Slow Living Ala Orang Jakarta
Di kota seperti Jakarta yang hidup serba cepat, duduk di kafe dengan teman yang bisa diajak cerita panjang adalah bentuk slow living sangat mungkin dilakukan.
Denyut Jakarta seolah tak pernah terhenti di usianya yang nyaris setengah milenium pada 22 Juni 2025 mendatang . Seakan waktu tak berjeda. Menuntut semua bergerak cepat, meski terkadang raga tak sempat bernapas lega.
Hiruk pikuk Jakarta terkadang membuat Yoga (28) ingin menyerah. Bagaimana tidak. Untuk sekadar mencintai dirinya sendiri pun terasa tak sempat. Hari-harinya berkutat dengan kesibukan panjang tak berkesudahan.
Sore itu, Yoga mencuri sedikit waktu sibuknya untuk sekadar duduk di sebuah kafe kecil di bilangan Jakarta Barat bersama dua temannya. Memesan es kopi susu, membuka laptop sebentar, lalu memindahkan fokusnya ke ponsel.
Jempolnya mulai menari di layar, musik latar khas game Mobile Legends terdengar samar. Sambil bersandar di sofa rotan dan menyeruput kopi perlahan, Yoga memulai match keempatnya hari itu.
"Slow living nggak harus berarti lepas dari gadget, ya kan?" kata Yoga saat cerita dengan merdeka.com, Kamis (19/6).
Bagi sebagian orang, kafe adalah tempat kerja, tempat ngobrol, atau tempat pamer outfit. Tetapi buat Yoga, bersantai di kafe adalah waktu buat mengisi energi batin sekaligus tempat cari sinyal stabil.
"Gue butuh tempat yang nggak bising-bising banget, ada colokan, dan yang penting WiFi-nya bisa nahan 3 game rank," katanya.
Yoga biasa keliling Jakarta untuk mencari 'safe zone' versi dia. Kadang di Kemang, Blok M, sesekali menyasar ke tempat tersembunyi atau hidden gem di sudut sudut kota.
Bagi Yoga dan banyak anak muda urban lainnya, bermain Mobile Legends bukan sekadar adu strategi atau hiburan. Itu juga momen untuk melambat dengan cara mereka sendiri.
"Saat main, lo cuma mikirin satu hal menangin match. Lo nggak mikir cicilan, kerjaan, drama kantor. Itu bentuk mindfulness juga," ucapnya.
Yoga memilih bermain di kafe karena merasa bisa bernapas. Di rumah kos, ruangnya terlalu sempit. Di kantor, terlalu ramai. Beda halnya di kafe, dengan pencahayaan lembut, kopi hangat, dan pemandangan orang lalu-lalang, bonusnya bisa nyambi ngadem.
Versi slow living Yoga jauh lebih digital dan kasual. Dia menyebut slow living-nya sebagai main game tanpa dikejar waktu. Yang penting segala tanggung jawab kerjaan sudah kelar.
Di tengah dunia yang menuntut produktivitas 24 jam, Dimas memilih melambat dengan duduk di kafe, menyeruput kopi, dan push rank pelan-pelan.
Bukan untuk jadi MVP dunia. Bukan demi naik level. Tapi supaya dalam satu siang di Jakarta yang kejam ini, ia bisa merasa punya kendali meski cuma atas satu match yang berjalan 10 menit.
"Tidak harus mencatat goals. Cukup duduk, main, dan tahu kapan harus diam. Gue nggak anti sosial media atau teknologi. Gue malah embrace itu. Tapi harus dikontrol. Kayak, kalau udah tiga match kalah, ya gue tutup HP, duduk, ngobrol," ungkapnya.
Nongkrong Estetik
Di sudut sebuah kafe berlangit-langit tinggi di daerah SCBD, dua perempuan muda duduk di sofa merah. Ada secangkir ice matcha, kopi susu, dan croissant almond di atas meja bundar hitam.
Cahaya matahari menyorot masuk ke kaca besar, memantulkan warna hangat ke dinding putih hitam.
Sambil menyeruput pelan dan meletakkan HP di samping, Viksa (29), Tania (29) pelan-pelan menikmati waktu.
"Slow living versi kita ya gini. Nggak harus ke Ubud atau staycation mahal. Cukup ngopi cantik, dengerin lagu chill, dan ngerumpi sama temen. Hidup jadi terasa ringan," ujar Viska.
Buat mereka, nongkrong bukan sekadar nyari tempat adem. Ini adalah jeda dari hidup cepat. Melepas penat dari pekerjaan, notifikasi Slack, drama Twitter, dan deadline Excel.
Baginya, suasana kafe yang keren estetik dengan alunan lo-fi, chill music seolah memeluk hati yang capek.
"Setiap minggu, kita cari satu kafe baru. Harus estetik, tenang, playlist-nya nggak berisik," canda Viska.
Buat mereka, obrolan intim saat di kafe terasa lebih hangat. Perbincangan jadi lebih jujur, manusiawi, dan bisa cerita tanpa tekanan.
Sementara bagi Tania, di kota seperti Jakarta yang hidup serba cepat, duduk di kafe dengan teman yang bisa diajak cerita panjang adalah bentuk slow living yang sangat mungkin dilakukan.
Tak perlu kabur ke gunung. Tak perlu meditasi di pantai. Cukup temukan sudut tenang, kopi hangat, musik lembut, dan orang-orang yang membuatmu merasa dimengerti.
"Karena di tengah macet dan jadwal yang padat, slow living itu masih bisa dicar, bahkan di antara obrolan ringan dan pose candid di depan cermin kafe," ucap Tania.
Tentu saja, sebelum pulang, sesi foto wajib dilakukan. Background kaca pemandangan Jakarta, pencahayaan natural, dan tone earthy jadi latar sempurna untuk pose candid.
Jakarta Tetap Bising, Tapi Ketenangan Bisa Dibikin
Di pojok kamar berukuran tiga kali tiga meter, Daniel (29) duduk bersila di atas karpet tipis berwarna abu. Di depannya, gitar akustik tua diletakkan hati-hati. Tak ada lampu studio dan mikrofon.
Hanya satu gelas kopi hitam yang baru diseduh dari air dispenser dan layar ponsel yang menyala dengan aplikasi YouTube terbuka. Malam di luar mungkin gaduh. Tapi di dalam kamar, dunia terasa pelan sekali.
Tangannya memetik pelan dawai gitar, mencari nada yang pas, lalu berhenti. Ia mengintip ke layar ponsel, mendengarkan ulang potongan lagu yang belum ia hafal.
Bibirnya sesekali ikut menyenandungkan baris lirik, tapi kemudian diam lagi. Seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri.
"Kadang bukan lagunya yang aku cari. Tapi ketenangan waktu menyelami lirik," kata karyawan swasta yang tinggal di bilangan Palmerah, Jakarta Selatan ini.
Bagi Daniel, momen sederhana itu adalah cara bertahan di Jakarta yang terlalu kencang. Sebuah bentuk slow living. Tak perlu pergi jauh Ubud atau pindah ke Lembang. Cukup di Jakarta dan sebuah tempat yang tenang.
Dia selalu menyeduh kopi sebelum bermain gitar. Bukan kopi dari kedai terkenal, cukup kopi sachet diseduh dengan air panas. Aroma itu menjadi semacam pengait rasa nyaman.
Daniel bukan penyanyi, bukan juga penulis lagu profesional. Ia bekerja di sebuah perusahaan digital agency, dengan jam kerja yang sering tumpang tindih dan laptop yang tak pernah benar-benar mati.
Namun setiap malam, saat semua tab pekerjaan ditutup, gitar tua itu seperti alarm yang membisikkan jeda.
"Gue nggak main medsos malam. Nggak buka notifikasi. Nggak ikut tren, tapi bisa buka lagu-lagu yang tenang aja," ucapnya.
Dalam dunia yang dipenuhi kejar-kejaran dan target, Daniel menganggap apa yang dilakukannya mungkin tampak sepele. Tapi bagi anak muda hidup di Jakarta, itu adalah bentuk perlawanan kecil. Cara untuk tetap waras.