkan Akses Kesehatan Mata di Pelosok
Ratusan warga Gunungkidul membanjiri layanan periksa mata gratis di Kapanewon Girisubo, menunjukkan antusiasme tinggi untuk mengatasi masalah kesehatan mata di wilayah pelosok dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
Ratusan warga di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mendapatkan akses layanan periksa mata gratis yang sangat dibutuhkan. Kegiatan bakti sosial ini diselenggarakan di Kapanewon Girisubo, menarik perhatian masyarakat luas dari berbagai wilayah sekitar. Sebanyak 240 orang tercatat telah menerima layanan pemeriksaan mata, melampaui target awal yang ditetapkan panitia.
Layanan kesehatan mata gratis ini bertujuan untuk menangani berbagai permasalahan sosial kesehatan mata yang kerap terjadi di wilayah pelosok Gunungkidul. Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menyampaikan apresiasinya atas respons luar biasa dari masyarakat. Antusiasme ini menunjukkan kebutuhan mendesak akan akses layanan kesehatan yang lebih mudah dan terjangkau bagi warga.
Kegiatan ini tidak hanya melibatkan warga dari Kapanewon Girisubo, tetapi juga menjangkau masyarakat dari Kapanewon Rongkop dan sekitarnya. Inisiatif kolaboratif antara institusi pendidikan dan kesehatan ini menjadi contoh nyata semangat gotong royong. Hal ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan kualitas kesehatan mata di seluruh wilayah Gunungkidul.
Antusiasme Warga dan Dukungan Kolaboratif
Respons masyarakat terhadap program layanan periksa mata gratis ini sungguh luar biasa, dengan jumlah pendaftar mencapai 240 peserta. Angka ini jauh melampaui target awal yang hanya ditetapkan sebanyak 200 peserta. Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, mengungkapkan rasa bangganya atas partisipasi aktif warga.
Kuntariningsih juga menyampaikan apresiasi tinggi terhadap semangat gotong royong yang ditunjukkan oleh berbagai institusi. Kolaborasi antara institusi pendidikan dan kesehatan dinilai sangat penting dalam membantu warga mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang lebih baik. Kesehatan mata seringkali terabaikan, padahal merupakan anugerah terbesar dari Tuhan yang mendukung produktivitas dan kualitas hidup.
Masyarakat diimbau untuk tidak menganggap remeh munculnya gejala mata kabur atau kelilipan, karena penglihatan yang baik adalah kunci. "Penglihatan adalah pintu bagi anak-anak untuk belajar dengan baik dan bagi orang tua untuk tetap produktif bekerja," kata Endah. Deteksi dini dan penanganan yang tepat sangat krusial untuk menjaga fungsi penglihatan.
Penanganan Gangguan Penglihatan dan Tantangan di Gunungkidul
Ketua Perdami Yogyakarta, Firman Setya Wardhana, menjelaskan bahwa sekitar 80 persen penyebab kebutaan adalah gangguan penglihatan seperti katarak. Kondisi ini dapat membuat penderita sulit bekerja dan bahkan bergantung pada orang lain, yang pada akhirnya berdampak pada sektor ekonomi. Oleh karena itu, program skrining menjadi sangat vital.
Program bakti sosial ini mencakup tiga layanan utama yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Layanan tersebut meliputi skrining katarak, skrining pterigium (selaput mata), dan pemeriksaan kacamata gratis. Seluruh layanan ini didukung penuh oleh dana zakat yang dikelola oleh Baznas, menunjukkan peran penting lembaga filantropi dalam mendukung kesehatan masyarakat.
Firman juga menyoroti tantangan besar terkait layanan kesehatan mata di Gunungkidul, terutama keterbatasan jumlah dokter mata. Saat ini, jumlah dokter mata di wilayah tersebut tidak lebih dari 10 orang, yang tentu saja belum memadai untuk melayani seluruh populasi. Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin pendekatan layanan yang lebih dekat ke masyarakat, termasuk rencana program pendidikan kader dan guru sekolah untuk deteksi dini masalah mata di masa depan.
Sebagai upaya jangka panjang, tim medis juga memberikan edukasi mengenai Myopia Week, khususnya kewaspadaan terhadap penggunaan gawai pada anak-anak. Mereka mengajak masyarakat untuk menerapkan rumus 20-20-20: setiap 20 menit melihat layar, istirahatkan mata selama 20 detik dengan melihat objek sejauh 20 kaki. Anak-anak juga disarankan bermain di luar ruangan minimal 2 jam sehari untuk menjaga kesehatan mata mereka.
Wariyem, salah satu peserta dari Kapanewon Girisubo, mengungkapkan kegembiraannya setelah mengikuti pemeriksaan mata. Ia tidak hanya mendapatkan layanan periksa, tetapi juga fasilitas kacamata secara gratis. "Karena saya ingin bisa baca Al Quran dengan jelas," kata Wariyem, menunjukkan dampak langsung program ini terhadap kualitas hidup individu.
Sumber: AntaraNews