Presiden Suriah Ungkap Keinginannya Jalin Hubungan Diplomasi dengan Israel, Tapi Ada Syaratnya
Presiden Suriah, Ahmed al-Sharaa, menyatakan kesediaan untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.
Suriah siap menormalisasi hubungan dengan Israel dan menandatangani Perjanjian Abraham (Abraham Accord) yang difasilitasi Amerika Serikat (AS). Hal ini diungkapkan Presiden Suriah, Ahmed al-Sharaa kepada anggota Kongres AS, Cory Mills, setelah pertemuan keduanya di Damaskus pada Jumat (18/4) lalu, seperti dikutip dari Middle East Eye, Jumat (25/4).
Namun, al-Sharaa menekankan normalisasi hubungan tersebut hanya akan terjadi 'dengan syarat yang tepat'.
Mills mengatakan kepada Bloomberg, Sharaa juga telah memberinya surat untuk dibawa kembali ke Trump. Terkait Perjanjian Abraham, Sharaa mengatakan akan membuatnya lebih sejalan dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko, yang menormalisasi hubungan dengan Israel pada tahun 2020.
Namun, tidak satu pun dari negara-negara Arab tersebut yang berperang dengan Israel. Sharaa sendiri berasal dari Dataran Tinggi Golan, wilayah pegunungan strategis di Suriah yang diduduki Israel pada tahun 1967 dan kemudian dianeksasi. Setelah Assad digulingkan, pasukan Israel masuk lebih dalam ke Suriah, mengambil alih zona penyangga PBB.
Sharaa sebelumnya mengatakan ia termotivasi oleh perjuangan Palestina, namun, sejak berkuasa ia telah mengisyaratkan keinginannya untuk menindak para pejuang Palestina.
Keringanan Sanksi
Mills mengatakan kepada Bloomberg, ia berdiskusi dengan Sharaa mengenai langkah-langkah yang diperlukan agar dirinya memperoleh keringanan sanksi. Mills mengatakan kepada Sharaa, Suriah harus menghancurkan senjata kimia yang ditinggalkan oleh pemerintah Bashar al-Assad, bermitra dengan negara-negara tetangga dalam penanggulangan terorisme, dan berurusan dengan pejuang asing yang tergabung dalam Hay'at Tahrir al-Sham (HTS), kelompok bersenjata yang ia pimpin untuk menggulingkan Presiden Suriah sebelumnya, Bashar Al-Assad.
Mills juga mengatakan Sharaa harus memberikan jaminan kepada Israel.
Suriah diserang Israel sejak Assad digulingkan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mengirim tentara Israel ke Suriah untuk menduduki sebagian besar wilayah pegunungan di barat daya, sehingga tentara Israel dapat menguasai Damaskus.
Pendudukan Israel di Suriah merupakan salah satu dari sejumlah tantangan yang dihadapi Sharaa. Perekonomian Suriah sedang kacau, dengan sebagian besar penduduknya hidup dalam kemiskinan dan perkiraan biaya rekonstruksi akibat perang saudara mencapai USD400 miliar.
Sharaa bergabung dengan al-Qaeda pada awal tahun 2000-an untuk melawan invasi AS ke Irak tahun 2003. Mills, seorang pembela setia Trump, adalah seorang penembak jitu tentara di Irak selama invasi tersebut. Ia kemudian bekerja sebagai kontraktor militer. Dalam pertemuan tersebut, Mills mengatakan kepada Sharaa bahwa ia ingin berbicara "dari prajurit ke prajurit."