Orang Jakarta Iri Lihat Orang Daerah Slow Living
Fenomena slow living memang semakin populer, terutama di kalangan Gen Z dan milenial yang mulai mempertanyakan makna produktivitas.
Adit (25) menatap layar ponselnya lama di teras rumahnya. Video yang dia putar ialah suasana pagi hari dengan konten sarapan smoothie bowl berlatar belakang pantai.
Suara ombak samar-samar terdengar dari kejauhan. Membuat mata Adit pangling membayangkan suasana ketenangan yang indah.
Adit kembali menggeser jarinya. Lagi-lagi ada video seorang yang bekerja di co-working space terbuka dengan latar belakang sawah.
Adit menyimak semuanya dalam diam dengan tubuh yang baru saja pulang dari 9 jam kerja, leher pegal, dan mata yang mulai berat. Entah kenapa, dia merasa lebih hidup di video itu ketimbang dalam realitasnya sendiri.
"Itu bukan gaya hidup gua, tapi kok kayaknya enak banget ya?" kata Adit saat cerita dengan merdeka.com, Kamis (18/6).
Bagi Adit, di Jakarta waktu bergerak seperti mesin rusak. Cepat tapi tak pernah selesai. Bangun pagi, buru-buru ke kantor, macet, layar laptop menyala terus, rapat bertumpuk, lalu pulang hanya untuk mengulang lagi esok hari.
Di tengah itu semua, Bali maupun lembah hijau di Ubud jadi semacam surga yang ingin Adit kunjungi setiap hari. Bikin iri lantaran terlalu indah dan tenang.
Pria yang bekerja di bank ini kerap disuguhkan konten-konten liburan maupun tempat indah yang tenang. Namun, semua itu baru bisa tersimpan di ponsel karena hiruk pikuk pekerjaan di kota begitu sibuk.
"Explore Instagram tempat-tempat keren, tapi ya, belum sempat ke mana-mana. Belum ngumpulin uang sama mesti cuti bagi waktu," ucap Adit.
Nikmati Slow Living Lewat Cerita Orang
Banyak orang Jakarta hanya bisa menikmati slow living dari konten orang lain. Tak terkecuali Anisa (26), seorang pekerja di coffe shop cukup mewah di bilangan Jakarta.
Anisa kerap melihat TikTok tentang kopi di suasana alam, Instagram reels orang yang bangun tidur di kabin kayu lengkap dengan selimut tebal dan embun pagi.
Dia kadang iri dengan orang yang selalu menikmati kehidupan slow living. Namun, Anisa selalu bersyukur masih bisa hidup cukup sembari menghadapi keruwetan Jakarta.
"Kadang gue mikir, ini beneran nggak sih hidup kayak gitu? Apa mereka nggak punya kerjaan? Apa hidup mereka semudah itu?" ucapnya.
Melihat kehidupan slow living ketika relaksasi pulang kerja, dia cukup sadar betapa sudah lama tidak melihat langit tanpa kabel listrik.
Sayangnya, sistem hidup di Jakarta serasa tak memberi ruang untuk itu. Waktu adalah uang, dan pelan dianggap lamban.
"Terakhir kali gue ke alam beneran itu tahun 2024 awal camping, setelah itu, kerja nggak berhenti-berhenti," katanya.
Tak hanya itu, ada rasa iri yang tak tertahankan di benak Ali (26). Di sela-sela tenggat dan brief yang datang mendadak, dia tanpa sengaja menggulir Instagram dan mendapati traveler sedang duduk santai di beranda kayu, menghirup udara pegunungan, dan bercengkrama dengan teman-teman.
Tetapi, pagi belum sepenuhnya terang. Layar laptop Ali sudah menyala. Dia melanjutkan meneguk kopi instan sambil membuka ratusan email klien.
Baginya, kerja di dunia agensi seperti lomba maraton tanpa garis akhir. Kerja keras dipuji, lembur jadi kebiasaan, dan jeda dianggap kemewahan.
Impian Hidup Damai di Desa
Ali menilai, banyak anak muda memilih karier di industri kreatif karena dianggap keren, dinamis, dan penuh tantangan. Namun, di balik cepat dan revisi bertubi-tubi, banyak juga yang diam-diam mengidamkan ritme hidup yang lebih tenang.
"Saya suka kerja di agensi, tapi kadang rasanya terlalu cepat," kata Ali.
"Kadang ya iri lihat yang bisa tinggal di desa buka usaha, atau kerja remote sambil traveling. Mereka kayaknya hidup lebih damai aja," ungkapnya.
Ali mengakui, fenomena slow living memang semakin populer, terutama di kalangan Gen Z dan milenial yang mulai mempertanyakan makna produktivitas. Tak lagi terpaku pada gaji tinggi atau jabatan mentereng.
Kata dia, banyak yang mulai mencari makna hidup dalam bentuk sederhana. Punya waktu untuk diri sendiri, koneksi dengan alam, dan pekerjaan yang tak menguras jiwa.
Sayangnya, di sisi lain hal ini bertolak belakang dengan bertahan hidup.
"Namun, apakah slow living hanya sebatas estetika media sosial? Atau bisa benar-benar jadi pilihan hidup yang realistis?" imbuh Ali.