Puji Donald Trump, PM Israel Sebut Keputusan AS Serang Iran Bakal Mengubah Sejarah
Netanyahu menilai, operasi militer Amerika memiliki intensitas dan dampak yang luar biasa.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu memberikan pujian tinggi kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas serangan militer terhadap tiga fasilitas nuklir Iran. Dalam unggahan di media sosial, Netanyahu menyebut tindakan AS ini sebagai momen bersejarah yang akan mengubah arah dunia.
“Selamat, Presiden Trump. Keputusan berani Anda untuk menargetkan fasilitas nuklir Iran dengan kekuatan Amerika Serikat yang luar biasa dan benar akan mengubah sejarah,” tulis Netanyahu seperti dikutip dari The Guardian, Minggu (22/6).
Netanyahu menyebut serangan itu sebagai bagian dari Operasi Rising Lion, yang menurutnya mencerminkan aksi luar biasa baik dari Israel maupun AS. Ia menilai, operasi militer Amerika memiliki intensitas dan dampak yang luar biasa.
“Amerika telah melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh negara lain di Bumi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Netanyahu menegaskan, sejarah akan mencatat Trump sebagai pemimpin yang mencegah “rezim paling berbahaya di dunia dari memiliki senjata paling berbahaya di dunia.”
Jalan Menuju Perdamaian
Menurutnya, kepemimpinan Trump telah menciptakan momen penting dalam sejarah yang dapat membuka jalan menuju perdamaian dan kemakmuran di kawasan Timur Tengah.
“Pertama datang kekuatan, kemudian datang perdamaian. Dan malam ini, Presiden Trump dan Amerika Serikat bertindak dengan sangat kuat,” tandas Netanyahu, mengutip semboyan yang kerap ia dan Trump sampaikan "Peace through strength"
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan, AS telah melancarkan "serangan yang sangat sukses" terhadap tiga fasilitas nuklir di Iran. Pernyataan tersebut disampaikan pada Sabtu (21/6) melalui platform Truth Social di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Israel, dan negara-negara Barat di kawasan Timur Tengah.
Trump menegaskan, seluruh pesawat tempur milik AS telah meninggalkan wilayah udara Iran setelah menjalankan misi mereka.
Serangan ini terjadi setelah Israel sebelumnya meluncurkan serangan udara ke sejumlah lokasi di Iran dan disebut meminta keterlibatan militer AS dalam operasi tersebut. Beberapa target yang diserang dikabarkan merupakan bagian dari program pengembangan nuklir Iran yang selama ini menjadi sorotan komunitas internasional.
Keterlibatan langsung AS dalam operasi militer ini disebut-sebut sebagai bentuk dukungan terhadap agresi Israel. Namun, langkah ini dilakukan di tengah peringatan tegas dari Teheran agar Washington tidak ikut campur dalam konflik tersebut.
Seperti dilansir dari Antara, analis memperkirakan, tindakan ini dapat memperburuk eskalasi konflik di kawasan dan membuka kemungkinan serangan balasan dari Iran, khususnya terhadap sejumlah pangkalan militer AS yang tersebar di Timur Tengah.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam pernyataan video terbarunya, memperingatkan keterlibatan AS dalam konflik dengan Israel akan membawa "konsekuensi yang sangat berat."
Media AS juga melaporkan dalam serangan tersebut, militer Amerika Serikat menggunakan alutsista canggih seperti pesawat pengebom siluman B-2 serta rudal penghancur bunker yang mampu menghancurkan struktur bawah tanah, termasuk fasilitas nuklir.
Sementara itu, sejak 13 Juni, Israel telah melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, yang kemudian dibalas oleh Teheran melalui serangan rudal ke wilayah Tel Aviv. Aksi balasan tersebut telah menyebabkan jatuhnya korban tewas dan luka-luka di kedua pihak.