Adakah Beda Menerapkan Slow Living di Kota Kecil dan Kota Besar? Ketahui Faktanya

Menerapkan slow living di kota kecil dan kota besar ternyata punya perbedaan signifikan. Apa saja faktor pembedanya? Simak selengkapnya di sini!

Rizky Wahyu Permana
Oleh Rizky Wahyu Permana - Reporter
Adakah Beda Menerapkan Slow Living di Kota Kecil dan Kota Besar? Ketahui Faktanya
Adakah Beda Menerapkan Slow Living di Kota Kecil dan Kota Besar? Ketahui Faktanya (Merdeka.com)

Gaya hidup slow living semakin populer sebagai respons terhadap hiruk pikuk kehidupan modern. Konsep ini mengajak kita untuk memperlambat tempo, menikmati momen, dan menghargai hal-hal sederhana. Namun, adakah perbedaan signifikan dalam menerapkan slow living di kota kecil dan kota besar? Pertanyaan ini sering muncul, mengingat kontrasnya lingkungan dan ritme kehidupan di kedua tempat tersebut. 

Di era internet yang menghubungkan segalanya, Slow Living tampak seperti paradoks. Teknologi memungkinkan kita bekerja dari mana saja, tetapi juga menciptakan tekanan untuk selalu terhubung. Penelitian dari Journal of Occupational Health Psychology menunjukkan bahwa paparan konstan terhadap notifikasi digital dapat meningkatkan stres dan mengurangi kesejahteraan. Pertanyaannya, apakah Slow Living lebih mudah diterapkan di kota kecil yang tenang, atau bisakah kota besar dengan segala keramaiannya juga menjadi tempat untuk melambat?

Winin Maulidya Saffanah, S.Pd., M.Si., sosiolog dari Universitas Insan Budi Utomo Malang, berpendapat, “Walau kehidupan sudah serba terhubung seperti sekarang, dikotomi kota besar dan kota kecil ini sayangnya masih ada. Bahkan di negara maju seperti Jepang saja, kota kecil dan desa juga mulai ditinggalkan penduduknya. Namun, di sisi lain hal ini membuat kota kecil dan pedesaan menjadi lebih layak ditinggali jika ingin melakukan Slow Living. Kualitas lingkungan yang baik serta hubungan sosial yang kuat pada masyarakat bisa jadi modal sosial yang baik dalam memperoleh kehidupan yang lebih baik jika menerapkan gaya hidup Slow Living di kota kecil atau daerah pinggiran.” Pendapat ini mencerminkan realitas global: urbanisasi terus mendorong migrasi ke kota besar, tetapi kota kecil menawarkan ketenangan yang sulit ditemukan di metropolitan.

Data dari World Bank menunjukkan bahwa lebih dari 50% populasi dunia kini tinggal di perkotaan, dengan kota-kota besar di negara berkembang seperti Jakarta menghadapi tantangan seperti kemacetan, polusi, dan biaya hidup tinggi (World Bank, 2020). Sebaliknya, kota-kota kecil di Indonesia, seperti Magelang atau Wonosobo, memiliki udara yang lebih bersih, biaya hidup yang lebih rendah, dan komunitas yang erat, yang mendukung Slow Living. Penelitian dari Frontiers in Psychology juga menunjukkan bahwa lingkungan alam, yang lebih mudah diakses di kota kecil, dapat mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan mental (Keng et al., 2011).

Ritme Kehidupan: Perbandingan Kota Besar dan Kota Kecil

Kota besar seringkali menuntut kita untuk selalu produktif dan efisien. Jadwal padat, kemacetan, dan tuntutan pekerjaan membuat sulit untuk memperlambat tempo hidup. Tekanan untuk mencapai kesuksesan material juga sangat kuat. Sebaliknya, kota kecil menawarkan ritme kehidupan yang lebih santai. Tekanan untuk selalu produktif lebih rendah, memberikan ruang untuk menikmati momen-momen sederhana.

Sebuah studi dari University of Michigan menemukan bahwa orang yang tinggal di kota besar cenderung mengalami tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tinggal di daerah pedesaan atau kota kecil. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kepadatan penduduk, polusi, dan tingkat kejahatan yang lebih tinggi. Studi tersebut juga menemukan bahwa orang yang tinggal di kota kecil cenderung memiliki kualitas tidur yang lebih baik dan merasa lebih bahagia.

Namun, bukan berarti kota besar tidak memiliki daya tarik. Kota besar menawarkan akses ke berbagai fasilitas dan kesempatan yang mungkin tidak tersedia di kota kecil, seperti pusat perbelanjaan, restoran, dan acara budaya. Kuncinya adalah menemukan keseimbangan antara tuntutan kehidupan modern dan kebutuhan untuk memperlambat tempo.

Biaya Hidup dan Fleksibilitas Finansial

Biaya hidup di kota besar cenderung lebih mahal dibandingkan kota kecil. Mulai dari tempat tinggal, transportasi, hingga kebutuhan sehari-hari, semuanya membutuhkan anggaran yang lebih besar. Hal ini dapat membatasi kemampuan seseorang untuk mengalokasikan waktu dan sumber daya untuk kegiatan yang mendukung slow living, seperti berkebun, memasak sendiri, atau menghabiskan waktu di alam.

Di sisi lain, kota kecil menawarkan biaya hidup yang lebih terjangkau. Anda bisa mendapatkan tempat tinggal yang lebih luas dengan harga yang lebih murah, mengurangi biaya transportasi dengan berjalan kaki atau bersepeda, dan membeli bahan makanan segar dari pasar lokal dengan harga yang lebih bersahabat. Fleksibilitas finansial ini memberikan Anda lebih banyak kebebasan untuk mengejar minat dan hobi yang mendukung slow living.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata pengeluaran per kapita di kota besar seperti Jakarta bisa mencapai dua kali lipat dibandingkan kota kecil seperti Yogyakarta. Perbedaan ini tentu saja memengaruhi gaya hidup dan kemampuan seseorang untuk menerapkan slow living.

Akses ke Alam dan Ruang Terbuka Hijau

Ruang terbuka hijau dan akses ke alam sangat penting untuk mendukung slow living. Alam memberikan kesempatan untuk bersantai, melepaskan stres, dan terhubung dengan lingkungan sekitar. Sayangnya, ruang hijau seringkali terbatas di kota besar. Taman kota mungkin ramai dan bising, sementara perjalanan ke alam membutuhkan waktu dan biaya.

Kota kecil, sebaliknya, seringkali menawarkan akses yang lebih mudah ke alam. Anda bisa dengan mudah menemukan taman yang tenang, hutan yang rimbun, atau pantai yang indah. Kesempatan untuk hiking, bersepeda, atau sekadar duduk di bawah pohon sambil membaca buku menjadi lebih mudah diakses.

Sebuah studi dari University of Exeter menemukan bahwa menghabiskan waktu di alam dapat menurunkan tekanan darah, mengurangi stres, dan meningkatkan suasana hati. Studi tersebut juga menemukan bahwa orang yang tinggal di dekat ruang hijau cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik.

Komunitas dan Dukungan Sosial

Komunitas yang erat dan saling mendukung dapat menjadi faktor penting dalam menerapkan slow living. Di kota kecil, Anda mungkin lebih mudah mengenal tetangga, berpartisipasi dalam kegiatan komunitas, dan membangun hubungan yang bermakna. Rasa kebersamaan ini dapat mengurangi perasaan terisolasi dan memberikan dukungan emosional yang penting.

Kota besar, dengan anonimitasnya, terkadang bisa membuat seseorang merasa terasing. Meskipun ada banyak komunitas dan kelompok minat, menemukan orang yang sefrekuensi dan membangun hubungan yang mendalam membutuhkan usaha yang lebih besar. Namun, dengan teknologi dan media sosial, Anda tetap bisa terhubung dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama di mana pun Anda berada.

Menurut sebuah survei dari Pew Research Center, orang yang memiliki hubungan sosial yang kuat cenderung lebih bahagia dan sehat. Hubungan sosial memberikan dukungan emosional, mengurangi stres, dan meningkatkan rasa memiliki.

Tantangan Slow Living di Kota Besar

Di kota besar, Slow Living sering terhambat oleh ritme hidup yang cepat dan tekanan ekonomi. Lisa, misalnya, menghabiskan dua jam setiap hari untuk perjalanan ke kantor, meninggalkan sedikit waktu untuk aktivitas seperti berkebun atau meditasi. Laporan dari United Nations Environment Programme (UNEP) menunjukkan bahwa penduduk kota besar cenderung memiliki jejak karbon lebih tinggi karena konsumsi berlebihan dan ketergantungan pada transportasi (UNEP, 2019). Selain itu, budaya “selalu terhubung” di kota besar membuat sulit untuk memutuskan hubungan dari dunia digital, yang bertentangan dengan prinsip Slow Living (Slow Living LDN, 2023).

Kepadatan penduduk juga menjadi tantangan. Di Jakarta, ruang hijau terbatas, dan taman kota sering ramai, membuat sulit untuk menemukan ketenangan. Penelitian dari Journal of Environmental Psychology menunjukkan bahwa kurangnya akses ke alam dapat meningkatkan stres dan mengurangi kesejahteraan. Selain itu, biaya hidup yang tinggi memaksa banyak penduduk kota besar untuk bekerja lebih keras, meninggalkan sedikit waktu untuk praktik Slow Living seperti memasak secara sadar atau menghabiskan waktu bersama keluarga.

Peluang Slow Living di Kota Kecil

Sebaliknya, kota kecil menawarkan lingkungan yang lebih mendukung Slow Living. Penelitian dari Social Science & Medicine menunjukkan bahwa komunitas erat di kota kecil dapat meningkatkan rasa memiliki dan kesejahteraan psikologis.

Internet juga telah memperluas peluang di kota kecil. Dengan koneksi yang semakin baik, seperti yang ditawarkan oleh penyedia seperti Starlink, penduduk kota kecil dapat mengakses pekerjaan jarak jauh atau menjalankan bisnis daring tanpa harus pindah ke kota besar. Greenpeace Southeast Asia menyoroti bahwa praktik seperti berbelanja di pasar lokal atau menggunakan energi terbarukan, yang lebih umum di kota kecil, mendukung pilar Sustainable dan Local dari Slow Living.

Di dunia yang terhubung, Slow Living tidak lagi terbatas pada lokasi geografis. Baik di Jakarta yang ramai maupun di Magelang yang tenang, Slow Living dapat diwujudkan melalui praktik seperti mindfulness, konsumsi sadar, dan membangun hubungan sosial yang bermakna. Teknologi, jika digunakan dengan bijak, dapat mendukung gaya hidup ini, seperti dengan aplikasi yang membantu meditasi atau platform yang mempromosikan produk lokal. Dengan kata lain, dikotomi Slow Living mungkin masih ada, tetapi internet memberikan jembatan untuk melambat di mana pun kita berada.

Rekomendasi