Bikin Heboh, China buat Robot Humanoid Diklaim Bisa Hamil: Punya Rahim dan Ketuban
Bagaimana mungkin robot humanoid yang berasal dari China ini dapat dikatakan hamil?
Bayangkan sebuah robot yang tidak hanya sekadar mesin, tetapi juga mampu mengalami proses "kehamilan" selama sepuluh bulan dan melahirkan bayi hidup layaknya manusia. Konsep ini bukanlah hasil imajinasi dari film fiksi ilmiah, melainkan sebuah proyek nyata yang saat ini sedang dikembangkan di China.
Pada tanggal 8 Agustus, media sains dan teknologi Kuai Ke Zhi melakukan wawancara dengan Zhang Qifeng, PhD dari Nanyang Technological University, Singapura, yang juga merupakan CEO dari Kaiwa Technology, sebuah perusahaan rintisan yang sedang mengembangkan teknologi revolusioner ini.
Zhang menjelaskan bahwa mereka hampir menyelesaikan robot kehamilan humanoid pertama di dunia, dilengkapi dengan inkubator canggih yang terintegrasi di dalam perut robot tersebut.
Menurut Zhang, robot ini dirancang untuk menjalani kehamilan penuh dan dapat melahirkan layaknya manusia, sebagaimana dilansir oleh Odditycentral pada Jumat (15/8). Di dalam pusat robot pengganti ini terdapat rahim buatan yang berfungsi untuk memelihara embrio dalam cairan ketuban, dan memberikan nutrisi melalui tabung tali pusar.
Zhang mengklaim bahwa teknologi rahim buatan ini telah berhasil diuji coba pada hewan, dan mereka berencana untuk merilis versi humanoidnya dalam waktu satu tahun ke depan dengan harga di bawah 100.000 yuan (sekitar Rp223 juta).
"Teknologi rahim buatan telah mencapai tahap yang matang, dan saat ini perlu diterapkan di dalam perut robot agar interaksi antara manusia dan robot dapat terjadi untuk mencapai kehamilan, memungkinkan janin untuk berkembang di dalamnya," ungkap Zhang Qifeng, sebagaimana dikutip oleh Chosun Daily.
Menuai Kontroversi
Meskipun Zhang tidak menjelaskan secara rinci mengenai proses pembuahan dan penanaman embrio, berita ini dengan cepat menjadi viral di media sosial di Tiongkok. Banyak yang mengkritik langkah ini sebagai "tidak alami" dan "tidak etis" karena dianggap menghapus ikatan antara janin dan ibu kandung.
Namun, terdapat juga segelintir orang yang bersemangat melihat potensi teknologi ini sebagai solusi bagi pasangan yang menghadapi kesulitan untuk memiliki anak atau bagi mereka yang ingin mengurangi beban kehamilan pada perempuan.
"Kalau harganya hanya setengah dari gaji tahunan saya, saya akan langsung membelinya," ungkap seorang warganet.
"Saya sudah mencoba inseminasi buatan tiga kali dan semuanya gagal. Sekarang saya punya kesempatan untuk punya bayi," tulis pengguna lainnya.
Walaupun banyak yang memberikan dukungan, para ahli medis tetap menunjukkan keraguan terhadap teknologi ini. Mereka berpendapat bahwa robot tersebut sulit untuk meniru beberapa aspek penting dari kehamilan manusia, seperti sekresi hormon yang dihasilkan oleh ibu, interaksi sistem imun, dan perkembangan otak pada janin.
Menurut para ahli, pengetahuan tentang proses-proses ini masih sangat terbatas, sehingga upaya untuk mereplikasi secara artifisial menjadi hampir mustahil. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada kemajuan dalam teknologi, tantangan besar masih harus dihadapi sebelum solusi semacam ini dapat diterapkan secara luas.