Orang Jakarta Butuh Jeda, Kabur Sebentar dari Ibu Kota
Untuk melepas penat ke luar kota, rekreasi ke alam sering sebagai pilihan.
Menjadi pekerja di Jakarta merupakan salah satu impian banyak orang. Namun menjalaninya tidaklah mudah.
Amay (28) contohnya. Dia bekerja sebagai Sr. Copywriter & Social Media Strategist di salah satu perusahaan Education Tech. Hampir tujuh tahun dia menekuni pekerjaan tersebut. Satu prinsip yang selalu dia pegang teguh hingga saat ini, harus pintar menjaga kesehatan mental. Karena, tingginya intensitas pekerjaan di Jakarta tak ayal bisa membuat dirinya setres.
Dia mengaku, sebagai pekerja di Jakarta butuh waktu jeda untuk sekedar liburan atau healing di tengah padatnya pekerjaan. Cara ini dia lakukan untuk menjaga kesehatan mentalnya
"Selain materi dan kesehatan fisik, pekerja di Jakarta ini butuh kesehatan mental juga. Apalagi kita yang kerjanya 9 to 6, berangkat dan pulang harus naik transum dan macet-macetan di jalan, kita perlu slow down dan refreshing supaya kerjanya bisa lebih efektif, apalagi buat orang yang kerjanya di bidang kreatif kayak saya ini, kita perlu suasana baru buat nemuin ide-ide kreatif lainnya," kata Amay saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (20/6).
Amay bercerita, liburan baginya tidak melulu harus merogoh kocek tebal. Karena, banyak di Jakarta tempat-tempat yang bisa dijadikan healing.
"Sebulan 1 sampai 2 kali city tour di Jakarta dan sekitarnya, atau cuma kulineran aja di sekitar sini, terus minimal banget setahun sekali jalan-jalan yang agak jauh supaya tetap waras, tapi ini bisa disesuaikan budget juga sih," ucapnya.
Untuk melepas penat ke luar kota, Amay lebih memilih alam sebagai tujuan. Baginya, hijaunya hutan dan udara sejuk, merupakan asupan energi baru dalam menjalani rutinitas.
"lebih suka ke gunung sih, ya wishnya bisa jalan-jalan ke luar negeri juga tiap tahunnya, tapi in this economy ya kita loat budgetnya dulu," tutur Amay.
Pekerja Jakarta Butuh Jam Kerja Manusiawi
Sementara itu, Sosiolog Nia Elvina menilai, penting sekali adanya waktu jeda bagi para pekerja Jakarta untuk sekedar jalan-jalan. Sebab, hal itu akan berpengaruh terhadap kinerja seorang pekerja.
Dia menyebut, untuk menjaga agar pekerja tetap baik kinerjanya, para perusahaan di Jakarta perlu menerapkan jam kerja yang manusiawi. Sehingga, pekerja dapat meluangkan waktu untuk sekedar healing atau beristirahat lebih panjang.
"Saya kira sudah saatnya Jakarta menerapkan jam kerja yang lebih manusiawi. Karena dari beberapa kajian, jam kerja atau banyaknya waktu libur, dengan produktivitas para pekerja," kata Nia, saat dihubungi merdeka.com, Kamis (19/6).
Secara Sosiologis, kata Nia, nilai yang dianut dalam relasi kerja idealnya adalah nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga aturan atau jam kerja harus disesuaikan dengan nilai-nilai kemanusiaan tersebut.
"Sehingga produktivitas kerjapun akan optimal," imbuh Nia.