Pet cloning atau pengkloningan hewan peliharaan semakin diminati di China. Dengan biaya hingga 380.000 yuan (sekitar Rp800 juta), layanan ini memungkinkan pemilik untuk menciptakan versi identik dari hewan kesayangan mereka yang telah meninggal.
Industri ini terus berkembang dan menjadi bagian dari pasar hewan peliharaan yang bernilai lebih dari 300 miliar yuan (sekitar Rp620 triliun).
Fenomena ini menarik perhatian banyak pemilik hewan, termasuk Liu Xing, seorang desainer dari Beijing. Setelah kehilangan kucingnya, ia menghabiskan sekitar 140.000 yuan (Rp280 juta) untuk mengkloningnya.
Meski harus menjalani beberapa kali percobaan, akhirnya ia mendapatkan Little Tomcat, kucing yang hampir identik dengan hewan aslinya.
“Saya tidak menyesal. Itu sepadan,” ujarnya dikutip South China Morning Post, Rabu (19/3).
Teknologi kloning mulai dikembangkan sejak 2017, ketika para ilmuwan China berhasil mengkloning anjing pertama. Sejak itu, layanan ini semakin populer, dengan perusahaan menawarkan kloning anjing dan kucing dengan harga mulai dari 150.000 hingga 380.000 yuan.
Prosesnya dimulai dengan pengambilan sampel kulit hewan, yang kemudian dikembangkan menjadi embrio dan ditanamkan ke hewan pengganti. Dalam 12 hingga 18 bulan, pemilik menerima hewan kloning yang diklaim memiliki penampilan dan karakteristik hampir sama dengan hewan aslinya.
Meski berkembang pesat, pet cloning masih menuai kontroversi. Aktivis hak-hak hewan menilai praktik ini berpotensi menyiksa hewan surrogate yang digunakan dalam proses kloning. Selain itu, beberapa pihak mempertanyakan apakah kloning benar-benar bisa menggantikan ikatan emosional antara pemilik dan hewan yang telah meninggal.
Namun, perusahaan kloning menegaskan bahwa hewan surrogate dirawat dengan baik dan sering diadopsi setelah proses selesai.
Dengan kemajuan teknologi, industri ini diperkirakan akan terus berkembang. Banyak perusahaan mulai menawarkan layanan tambahan seperti penyimpanan sel untuk kloning di masa depan. Meskipun kontroversial, pet cloning semakin diminati dan berpotensi menjadi tren global.