Pesan Tersembunyi di Balik Dasi Merah Trump dan Netanyahu Usai Gempur Iran
Amerika Serikat resmi bergabung dalam perang Iran-Israel. AS menyerang tiga situs nuklir Iran, Sabtu (21/6/2025) malam.
Amerika Serikat resmi bergabung dalam perang Iran-Israel. AS menyerang tiga situs nuklir Iran, Sabtu (21/6/2025) malam.
Serangan itu diumumkan langsung oleh Presiden AS, Donald Trump. Dengan mengenakan dasi berwarna merah Trump menyatakan militer AS telah sukses membombardir tiga situs nuklir Iran yang dipersoalkannya.
Tak lama setelah pernyataan Trump itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu pun menyambut baik langkah yang diambil Trump. Dengan mengenakan dasi merah, senada dengan Trump, Netanyahu menyatakan kegembiraannya melalui pernyataannya di televisi.
Meski berbeda lokasi, kedua pemimpin negara yang bersekutu kuat itu kompak mengenakan dasi berwarna merah. Dalam diplomasi internasional, warna dasi bukan hanya sekadar mode dan tak bisa dipandang biasa saja.
Di balik warna kain sekira empat inci yang menjulur dari kerah kemeja itu di leher itu memiliki makna dan simbol penting.
Kekuatan Warna
Kekuatan warna dalam politik tidak dapat diremehkan. Warna dapat memiliki pengaruh yang kuat terhadap emosi dan keputusan. Para pemimpin dunia sangat menyadari hal ini.
Mereka akan dengan cermat memilih warna dasi untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu. Dikutip dari Prime Neckwear, Senin (23/6/2025), psikologi warna menunjukkan bahwa rona warna yang berbeda membangkitkan emosi dan asosiasi yang berbeda, yang memengaruhi cara pandang seseorang.
Dalam politik, di mana citra adalah yang terpenting, pilihan warna dasi bukanlah sesuatu yang sembarangan, melainkan keputusan strategis yang bertujuan untuk memperkuat pesan atau identitas tertentu.
Makna Dasi Merah
Dalam psikologi warna, merah sering dikaitkan dengan kekuatan, agresi, keberanian, dan tekad. Di ranah politik, dasi merah adalah simbol dominasi dan kepemimpinan tegas.
"Merah adalah simbol kekuatan," kata Mark Woodman, analis tren yang mempelajari warna di Laurel, Maryland, AS, dikutip dari BBC.
"Ada sesuatu tentang warna merah yang selalu kembali ke kekuatan dan gairah," lanjutnya.
Tidak heran jika para pemimpin dunia sering mengenakannya saat menyampaikan pesan keras atau dalam kondisi krisis besar. Ketika Trump menyatakan "serangan ke Iran adalah kesuksesan spektakuler", ia tidak hanya bicara lewat kata-kata.
Dasi merahnya menjadi perpanjangan dari narasi kekuasaan dan supremasi militer Amerika Serikat. Ia seolah berkata, "Kami kuat, berkuasa, dan kami tidak takut".
Pesan senada juga disimbolkan oleh Netanyahu dengan mengenakan dasi merah saat menyambut baik langkah yang diambil Trump dalam konferensi pers di Tel Aviv.
AS Ikut Israel Serang Iran
AS akhirnya mengikuti Israel dalam perang Iran. Keterlibatan langsung dalam perang tersebut terjadi usai AS menyerang tiga situs nuklir Iran yakni yakni, Natanz, Fordow, dan Isfahan, Sabtu (21/6/2025) malam.
Presiden AS, Donald Trump mengumumkan langsung militernya menyerang tiga situs nuklir Iran. Dengan menggunakan dasi berwarna merah, Trump memuji operasi yang dilakukan militernya berjalan sukses.
Dia juga mengancam serangan ke Iran mendatang akan jauh lebih besar jika tidak ada perdamaian yang disepakati.
"Iran pengganggu Timur Tengah, sekarang harus berdamai. Jika tidak, serangan di masa mendatang akan jauh lebih besar dan lebih mudah," kata Trump.
"Jika perdamaian tidak segera terwujud, kami akan menyerang target-target lain itu dengan presisi, kecepatan, dan keterampilan, sebagian besar dari mereka dapat disingkirkan dalam hitungan menit," katanya.
Usai serangan itu, Iran langsung bereaksi. Negeri Para Mullah itu langsung membombardir Israel dengan rudal-rudalnya. Iran juga mengutus Menteri Luar Negerinya bertemu dengan sekutunya, Vladimir Putin di Rusia.