Strategi Jahat Israel Jadikan Lebanon Sebagai Gaza Kedua, Pencegahan Hidup Normal & Penghancuran Infrastruktur

Juga strategi pemindahan paksa penduduk sehingga mereka tidak dapat kembali, serta serangan oleh kedua belah pihak terhadap pasukan PBB di Lebanon.

Henni Rachma Sari
Oleh Henni Rachma Sari - Reporter
Strategi Jahat Israel Jadikan Lebanon Sebagai Gaza Kedua, Pencegahan Hidup Normal & Penghancuran Infrastruktur
Strategi Jahat Israel Jadikan Lebanon Sebagai Gaza Kedua, Pencegahan Hidup Normal & Penghancuran Infrastruktur (Merdeka.com)

Israel disebut tengah melancarkan strategi militer yang sama di Lebanon Selatan seperti di Gaza. Yakni, pencegahan kehidupan normal, penghancuran infrastruktur sipil serta pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.

Demikian dikatakn Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares. Pun ia menegaskan bahwa mereka tidak dapat mempertahankan hubungan normal dengan Uni Eropa di tengah pelanggaran hak asasi manusia yang sedang berlangsung, lapor Anadolu.

Kepada penyiar publik RTVE dikutip middleeastmonitor.com, Selasa (21/4) terkait situasi di Lebanon yang mencerminkan Gaza.

Selain itu, ada juga strategi perintah untuk pemindahan paksa penduduk sehingga mereka tidak dapat kembali, serta serangan oleh kedua belah pihak terhadap pasukan PBB di Lebanon.

Semua ini, menurut menteri, menunjukkan bahwa Israel berupaya menguasai sebagian dari negara berdaulat.

"Ini akan sangat serius bagi stabilitas Timur Tengah dan bagi keamanan Israel sendiri," Albares memperingatkan, menambahkan bahwa Israel "sedang membawa Timur Tengah menuju perang abadi."

Albares kembali mendorong agar Uni Eropa menangguhkan Perjanjian Asosiasi dengan Israel, yang akan ia perjuangkan pada pertemuan menteri luar negeri hari Selasa.

"Israel harus memahami bahwa mereka tidak dapat memiliki hubungan normal ketika hak asasi manusia dilanggar secara terang-terangan," tambahnya.

Tidak ada peran di Hormuz

Sementara itu, beralih ke konflik yang lebih luas, Albares mengatakan Spanyol tidak akan berpartisipasi dalam operasi militer apa pun di Selat Hormuz, di mana ketegangan tetap tinggi meskipun ada gencatan senjata sementara antara Iran, AS, dan Israel.

"Kami tidak akan mengambil bagian dalam operasi militer apa pun di selat tersebut," katanya, menambahkan bahwa Spanyol lebih menyukai solusi diplomatik.

Misi Multinasional

Gencatan Senjata 10 Hari Lebanon-Israel Resmi Berlaku
Asap mengepul setelah beberapa serangan udara Israel mengguncang Beirut, Lebanon, pada 8 April 2026. (Dok. AP/Hassan Ammar) © 2026 Liputan6.com

Di samping itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan Inggris dan Prancis akan memimpin misi multinasional damai dan defensif untuk melindungi selat tersebut setelah pertempuran di wilayah itu berakhir.

Jalur Selat Hormuz

Kini, Albares juga menyerukan jalur air tersebut kembali menjadi "jalur yang bebas, aman, dan terbuka untuk semua kapal tanpa diskriminasi," tetapi mengatakan mekanisme verifikasi di masa mendatang harus dipimpin oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Albares memperingatkan meningkatnya ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat dan mendesak Iran untuk berpartisipasi dalam pembicaraan perdamaian di Pakistan untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.

Rekomendasi