Netizen Sebut Serangan India Terhadap Pakistan Sama dengan Aksi Brutal Israel di Palestina
Menurut pengguna media sosial perang Israel di Gaza memberi lampu hijau bagi serangan India terhadap Pakistan.
Media sosial dibanjiri kecaman setelah serangan India terhadap Pakistan, banyak yang menduga serangan itu didorong serangan Israel terhadap Gaza dan bungkamnya dunia. India menyerang Pakistan pada Rabu (7/5) dini hari, yang menurut Islamabad menewaskan delapan orang, termasuk seorang anak-anak berusia tujuh tahun.
Sebagai balasan, Pakistan mengklaim telah menembak jatuh lima jet tempur India. Perang kedua negara bertetangga ini dipicu serangan teror penembakan di Pahalgam, Kashmir yang dikelola India pada 22 Apri, menewaskan 26 orang. New Delhi menuding Pakistan berada di balik serangan tersebut, namun tanpa disertai bukti dan dibantah keras Islamabad.
Serangan India terhadap Pakistan ini mendorong banyak orang di dunia maya untuk menyamakan serangan Israel terhadap Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 52.000 warga Palestina, dengan klaim yang tidak terbukti mengenai “aktivitas teroris”, seperti dikutip dari Middle East Eye, Kamis (8/5).
"Ingat - tidak ada bukti apa pun, tentu saja tidak ada yang diberikan oleh India, yang menunjukkan Pakistan (atau bahkan Kashmir) terlibat dalam serangan Pahalgam," tulis jurnalis Sana Saeed dalam sebuah unggahan di X.
"Namun sekali lagi, seperti yang telah kita pelajari selama 19 bulan terakhir, bukti tidak lagi diperlukan jika Anda ingin mengebom orang."
Meskipun India telah melakukan taktik serupa di Kashmir dan Pakistan sebelum serangan yang dipimpin Hamas di Israel selatan pada 7 Oktober 2023 dan perang Israel berikutnya di Gaza, banyak warganet berpendapat Israel telah "memberi lampu hijau" kepada negara-negara seperti India untuk terlibat dalam "kekerasan global" tanpa rasa malu.
"Genosida Israel di Gaza telah memberi lampu hijau bagi kekerasan global. Jika Barat membiarkan mereka mengebom warga sipil tanpa hukuman, mengapa India, UEA, atau negara lain tidak boleh melakukan hal yang sama? Tatanan yang berdasarkan aturan selalu merupakan kebohongan... sekarang dunia melihatnya," tulis seorang netizen di X.
"Tidak ada konsekuensi = tidak ada batasan."
"Inilah yang terjadi ketika pelaku genosida seperti Israel tidak dimintai pertanggungjawaban terhadap hukum internasional. India memutuskan untuk mengabaikan semua akal sehat dan menyerang negara bersenjata nuklir, berpikir bahwa negara itu tidak akan menghadapi konsekuensi apa pun," tulis netizen lainnya.
Israel dan India
Menurut sejumlah laporan, Pakistan dan warganya mengutuk serangan di Pahalgam bulan lalu, dan terlibat dalam penyelidikan para pelaku. Pemerintah Pakistan menyerukan penyelidikan internasional yang tidak memihak atas insiden tersebut.
"Tidak seorang pun warga Pakistan yang saya lihat bersukacita atas serangan Pahalgam, semua orang mengutuknya. Namun, banyak sekali warga India di Twitter yang secara terbuka merayakan kematian seorang anak yang tidak bersalah," tulis salah satu unggahan.
"Media barat, seperti media India, membingkai serangan India sebagai respons terhadap Pahalgam," tulis jurnalis Azad Essa di X.
"India dipimpin oleh pemerintah sayap kanan Hindu yang otoriter, anti-Muslim, dan berambisi ekspansionis, yang secara militer/diplomatik mendukung genosida Israel, tidak dianggap relevan."
Warga Palestina juga menyamakan Israel dan India saat mereka menyampaikan pandangan mereka terhadap Pakistan dan Kashmir.
“India di bawah rezim fasis jelas ingin mengambil keuntungan dari dunia yang tidak dapat menghentikan genosida yang paling nyata sekalipun,” tulis Imam Palestina-Amerika, Omar Suleiman di X.
“Semoga Allah melindungi Pakistan, dan orang-orang tak berdosa di dunia yang berada di bawah kekuasaan tiran kecil dengan senjata besar.”
Namun ada juga yang berpendapat keduanya tak bisa disamakan karena Pakistan merupakan negara bersenjata nuklir.
"Pemerintah India dan kaum nasionalis Hindutva-nya jahat, tetapi Anda tidak bisa membandingkan Pakistan dengan Palestina, mengingat Pakistan memiliki senjata nuklir dengan militer yang memadai untuk membela diri, sedangkan Palestina tidak," tulis seorang pengguna media sosial.