Perangi Iran, AS Kehilangan 11 Drone MQ-9 Reaper Senilai Rp5,57 Triliun Lebih
Drone MQ-9 Reaper adalah pesawat tanpa awak yang dirancang untuk misi pengintaian dan serangan. Drone ini mampu terbang hingga ketinggian 15.000 meter.
Amerika Serikat dilaporkan kehilangan 11 unit drone militer tipe MQ-9 Reaper dalam konflik dengan Iran. Informasi ini disampaikan oleh pejabat militer AS yang dikutip oleh CBS News pada Senin (9/3).
Menurut laporan tersebut, dua drone tambahan baru-baru ini ditembak jatuh, sehingga total drone yang hancur dalam perang tersebut mencapai 11 unit. Kerugian finansial akibat hilangnya drone-drone ini diperkirakan lebih dari USD 330 juta, atau setara dengan Rp5,57 triliun.
MQ-9 Reaper adalah pesawat tanpa awak yang digunakan oleh militer AS untuk berbagai misi, termasuk pengumpulan intelijen, pengawasan, pengintaian, serta operasi serangan presisi. Drone ini memiliki kelemahan dalam hal ketahanan, karena dirancang untuk beroperasi di lingkungan kontra-terorisme dengan pertahanan udara yang minim, bukan untuk berhadapan dengan negara yang memiliki sistem rudal canggih.
Dalam hal performa, pesawat ini mampu mencapai kecepatan maksimum sekitar 480 kilometer per jam, yang jauh lebih lambat dibandingkan pesawat tempur yang bisa melaju hingga 1.200 hingga 1.900 mil per jam.
7 Prajurit Hilang di AS
Sejak perang dimulai pada Sabtu (28/2), jumlah tentara AS yang tewas hingga Minggu (8/3) dilaporkan mencapai tujuh orang. Dalam keterangan resmi yang dirilis pada hari Senin, Kementerian Pertahanan AS, atau Pentagon, mengungkapkan bahwa prajurit ketujuh yang kehilangan nyawanya adalah Sersan Angkatan Darat Benjamin N. Pennington, seorang pria berusia 26 tahun asal Glendale, Kentucky.
Pentagon menyatakan bahwa Pennington meninggal pada hari Minggu akibat luka yang dideritanya setelah serangan Iran terhadap Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi pada 1 Maret.
Selain Pennington, enam prajurit AS lainnya yang juga tewas telah diidentifikasi pada pekan lalu. Mereka adalah Kapten Cody A. Khork, yang berusia 35 tahun; Sersan Kelas Satu Nicole M. Amor, 39 tahun; Sersan Declan J. Coady, 20 tahun; Sersan Kelas Satu Noah L. Tietjens, 42 tahun; Mayor Jeffrey R. O'Brien, 45 tahun; dan Chief Warrant Officer 3 Robert M. Marzan, 54 tahun.
Menurut informasi dari pihak militer, keenam prajurit tersebut bertugas di Komando Penopang ke-103 yang berlokasi di Des Moines, Iowa, dan mereka tewas pada 1 Maret akibat serangan yang dilakukan oleh sistem pesawat tanpa awak di Port Shuaiba, Kuwait.